Eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran menempatkan “Israel” dalam posisi yang penuh perhitungan. Di satu sisi, Tel Aviv memperoleh keuntungan dari tekanan militer, ekonomi, dan diplomatik yang terus menghantam Teheran. Namun di sisi lain, pemerintah “Israel” justru dihantui kekhawatiran bahwa konflik ini akan berakhir lewat meja perundingan yang memberi Iran kesempatan membangun kembali kekuatannya.
Menurut analisis yang dimuat Yedioth Ahronoth, situasi saat ini memberi keuntungan strategis bagi “Israel” karena Iran dipaksa menguras sumber daya untuk menghadapi tekanan dari Amerika Serikat. Sanksi ekonomi tetap berjalan, aktivitas perdagangan Iran ikut terganggu, dan ruang gerak Teheran di kawasan menjadi lebih terbatas.
Meski begitu, para analis keamanan di Tel Aviv menilai ancaman terbesar bukan terletak pada perang yang sedang berlangsung, melainkan apa yang akan terjadi setelah konflik mereda. Kekhawatiran utama adalah munculnya kesepakatan baru yang memungkinkan Iran kembali memperkuat ekonomi, memperbaiki kemampuan militernya, dan melanjutkan program nuklir.
Analis militer Yedioth Ahronoth, Ronen Ben-Yishai, menyebut strategi Amerika Serikat sejauh ini memang berhasil menekan Iran. Namun tekanan tersebut belum tentu menghilangkan ancaman jangka panjang yang selama ini menjadi perhatian utama “Israel”.
Menurutnya, jika Washington memilih penyelesaian diplomatik tanpa memastikan pembatasan permanen terhadap program nuklir Iran, maka hasil akhirnya justru bisa lebih menguntungkan Teheran dibanding kondisi sebelum konflik.
Washington Masih Memegang Kendali
Sejumlah pengamat menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang menjalankan strategi yang menggabungkan operasi militer terbatas dengan tekanan diplomatik.
Serangan terhadap sejumlah target Iran dipandang bukan sebagai upaya memulai perang besar, melainkan alat untuk meningkatkan posisi tawar Washington dalam perundingan.
Pendekatan itu dipandang berbeda dengan kepentingan “Israel”. Tel Aviv menginginkan ancaman nuklir Iran benar-benar dihilangkan, sedangkan Amerika Serikat lebih berfokus menciptakan kesepakatan yang dapat mengurangi ketegangan kawasan sekaligus menjaga stabilitas jalur perdagangan energi internasional.
Karena itu, setiap perkembangan diplomatik terus dipantau secara ketat oleh pemerintah Benjamin Netanyahu.
Hubungan yang erat antara Tel Aviv dan Gedung Putih membuat koordinasi terus dilakukan agar setiap kesepakatan yang lahir tidak membuka peluang bagi Iran membangun kembali kapasitas militernya.
Israel Belum Masuk ke Medan Konflik
Meski Iran telah melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Qatar dan Oman, “Israel” hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan ikut terlibat secara langsung.
Analis militer Channel 13, Alon Ben David, mengatakan pemerintah “Israel” masih memilih menjaga kesiagaan sambil terus memantau perkembangan di lapangan.
Selama wilayah “Israel” belum menjadi sasaran langsung, Tel Aviv diperkirakan akan tetap memberikan dukungan politik dan intelijen kepada Amerika Serikat tanpa membuka front peperangan baru.
Pendekatan tersebut dinilai memberikan keuntungan karena “Israel” tetap memperoleh manfaat dari tekanan terhadap Iran tanpa harus menanggung risiko perang terbuka.
Baca Artikel Lainnya: Houthi Gempur Bandara Abha, Balas Serangan Saudi ke Bandara Sanaa
Program Nuklir Tetap Jadi Garis Merah
Meski konflik terus berkembang, perhatian utama pemerintah “Israel” tetap tertuju pada program nuklir Iran.
Laporan Channel 13 menyebut intelijen Amerika Serikat dan “Israel” kini memusatkan perhatian pada kompleks bawah tanah baru di kawasan Gunung Kapak (Jabal al-Fa’s), dekat Natanz.
Fasilitas yang dibangun jauh di bawah permukaan tanah itu diyakini memiliki tingkat perlindungan lebih tinggi dibanding fasilitas Fordow sehingga dinilai lebih sulit dihancurkan apabila sewaktu-waktu dilakukan operasi militer.
Kondisi tersebut memperkuat keyakinan Tel Aviv bahwa ancaman nuklir Iran belum benar-benar hilang.
Benjamin Netanyahu berulang kali menegaskan pemerintahannya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.
Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Pertahanan Yisrael Katz yang mengatakan operasi militer terhadap Iran dapat kembali dilakukan apabila tujuan strategis belum sepenuhnya tercapai.
Dua Faktor Penentu
Sejumlah analis menilai terdapat dua kondisi yang berpotensi membuat “Israel” ikut terjun langsung ke dalam konflik.
Pertama, apabila Iran melancarkan serangan langsung ke wilayah “Israel”.
Kedua, apabila terdapat bukti kuat bahwa Iran semakin dekat memproduksi senjata nuklir.
Selama dua kondisi tersebut belum terjadi, Tel Aviv diperkirakan akan tetap memilih berada di belakang Washington dengan memberikan dukungan intelijen, koordinasi militer, dan kerja sama diplomatik.
Bagi “Israel”, situasi saat ini memang memberikan keuntungan karena Iran terus berada di bawah tekanan. Namun keuntungan itu bisa berubah menjadi ancaman apabila konflik berakhir dengan kesepakatan yang memungkinkan Teheran bangkit lebih kuat daripada sebelumnya. (haidar/andalusmedia.id)














