Ahmad al-Sharaa Presiden Suriah menggelar serangkaian pertemuan dengan para pengusaha terkemuka dari Uni Emirat Arab, Mesir, dan Turki untuk membahas peluang investasi di Suriah, khususnya dalam sektor rekonstruksi, infrastruktur, pariwisata, dan jasa keuangan pada (4/6).
Dilansir dari Syria TV, pertemuan yang berlangsung di Istana Rakyat, Damaskus, tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah Suriah dalam mempercepat pemulihan ekonomi pascakonflik serta menarik arus investasi asing yang dinilai krusial bagi pembangunan nasional.
Menurut kantor berita SANA, diskusi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peluang investasi semata, tetapi juga mencakup pembahasan mengenai fasilitas yang disiapkan pemerintah, kebijakan insentif, serta langkah-langkah strategis untuk memperkuat lingkungan bisnis di dalam negeri.
Pemerintah Suriah disebut berupaya menciptakan iklim investasi yang kompetitif dan berkelanjutan, dengan tujuan membangun kemitraan strategis bersama para investor regional dalam berbagai sektor ekonomi prioritas.
Fokus Rekonstruksi dan Kemitraan Ekonomi
Dalam pertemuan terpisah, Ahmad al-Sharaa berdiskusi dengan pengusaha asal Uni Emirat Arab, Mohammed Ibrahim Al-Shaibani, mengenai peluang keterlibatan perusahaan Emirat dalam proyek-proyek rekonstruksi di Suriah.
Pembahasan mencakup sektor pengembangan real estat, pariwisata, hingga jasa keuangan yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan seiring dengan proses pemulihan negara tersebut.
Al-Shaibani dikenal sebagai salah satu figur kunci dalam sistem investasi Dubai. Ia memegang sejumlah posisi strategis, termasuk Direktur Jenderal Pengadilan Penguasa Dubai, Direktur Pelaksana Dubai Investment Corporation, serta Ketua Dewan Direksi Dubai Islamic Bank.
Selain itu, ia juga terlibat dalam sejumlah lembaga besar seperti Dubai Holding dan Dubai Aerospace Enterprise, serta berperan dalam perumusan kebijakan fiskal di emirat tersebut. Peran strategisnya disebut turut berkontribusi dalam menjadikan Dubai sebagai pusat global di bidang keuangan dan investasi.
Dalam konteks Suriah, keterlibatan investor seperti Al-Shaibani dinilai dapat membuka jalan bagi masuknya modal besar yang dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan kembali infrastruktur dan sektor-sektor vital lainnya.
Sementara itu, dalam pertemuan dengan pengusaha Mesir Hassan Allam, pembahasan difokuskan pada peluang kerja sama di sektor konstruksi, pengembangan real estat, serta rehabilitasi infrastruktur yang rusak akibat konflik berkepanjangan.
Hassan Allam merupakan Ketua dan CEO Hassan Allam Holding, salah satu perusahaan teknik dan konstruksi tertua di kawasan yang berdiri sejak 1936. Perusahaan tersebut telah menjalankan proyek di berbagai negara dan dikenal sebagai salah satu pemain utama di sektor infrastruktur global.
Sejak memimpin perusahaan pada 2009, Allam disebut berhasil melakukan transformasi strategis yang memperluas jangkauan bisnis perusahaan ke berbagai wilayah internasional, sekaligus memperkuat posisinya sebagai mitra utama dalam proyek-proyek besar.
Pertemuan ini juga menyoroti langkah-langkah pemerintah Suriah dalam meningkatkan daya tarik pasar domestik bagi investasi berkualitas, yang diharapkan dapat mendukung proses pemulihan ekonomi secara bertahap dan berkelanjutan.
Selain fokus pada sektor konstruksi, kerja sama ini juga mencerminkan upaya untuk membangun fondasi ekonomi baru yang lebih kuat dan terintegrasi dengan jaringan ekonomi regional.
Dalam pertemuan lainnya, Presiden Ahmad al-Sharaa menerima pengusaha Turki Fatih Tamince untuk membahas peluang investasi di sektor pariwisata dan perhotelan.
Tamince merupakan pendiri dan Ketua Dewan Direksi Rixos Hotels Group, salah satu jaringan hotel internasional yang memiliki kehadiran luas di berbagai negara. Ia juga dikenal melalui proyek-proyek besar seperti “The Land of Legends” yang menggabungkan konsep pariwisata, hiburan, dan pengembangan perkotaan.
Diskusi antara kedua pihak menyoroti potensi besar sektor pariwisata Suriah yang dinilai dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi di masa mendatang, seiring dengan stabilisasi kondisi keamanan dan politik.
Pemerintah Suriah disebut tengah menyiapkan berbagai insentif untuk menarik investasi di sektor ini, termasuk pengembangan destinasi wisata baru, rehabilitasi kawasan bersejarah, serta peningkatan infrastruktur pendukung.
Selain pariwisata, pembahasan juga mencakup sektor energi, real estat, dan proyek-proyek pembangunan lainnya yang diharapkan dapat mempercepat proses rekonstruksi nasional.
Keterlibatan investor Turki dinilai memiliki nilai strategis, mengingat pengalaman negara tersebut dalam mengembangkan sektor pariwisata menjadi salah satu yang terdepan di dunia.
Secara keseluruhan, rangkaian pertemuan ini mencerminkan langkah aktif pemerintah Suriah dalam membuka kembali pintu investasi asing, sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara regional.
Upaya ini juga menunjukkan bahwa proses rekonstruksi Suriah tidak hanya bergantung pada kebijakan domestik, tetapi juga pada kemampuan membangun kemitraan internasional yang kuat dan berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, keberhasilan strategi ini akan sangat ditentukan oleh stabilitas politik, konsistensi kebijakan ekonomi, serta kepercayaan investor terhadap lingkungan bisnis di Suriah.
Dengan meningkatnya minat dari pelaku usaha regional, Damaskus berharap dapat mempercepat pemulihan ekonomi dan membangun kembali sektor-sektor vital yang menjadi fondasi pertumbuhan di masa depan. (ahmad/andalusmedia.id)