Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang baru saja tercapai ternyata tidak serta-merta meredakan kekhawatiran sebagian kalangan di Israel. Di tengah optimisme sejumlah pihak terhadap berakhirnya ketegangan Washington-Teheran, Menteri Urusan Diaspora Israel, Amichai Shekli, justru memperingatkan kemungkinan munculnya konflik baru yang melibatkan Suriah.
Dilansir dari Syria TV pada Kamis (18/6/2026), Shekli menilai ancaman terhadap keamanan Israel kini tidak lagi hanya berasal dari Iran. Menurutnya, Suriah dan Turki berpotensi menjadi tantangan yang lebih besar bagi Tel Aviv pada masa mendatang.
Dalam wawancara dengan Radio 103 FM Maariv, Shekli menyatakan bahwa cepat atau lambat Israel dapat menghadapi konfrontasi dengan Suriah. Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah Iran dan Amerika Serikat mengumumkan tercapainya nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik antara kedua negara.
“Cepat atau lambat kita akan berperang melawan Suriah, karena Suriah dan Turki menimbulkan ancaman yang jauh lebih besar daripada Iran,” ujar Shekli.
Pernyataan itu langsung menarik perhatian karena disampaikan saat kawasan Timur Tengah sedang memasuki fase baru pasca kesepakatan damai AS-Iran. Banyak pengamat sebelumnya memperkirakan berkurangnya ketegangan antara Washington dan Teheran akan membantu menurunkan risiko konflik regional.
Namun, komentar Shekli menunjukkan bahwa sebagian elite politik Israel masih melihat adanya ancaman keamanan dari aktor-aktor lain di kawasan.
Kesepakatan Damai AS-Iran Ubah Peta Politik Timur Tengah
Sebelumnya, pemerintah Iran mengumumkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menandatangani secara elektronik nota kesepahaman yang menjadi dasar penyelesaian konflik antara kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, juga mengonfirmasi bahwa dokumen tersebut telah memasuki tahap penandatanganan resmi oleh kedua pemimpin.
Kesepakatan damai AS-Iran ini dinilai sebagai salah satu perkembangan geopolitik terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Selain membuka peluang normalisasi hubungan kedua negara, perjanjian tersebut juga diperkirakan akan memengaruhi keseimbangan kekuatan regional.
Bagi sebagian kalangan di Israel, perubahan tersebut justru menimbulkan kekhawatiran baru. Mereka menilai berkurangnya tekanan terhadap Iran dapat membuka ruang bagi munculnya konfigurasi politik baru yang melibatkan sejumlah negara regional.
Israel Khawatir Muncul Poros Baru Regional
Sehari sebelum pernyataannya mengenai Suriah, Shekli juga menyampaikan kekhawatiran terhadap negara-negara yang berperan sebagai mediator dalam proses diplomasi antara Washington dan Teheran.
Menurutnya, Qatar, Turki, dan Pakistan memiliki kontribusi penting dalam mendorong tercapainya kesepakatan tersebut. Ia bahkan menyebut perkembangan itu sebagai kemunculan poros baru yang berpotensi mengubah dinamika kawasan.
“Apa yang kita saksikan saat ini adalah munculnya poros baru,” kata Shekli.
Ia menilai meningkatnya pengaruh negara-negara tersebut dapat menjadi tantangan strategis bagi Israel dalam jangka panjang. Kekhawatiran itu tidak hanya berkaitan dengan pemulihan ekonomi Iran setelah berakhirnya konflik, tetapi juga mengenai arah kerja sama politik dan keamanan yang mungkin terbentuk di kawasan.
Baca Artikel Lainnya: Suriah Gandeng ConocoPhillips dan Novaterra, Produksi Gas Nasional Ditargetkan Melonjak
Amerika Serikat Dorong Dialog Suriah-Israel
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap hubungan Suriah dan Israel, laporan media Israel menyebut Amerika Serikat tengah berupaya menghidupkan kembali jalur dialog antara kedua negara.
Menurut laporan yang dikutip Syria TV, Washington mendorong pembicaraan langsung antara Damaskus dan Tel Aviv setelah beberapa bulan mengalami stagnasi. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan pasca kesepakatan damai AS-Iran.
Meski demikian, belum ada rincian resmi mengenai waktu maupun format dialog yang akan dilakukan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga sempat menyatakan bahwa Suriah dapat memainkan peran dalam menghadapi Hizbullah di Lebanon. Namun gagasan tersebut langsung ditolak oleh pemerintah Suriah.
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki rencana melakukan intervensi militer di Lebanon ataupun terlibat dalam konflik melawan Hizbullah.
Sikap Damaskus itu menunjukkan bahwa Suriah saat ini lebih fokus pada agenda pemulihan domestik dan pembangunan pascaperang dibandingkan keterlibatan dalam konflik regional baru.
Masa Depan Hubungan Suriah-Israel Masih Penuh Ketidakpastian
Meskipun kesepakatan damai AS-Iran membuka harapan baru bagi stabilitas Timur Tengah, pernyataan pejabat Israel mengenai kemungkinan konflik dengan Suriah memperlihatkan bahwa ketegangan geopolitik belum sepenuhnya berakhir.
Hubungan Suriah-Israel masih dibayangi berbagai persoalan lama, mulai dari sengketa wilayah, isu keamanan perbatasan, hingga dinamika kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Dengan Amerika Serikat yang terus mendorong jalur diplomasi, masa depan hubungan kedua negara akan sangat bergantung pada kemampuan para pihak mengelola perbedaan kepentingan tanpa terjebak dalam konfrontasi militer baru. (haidar/andalusmedia.id)














