Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan yang menarik perhatian terkait dinamika konflik di Timur Tengah. Kali ini, Trump menyarankan Israel untuk membiarkan Suriah mengambil peran dalam menghadapi Hizbullah di Lebanon. Menurutnya, pemerintah Suriah saat ini memiliki kapasitas yang lebih baik untuk menangani situasi tersebut tanpa memperluas konflik regional.
Pernyataan Trump disampaikan saat berbicara kepada wartawan dalam agenda internasional yang berlangsung di Prancis. Dilansir dari Anadolu Agency pada 16 Juni 2026, Trump secara terbuka memuji kepemimpinan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa yang dinilainya berhasil membawa perubahan signifikan di negara yang selama bertahun-tahun dilanda perang.
Trump mengatakan bahwa pemerintahan baru Suriah telah menunjukkan kemampuan dalam menyatukan berbagai kelompok dan menjaga stabilitas negara pasca konflik. Ia bahkan menyebut Ahmed al-Sharaa sebagai sosok yang bertanggung jawab dalam memimpin Suriah menuju fase baru.
Menurut Trump, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan sejumlah negara regional, termasuk Turki. Ia menilai kerja sama yang dibangun Suriah dengan berbagai pihak telah menghasilkan perkembangan yang cukup positif dalam menjaga stabilitas kawasan.
Trump Kritik Operasi Militer Israel di Lebanon
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyampaikan kritik terhadap langkah militer Israel yang terus melakukan operasi di wilayah Lebanon Selatan dan sejumlah kawasan yang diduga menjadi basis Hizbullah.
Menurut Trump, operasi militer yang berlangsung selama berbulan-bulan itu berisiko memperburuk kondisi kemanusiaan dan meningkatkan jumlah korban sipil. Ia menilai pendekatan militer semata tidak akan mampu menyelesaikan masalah secara menyeluruh.
Karena itu, Trump mengaku telah menyampaikan pandangannya kepada pemerintah Israel agar memberikan kesempatan kepada Suriah untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadapi Hizbullah.
“Saya menyarankan kepada Israel untuk membiarkan Suriah menangani Hizbullah karena saya pikir mereka bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah yang dalam beberapa bulan terakhir kembali memanas setelah serangkaian serangan lintas perbatasan.
Ahmed al-Sharaa Dipuji Trump
Trump secara khusus memberikan apresiasi terhadap Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa. Ia menyebut pemimpin Suriah itu berhasil menciptakan stabilitas yang sebelumnya sulit diwujudkan setelah lebih dari satu dekade konflik.
Menurut Trump, al-Sharaa bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan sejumlah pemimpin lainnya telah memainkan peran penting dalam menyatukan berbagai elemen di Suriah.
Pujian tersebut menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam hubungan antara Washington dan Damaskus. Dalam beberapa tahun terakhir, komunikasi kedua negara memang dilaporkan semakin intens, terutama terkait isu keamanan kawasan, pemulihan ekonomi Suriah, dan upaya menjaga stabilitas regional.
Baca Artikel Lainnya: PBB Menuntut Pertanggungjawaban Assad dan Pejabatnya Jadi Langkah Penting Menuju Keadilan di Suriah
Suriah Tetap Tolak Intervensi di Lebanon
Meski mendapat dukungan dari Trump, pemerintah Suriah sebelumnya telah menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk melakukan intervensi militer di Lebanon.
Presiden Ahmed al-Sharaa bahkan secara terbuka membantah berbagai laporan yang menyebut Suriah akan terlibat dalam operasi keamanan terhadap Hizbullah di wilayah Lebanon.
Menurut al-Sharaa, informasi mengenai rencana intervensi Suriah tidak lebih dari sekadar rumor yang tidak memiliki dasar resmi. Pemerintah Suriah menegaskan fokus utama mereka saat ini adalah pemulihan ekonomi, pembangunan kembali infrastruktur, dan menjaga stabilitas dalam negeri.
Sikap tersebut juga diperkuat oleh sejumlah sumber diplomatik Lebanon yang menyebut Damaskus telah menolak berbagai usulan terkait keterlibatan langsung Suriah dalam konflik yang terjadi di Lebanon.
Timur Tengah Masih Hadapi Ketidakpastian
Pernyataan terbaru Trump kembali memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai cara menghadapi Hizbullah dan menjaga stabilitas kawasan.
Di satu sisi, Israel masih mengandalkan pendekatan militer untuk menghadapi ancaman keamanan di perbatasannya. Namun di sisi lain, Trump tampaknya melihat peluang bagi Suriah untuk memainkan peran politik dan keamanan yang lebih besar di kawasan.
Dengan konflik Israel-Hizbullah yang masih berlangsung dan berbagai dinamika geopolitik yang terus berkembang, perhatian dunia kini tertuju pada langkah berikutnya yang akan diambil oleh Israel, Suriah, dan Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas Timur Tengah. (haidar/andalusmedia.id)














