Ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi kembali meningkat setelah Houthi mengklaim enam kapal memutar balik pelayarannya dalam waktu 24 jam sejak mereka mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Klaim tersebut muncul di tengah memanasnya konflik Yaman yang belakangan kembali diwarnai aksi saling serang lintas perbatasan.
Menurut sumber militer Houthi yang dikutip kantor berita Saba, enam kapal disebut mengubah rute setelah menerima peringatan dari pasukan Houthi menyusul pemberlakuan larangan pelayaran menuju pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi pada Senin (20/7/2026).
Meski demikian, Houthi tidak membeberkan identitas kapal-kapal tersebut maupun lokasi pasti tempat kapal-kapal itu disebut berbalik arah. Hingga kini belum ada verifikasi independen yang menguatkan klaim tersebut.
Pengumuman blokade sebelumnya disampaikan juru bicara militer Houthi, Yahya Saree. Ia menegaskan seluruh kapal yang menuju pelabuhan Arab Saudi akan dianggap melanggar keputusan kelompok tersebut dan berpotensi menjadi sasaran tindakan militer.
Menurut Houthi, kebijakan itu merupakan respons atas apa yang mereka sebut sebagai blokade yang dilakukan Arab Saudi terhadap wilayah Yaman, terutama setelah meningkatnya ketegangan terkait serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa.
Keputusan tersebut langsung memicu reaksi dari berbagai pihak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghindari langkah-langkah yang dapat memperburuk situasi keamanan di kawasan Laut Merah.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional juga meminta dukungan masyarakat internasional untuk menghadapi ancaman Houthi yang dinilai semakin meluas.
Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, dalam pertemuan dengan Duta Besar India untuk Yaman, Suhel Ajaz Khan, mengatakan aktivitas Houthi kini tidak hanya mengancam stabilitas Yaman, tetapi juga keamanan jalur perdagangan internasional.
Menurut Al-Alimi, Laut Merah merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi, rantai pasok global, hingga aktivitas perdagangan berbagai negara.
Ia juga menuding Houthi memperluas jaringan kerja sama dengan kelompok bersenjata di kawasan Tanduk Afrika melalui penyelundupan senjata, teknologi militer, hingga dukungan terhadap aktivitas kriminal lintas negara.
Baca Artikel Lainnya: Houthi Gertak Arab Saudi, Infrastruktur Energi Terancam Digempur Rudal dan Drone
Pemerintah Arab Saudi menolak seluruh klaim yang disampaikan Houthi. Dalam pernyataan resmi usai sidang kabinet yang dipimpin Raja Salman bin Abdulaziz, Riyadh menyebut informasi mengenai kapal-kapal yang berbalik arah tidak benar.
Arab Saudi juga kembali menegaskan dukungannya kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional serta menyatakan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi keamanan pelabuhan, kapal dagang, dan wilayah perairannya sesuai hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982.
Eskalasi terbaru ini tidak terjadi begitu saja. Ketegangan meningkat setelah pasukan pemerintah Yaman menyerang Bandara Internasional Sanaa untuk mencegah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi mendarat di wilayah yang mereka kuasai.
Houthi kemudian menuding Arab Saudi berada di balik operasi tersebut dan membalas dengan meluncurkan rudal serta pesawat nirawak ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi. Rentetan aksi saling serang itu mengakhiri periode relatif tenang yang sempat berlangsung sejak gencatan senjata dimediasi PBB pada 2022.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa konflik tidak lagi sekadar menyangkut Yaman. Laut Merah merupakan jalur penting bagi perdagangan internasional dan pengiriman energi dari Timur Tengah menuju Eropa maupun Asia. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memicu kenaikan biaya logistik, menghambat distribusi barang, hingga memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Di sisi lain, hubungan erat Houthi dengan Iran juga membuat perkembangan di Yaman sulit dipisahkan dari dinamika konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Setiap eskalasi baru berpotensi menyeret lebih banyak aktor regional ke dalam konflik.
Hingga kini situasi masih terus dipantau. Belum ada tanda-tanda kedua pihak akan menurunkan tensi. Jika aksi saling ancam dan serangan terus berlanjut, kekhawatiran terhadap meluasnya konflik Yaman dan terganggunya keamanan pelayaran internasional di Laut Merah diperkirakan akan semakin besar. (haidar/andalusmedia.id)














