Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan Juli 2026 menjadi bulan paling mematikan di Jalur Gaza sejak awal tahun. Lebih dari 150 warga Palestina dilaporkan gugur akibat serangan “Israel”, sementara kondisi kemanusiaan terus memburuk di tengah berlanjutnya operasi militer.
Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Farhan Haq, mengatakan dalam konferensi pers di New York pada Senin (3/8/2026) bahwa serangan udara, tembakan artileri, dan operasi militer “Israel” terus berlangsung hingga akhir pekan.
Menurut Haq, korban jiwa terus bertambah dari kalangan warga sipil, termasuk anak-anak. Sebagian besar serangan menghantam wilayah barat Jalur Gaza, yang kini menjadi tempat berlindung mayoritas dari sekitar 2,1 juta penduduk.
PBB mencatat lebih dari 150 warga Palestina gugur sepanjang Juli 2026, menjadikannya jumlah korban bulanan tertinggi sejak awal tahun.
Dalam laporan terpisah, Haq juga mengungkapkan bahwa serangan udara “Israel” merusak gudang penyimpanan perlengkapan medis di dekat Rumah Sakit Al-Aqsa.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sebagian bangunan rumah sakit mengalami kerusakan, sementara pasokan medis penting yang baru tiba turut hangus akibat serangan tersebut.
Baca Artikel Lainnya: Board of Peace Tegaskan Pelucutan Senjata Gaza, ‘Israel’ Tolak Tarik Pasukan Sebelum Hamas Dilucuti
PBB kembali mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap fasilitas kesehatan sesuai hukum humaniter internasional. Organisasi dunia itu juga memperingatkan bahwa krisis pendanaan yang terus berlangsung semakin memperburuk kekurangan obat-obatan, peralatan medis, serta kebutuhan layanan kesehatan dasar di Gaza.
Selain itu, pengiriman tambahan perlengkapan untuk pencegahan dan pengendalian infeksi dilaporkan masih tertunda karena belum memperoleh izin dari otoritas “Israel”.
Lonjakan korban terjadi ketika operasi militer “Israel” meningkat dalam beberapa hari terakhir. PBB mencatat sedikitnya 26 warga Palestina kembali gugur sepanjang akhir pekan, meski berbagai upaya diplomatik untuk mendorong peta jalan perdamaian masih terus berlangsung.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza belum memperlihatkan tanda-tanda mereda. Di tengah meningkatnya jumlah korban sipil dan rusaknya infrastruktur kesehatan, lembaga-lembaga internasional kembali menyerukan perlindungan bagi warga sipil serta pembukaan akses kemanusiaan yang lebih luas ke wilayah tersebut. (haidar/andalusmedia.id)














