Pemimpin baru Hamas, Khalil al-Hayya, memaparkan enam prioritas utama yang akan menjadi arah kebijakan gerakan tersebut dalam pidato publik pertamanya sejak dipercaya memimpin biro politik Hamas. Penghentian serangan militer Israel di Jalur Gaza serta penarikan penuh pasukan Israel ditempatkan sebagai agenda paling mendesak.
Dilansir Middle East Monitor, Jumat (24/7/2026), pidato tersebut disampaikan ketika berbagai negara mediator masih berupaya mempertahankan gencatan senjata sekaligus mencari jalan untuk mempercepat pemulihan Jalur Gaza yang hancur akibat perang berkepanjangan.
Al-Hayya, yang menggantikan Yahya Sinwar sebagai kepala biro politik Hamas, menyampaikan pidatonya pada Rabu (22/7) melalui siaran televisi dan platform digital. Dalam pidato itu, ia menegaskan bahwa fokus utama Hamas saat ini adalah menghentikan perang secara permanen dan memastikan seluruh pasukan Israel ditarik keluar dari Jalur Gaza.
Ia juga menekankan pentingnya pelaksanaan penuh seluruh tahapan kesepakatan gencatan senjata yang telah disusun melalui proses mediasi internasional.
“Prioritas kami adalah mengakhiri agresi Israel secara menyeluruh, memastikan penarikan penuh pasukan pendudukan dari Gaza, serta memulihkan kehidupan yang bermartabat bagi rakyat Palestina,” kata Al-Hayya.
Menurutnya, negara-negara mediator harus meningkatkan tekanan agar seluruh poin kesepakatan benar-benar dijalankan tanpa penundaan. Ia menilai keberhasilan implementasi gencatan senjata menjadi syarat utama untuk menghentikan penderitaan warga sipil yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Selain menghentikan perang, Al-Hayya menempatkan pemulihan kondisi kemanusiaan sebagai prioritas berikutnya. Hamas, katanya, akan mendorong percepatan distribusi bantuan, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, serta pembangunan kembali fasilitas umum yang rusak akibat konflik.
Ia juga menegaskan penolakan terhadap segala bentuk pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza. Menurutnya, masyarakat Palestina harus tetap memiliki hak untuk tinggal dan membangun kembali kehidupan mereka di tanah sendiri.
Berdasarkan sejumlah laporan media Timur Tengah, enam prioritas yang disampaikan Al-Hayya meliputi penghentian perang dan penarikan pasukan Israel dari Gaza, pemulihan kehidupan masyarakat, percepatan rekonstruksi wilayah, penolakan terhadap pemindahan paksa warga Palestina, pembebasan tahanan Palestina, serta memperkuat persatuan nasional di antara berbagai faksi Palestina.
Baca Artikel Lainny: Blokade Houthi ke Arab Saudi Picu Kekhawatiran Baru bagi Perdagangan Global
Pernyataan tersebut menjadi sinyal arah kepemimpinan baru Hamas di tengah situasi politik yang masih penuh ketidakpastian. Beberapa pekan sebelumnya, Hamas mengumumkan pembubaran badan pemerintahan sipilnya di Gaza dan menyatakan kesiapan menyerahkan pengelolaan administrasi kepada komite teknokrat yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama negara-negara mediator.
Langkah tersebut dipandang sebagai upaya membuka ruang bagi percepatan rekonstruksi Gaza sekaligus mendorong solusi politik yang lebih luas setelah perang.
Meski demikian, jalan menuju penyelesaian konflik masih dipenuhi hambatan. Israel tetap menjadikan pelucutan senjata Hamas sebagai syarat utama untuk mengakhiri perang, sementara Hamas menolak tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa hak melakukan perlawanan tidak dapat dinegosiasikan.
Perbedaan sikap itu membuat perundingan yang dimediasi Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat belum menghasilkan kesepakatan final. Para mediator masih berupaya menjembatani berbagai tuntutan dari kedua pihak agar proses gencatan senjata dapat terus berjalan.
Di lapangan, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza masih sangat memprihatinkan. Ribuan rumah, sekolah, rumah sakit, jaringan air bersih, hingga infrastruktur penting lainnya mengalami kerusakan berat akibat perang yang berlangsung hampir tiga tahun.
Sebagian wilayah strategis Gaza juga masih berada di bawah kendali militer Israel. Kondisi tersebut membuat proses rekonstruksi berjalan lambat, sementara jutaan warga Palestina masih bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Pidato perdana Khalil al-Hayya sekaligus menjadi penegasan bahwa kepemimpinan baru Hamas akan tetap memprioritaskan penghentian perang, pemulihan Gaza, dan upaya memperkuat posisi politik Palestina di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. (haidar/andalusmedia.id)














