Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Abha, Arab Saudi, sebagai balasan atas serangan udara yang menghantam Bandara Internasional Sanaa. Aksi saling serang ini menjadi eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir dan memunculkan kekhawatiran bahwa Yaman kembali memasuki babak baru konflik bersenjata.
Menurut laporan Al Jazeera dan Associated Press, serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa terjadi ketika sebuah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi bersiap mendarat di ibu kota Yaman. Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menyatakan tindakan tersebut dilakukan untuk mencegah penerbangan yang dianggap tidak memenuhi ketentuan penerbangan sipil yang berlaku.
Tak lama setelah insiden itu, Houthi mengumumkan operasi balasan dengan meluncurkan rudal balistik dan drone ke Bandara Internasional Abha di wilayah selatan Arab Saudi.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompoknya tidak akan membiarkan serangan terhadap Bandara Sanaa tanpa balasan.
“Serangan terhadap Bandara Sanaa merupakan agresi terang-terangan dan fase deeskalasi telah berakhir. Arab Saudi harus menanggung konsekuensi dari tindakan ini,” ujar Yahya Saree.
Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap Houthi setelah beberapa tahun relatif menahan diri sejak gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai berlaku pada 2022.
Di pihak lain, pemerintah Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat seluruh rudal yang ditembakkan Houthi sebelum mencapai sasaran.
Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi, Turki al-Malki, mengatakan seluruh proyektil yang diarahkan ke wilayah selatan Arab Saudi berhasil dihancurkan di udara sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan besar.
Menurut Riyadh, kesiapan sistem pertahanan udara menjadi faktor utama yang menggagalkan serangan tersebut.
Meski demikian, insiden ini menjadi salah satu bentrokan lintas perbatasan paling serius sejak gencatan senjata diberlakukan empat tahun lalu.
Bandara Abha sebelumnya memang beberapa kali menjadi target serangan Houthi selama perang Yaman. Namun, frekuensi serangan menurun drastis setelah upaya perdamaian mulai menunjukkan perkembangan positif.
Ketegangan terbaru tidak hanya dipicu oleh serangan udara, tetapi juga sengketa mengenai penerbangan Iran menuju Sanaa.
Pemerintah Yaman menuduh Teheran memanfaatkan jalur penerbangan tersebut untuk memperkuat hubungan dengan Houthi sekaligus meningkatkan pengaruhnya di wilayah yang dikuasai kelompok itu.
Baca Artikel Lainnya: Arab Saudi-Houthi Kembali Saling Serang, Yaman Terancam Masuk Babak Baru Konflik
Wakil Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Abdullah al-Alimi, menegaskan bahwa penerbangan tersebut melanggar aturan yang berlaku.
“Penerbangan-penerbangan ini merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Yaman dan digunakan untuk mendukung kelompok Houthi,” katanya.
Di sisi lain, Houthi membantah tuduhan tersebut dan menyebut penerbangan Iran merupakan bagian dari aktivitas sipil yang sah. Kelompok itu juga menilai serangan terhadap Bandara Sanaa sebagai pelanggaran terhadap fasilitas sipil yang tidak dapat dibenarkan.
Para pengamat menilai insiden ini berpotensi menggagalkan proses perdamaian yang selama beberapa tahun terakhir terus diupayakan melalui mediasi regional dan internasional.
Hubungan Arab Saudi dan Houthi sebenarnya menunjukkan tanda-tanda membaik setelah Riyadh membuka jalur dialog langsung dengan kelompok tersebut. Namun, perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa situasi keamanan di Yaman masih sangat rapuh.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pun menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan dan menyerukan semua pihak agar menahan diri demi mencegah konflik meluas.
Dewan Keamanan PBB dilaporkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas situasi terbaru di Yaman serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan.
Selain mengancam proses perdamaian, eskalasi ini juga dikhawatirkan memengaruhi keamanan jalur pelayaran internasional di Laut Merah yang selama ini menjadi salah satu titik strategis perdagangan dunia.
Dalam beberapa bulan terakhir, Houthi juga terus melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina di tengah perang Gaza.
Jika aksi saling serang antara Arab Saudi dan Houthi terus berlanjut, para analis memperingatkan Yaman berisiko kembali terjerumus ke perang berskala besar. Kondisi itu diperkirakan akan memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade dan menghambat berbagai upaya rekonstruksi di negara tersebut. (haidar/andalusmedia.id)














