Ribuan pelayat Syiah dari berbagai wilayah Kashmir memadati jalan-jalan utama Kota Srinagar pada Rabu (24/6/2026) untuk mengikuti prosesi tradisional 8 Muharram. Kegiatan yang berlangsung di bawah pengamanan ketat tersebut menjadi salah satu rangkaian penting menjelang peringatan Asyura yang diperingati umat Islam setiap 10 Muharram.
Prosesi tahun ini memiliki makna khusus karena menjadi tahun keempat berturut-turut pemerintah mengizinkan penggunaan kembali rute tradisional Guru Bazar–Dalgate yang sempat ditutup selama lebih dari tiga dekade akibat situasi keamanan di wilayah Kashmir.
Sejak pagi hari, ribuan pria dan wanita mulai berkumpul di kawasan Guru Bazar sebelum bergerak menuju Dalgate melalui Jahangir Chowk dan Jalan Maulana Azad. Para peserta membawa panji-panji keagamaan berwarna hitam dan hijau sambil melantunkan marsiya serta noha, syair duka yang mengenang kesyahidan Imam Husain bin Ali dalam tragedi Karbala pada tahun 680 M.
Mayoritas pelayat mengenakan pakaian hitam sebagai simbol kesedihan dan penghormatan terhadap pengorbanan cucu Rasulullah ﷺ tersebut. Suasana haru terlihat sepanjang jalur prosesi, sementara sejumlah peserta tampak meneteskan air mata ketika lantunan ratapan dibacakan.
Bagi masyarakat Syiah Kashmir, prosesi 8 Muharram bukan sekadar ritual tahunan. Kegiatan ini juga menjadi simbol identitas keagamaan dan bagian dari warisan sejarah yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Salah seorang peserta dari Srinagar mengatakan bahwa kembalinya prosesi ke jalur tradisional memiliki makna emosional yang sangat besar bagi masyarakat setempat.
“Kami telah menunggu bertahun-tahun untuk melihat prosesi ini kembali ke rute tradisionalnya. Berpartisipasi di dalamnya bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga hubungan emosional dengan sejarah dan warisan kami,” ujarnya.
Peserta lainnya menilai tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa pesan Karbala masih hidup dan relevan hingga saat ini.
Menurutnya, Imam Husain tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah Islam, tetapi juga simbol perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan.
“Prosesi ini membawa pesan pengorbanan, kebenaran, dan perlawanan terhadap penindasan. Kami bersyukur dapat melaksanakannya dengan damai di rute bersejarah ini,” katanya.
Sementara itu, seorang pelayat bernama Mubashir Hassan menggambarkan suasana prosesi sebagai momentum yang mempererat persatuan umat.
Ia mengatakan masyarakat datang dari berbagai daerah di Kashmir untuk mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kerja sama antara sukarelawan, panitia, dan aparat keamanan membuat seluruh rangkaian acara berlangsung tertib.
Baca Artikel Lainnya: Muharram Bergema di Kashmir, Karbala, dan Herat, Kabul Terapkan Pembatasan Baru
“Orang-orang datang dari berbagai penjuru Kashmir. Pengaturan yang dilakukan para sukarelawan dan pihak berwenang membantu seluruh kegiatan berjalan lancar,” ujarnya.
Di sepanjang rute prosesi, warga terlihat berdiri di pinggir jalan untuk menyaksikan jalannya acara. Berbagai kelompok sukarelawan juga membuka pos pelayanan bagi para pelayat dengan menyediakan air minum, makanan ringan, hingga layanan kesehatan dasar.
Suasana solidaritas tampak kuat ketika warga secara sukarela membantu para peserta yang kelelahan akibat cuaca dan padatnya kerumunan.
Untuk menjamin keamanan, aparat menerapkan pengamanan berlapis di seluruh jalur prosesi. Polisi Srinagar bersama pasukan kepolisian bersenjata pusat dan petugas lalu lintas dikerahkan dalam jumlah besar.
Selain itu, teknologi pengawasan drone digunakan untuk memantau situasi dari udara. Sejumlah ruas jalan juga ditutup sementara dan arus kendaraan dialihkan guna memberikan ruang yang cukup bagi para pelayat.
Kepala Kepolisian Srinagar, Sundeep Chakravarthy, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai persiapan guna memastikan prosesi berlangsung aman dan tertib.
“Satu-satunya tujuan kami adalah memastikan prosesi berlangsung dengan damai dan bermartabat. Untuk itu kami membutuhkan kerja sama masyarakat bersama kepolisian dan administrasi sipil,” katanya.
Prosesi Guru Bazar–Dalgate sendiri merupakan salah satu tradisi Muharram paling bersejarah di Kashmir. Rute tersebut dihentikan sejak awal 1990-an ketika wilayah itu mengalami peningkatan konflik dan aktivitas militan.
Setelah lebih dari 30 tahun, pemerintah akhirnya kembali mengizinkan penggunaan rute tersebut pada 2023. Sejak saat itu, prosesi Muharram di Srinagar kembali menjadi simbol kebangkitan tradisi keagamaan yang telah lama dirindukan masyarakat Syiah Kashmir. (haidar/andalusmedia.id)














