Pemerintah Suriah terus meningkatkan operasi keamanan untuk memburu sisa-sisa jaringan ISIS yang masih aktif di berbagai wilayah negara tersebut. Dalam laporan terbaru yang diumumkan Kementerian Dalam Negeri Suriah, aparat keamanan berhasil menangkap 235 anggota ISIS sepanjang tiga bulan terakhir, sekaligus membongkar sejumlah sel yang diduga merencanakan serangan di berbagai provinsi.
Dilansir dari Enab Baladi, Kementerian Dalam Negeri Suriah pada Senin (8/6/2026) mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil operasi gabungan yang dilakukan oleh Direktorat Intelijen Umum dan Departemen Kontra-Terorisme dalam periode Maret hingga Mei 2026.
Pemerintah menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mencegah kebangkitan kembali kelompok ISIS yang meskipun telah kehilangan wilayah kekuasaannya sejak beberapa tahun lalu, masih mempertahankan aktivitas melalui jaringan sel-sel rahasia.
Ratusan Anggota ISIS Ditangkap di Berbagai Wilayah
Menurut data resmi yang dipublikasikan Kementerian Dalam Negeri, jumlah penangkapan mencapai 80 orang pada Maret, meningkat menjadi 99 orang pada April, dan 56 orang pada Mei.
Dari total tersebut, sebagian besar penangkapan terjadi di wilayah yang selama ini dikenal sebagai area aktivitas kelompok tersebut, terutama di Suriah timur dan utara. Sebanyak 71 orang ditangkap di Deir ez-Zor, sementara 35 lainnya diamankan di Aleppo.
Pemerintah tidak merinci lokasi penangkapan anggota lainnya. Namun, data yang dirilis menunjukkan bahwa dari keseluruhan tersangka yang diamankan, 198 orang merupakan warga negara Suriah, sedangkan 37 lainnya adalah warga negara asing.
Kementerian juga mengungkapkan bahwa aparat berhasil membongkar tujuh sel ISIS yang beroperasi di berbagai wilayah. Sel-sel tersebut tersebar di Damaskus, Deir ez-Zor, Aleppo, Hama, dan Homs.
Selain penangkapan, aparat keamanan mengklaim telah menggagalkan tujuh rencana operasi teror yang sedang dipersiapkan kelompok tersebut.
Senjata dan Bahan Peledak Disita
Operasi yang berlangsung selama tiga bulan itu tidak hanya menghasilkan penangkapan anggota jaringan ISIS, tetapi juga penyitaan berbagai perlengkapan yang diduga digunakan untuk aktivitas teror.
Dalam keterangannya, Kementerian Dalam Negeri menyebut aparat berhasil menyita:
- 25 pucuk senjata,
- 6 kendaraan,
- 22 bahan peledak,
- serta 67 perangkat elektronik.
Peralatan tersebut diyakini digunakan untuk mendukung aktivitas kelompok, mulai dari komunikasi antaranggota hingga persiapan operasi bersenjata.
Penyitaan ini dinilai penting karena menunjukkan bahwa meskipun ISIS telah kehilangan basis wilayahnya, kelompok tersebut masih berusaha mempertahankan kemampuan operasional melalui jaringan bawah tanah yang tersebar di sejumlah daerah.
Operasi Terbaru di Pedesaan Aleppo
Salah satu operasi yang mendapat perhatian adalah penangkapan dua tersangka anggota ISIS di kawasan al-Safira, pedesaan Aleppo, pada 16 April lalu.
Kementerian Dalam Negeri mengidentifikasi keduanya sebagai Mahmoud al-Abdullah dan Jumaa al-Ahmad.
Menurut hasil penyelidikan, kedua tersangka diduga terlibat dalam sejumlah serangan sebelumnya yang menargetkan personel keamanan dan militer pemerintah. Mereka juga dituduh terlibat dalam pembunuhan warga sipil di beberapa wilayah.
Dalam operasi tersebut, aparat turut menyita sejumlah senjata, amunisi, dan perlengkapan tempur yang disebut digunakan untuk melaksanakan serangan terhadap pasukan pemerintah maupun warga sipil.
Penangkapan ini menjadi bagian dari rangkaian operasi yang dilakukan secara berkala oleh pemerintah Suriah dalam beberapa bulan terakhir untuk memutus jaringan ISIS yang masih tersisa.
ISIS Beralih ke Strategi Sel Rahasia
Meski tidak lagi menguasai wilayah seperti pada puncak kekuatannya beberapa tahun lalu, ISIS masih mampu mempertahankan eksistensinya melalui perubahan strategi.
Peneliti kelompok Islamis, Ahmed Abazeid, menjelaskan bahwa sejak kehilangan benteng terakhirnya di Baghouz pada tahun 2019, organisasi tersebut telah meninggalkan model pemerintahan teritorial dan beralih menjadi jaringan sel-sel kecil yang bergerak secara tersembunyi.
Menurut Abazeid, struktur baru ini memungkinkan ISIS tetap beroperasi tanpa harus menguasai wilayah tertentu.
“Kelompok ini kini bekerja melalui unit-unit kecil yang tersembunyi, namun tetap mempertahankan struktur organisasi dan sistem keamanan internal yang ketat,” jelasnya dalam wawancara sebelumnya dengan Enab Baladi.
Ia menambahkan bahwa setelah perubahan politik besar di Suriah, strategi dasar ISIS tidak banyak berubah. Namun, kelompok tersebut berupaya memperluas area aktivitasnya sambil menghadapi tekanan keamanan yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Ancaman Masih Belum Berakhir
Meskipun pemerintah Suriah mengklaim berhasil menekan aktivitas ISIS melalui operasi keamanan yang intensif, sejumlah pengamat menilai ancaman kelompok tersebut belum sepenuhnya berakhir.
Keberadaan sel-sel tidur, kondisi geografis yang luas di beberapa wilayah gurun, serta jaringan lintas batas masih menjadi tantangan bagi aparat keamanan.
Di sisi lain, keberhasilan penangkapan ratusan anggota ISIS dalam waktu tiga bulan menunjukkan bahwa pemerintah Suriah kini berupaya memperkuat kontrol keamanan pasca berakhirnya fase utama konflik bersenjata di negara tersebut.
Operasi-operasi yang dilakukan dalam beberapa bulan terakhir juga menjadi indikator bahwa perang melawan terorisme di Suriah belum sepenuhnya usai. Meskipun ISIS tidak lagi menguasai kota-kota besar, pemerintah tetap menghadapi tantangan untuk mencegah kelompok itu membangun kembali kekuatannya melalui jaringan bawah tanah yang masih aktif di sejumlah wilayah. (ahmad/andalusmedia.id)














