‘Israel’ disebut telah menghentikan upaya menghalangi pengoperasian sistem navigasi udara modern di Bandara Internasional Damaskus dan Bandara Internasional Aleppo, setelah sebelumnya keberatan terhadap penerbangan kalibrasi yang diperlukan untuk mengaktifkan sistem tersebut.
Informasi tersebut dilaporkan Middle East Eye (MEE) dengan mengutip pejabat dan diplomat regional. Menurut laporan itu, sistem navigasi udara di kedua bandara telah terpasang selama lebih dari enam bulan, tetapi belum dapat dioperasikan sepenuhnya karena penerbangan kalibrasi menghadapi keberatan dari pihak ‘Israel’.
Perkembangan tersebut berlangsung ketika Otoritas Umum Penerbangan Sipil dan Transportasi Udara Suriah mengumumkan dimulainya proses kalibrasi dan uji terbang peralatan navigasi udara modern di Bandara Internasional Damaskus.
Langkah tersebut merupakan bagian dari rencana untuk meningkatkan kesiapan sistem navigasi di bandara Damaskus dan Aleppo serta mendukung pengoperasian penerbangan pada berbagai kondisi.
Uji Sistem Navigasi di Bandara Damaskus
Peralatan yang menjalani pengujian mencakup Instrument Landing System (ILS/DME), sistem yang membantu proses pendekatan dan pendaratan pesawat.
Sistem tersebut memiliki peran penting terutama dalam penerbangan malam hari serta ketika jarak pandang berkurang akibat kabut atau kondisi cuaca buruk.
Selain ILS/DME, otoritas penerbangan Suriah juga menguji sistem DVOR/DME yang digunakan untuk membantu navigasi udara serta menentukan arah dan jarak.
Penyelesaian proses kalibrasi dinilai menjadi salah satu tahapan penting sebelum sistem navigasi dapat digunakan secara penuh.
Otoritas penerbangan Suriah menyatakan pekerjaan kalibrasi di Bandara Internasional Damaskus diperkirakan berlangsung sekitar empat hari. Setelah itu, pesawat khusus akan diterbangkan menuju Bandara Internasional Aleppo untuk melakukan pengujian dan kalibrasi sistem navigasi di bandara tersebut.
Sebelumnya Ada Ancaman terhadap Pesawat Kalibrasi
Menurut laporan MEE, pengoperasian sistem navigasi membutuhkan penerbangan kalibrasi dalam radius sekitar 50 kilometer dari Bandara Damaskus.
Seorang pejabat senior regional yang dikutip MEE mengatakan pihak ‘Israel’ sebelumnya mengancam akan menembak jatuh pesawat kecil yang digunakan untuk melakukan penerbangan kalibrasi.
Akibatnya, meskipun perangkat navigasi telah terpasang dan siap digunakan selama lebih dari enam bulan, otoritas Suriah tidak dapat mengaktifkannya.
Laporan tersebut juga menyebut perubahan kondisi geografis di sekitar Damaskus. Jarak antara perbatasan ‘Israel’ dan ibu kota Suriah yang sebelumnya sekitar 60 kilometer disebut berkurang menjadi sekitar 25 hingga 40 kilometer setelah pasukan ‘Israel’ menguasai wilayah di kawasan Gunung Hermon.
Baca Artikel Lainnya: PBB Dorong Penghapusan Hambatan Investasi dan Kerja Sama Ekonomi dengan Suriah
Radius Penerbangan Kalibrasi Diperkecil
Menurut pejabat regional kedua yang dikutip MEE, Amerika Serikat menginginkan persoalan tersebut diselesaikan melalui pembicaraan bilateral antara Suriah dan ‘Israel’.
Solusi kemudian ditemukan setelah teknisi menentukan bahwa penerbangan kalibrasi dapat dilakukan dalam radius 25 kilometer dari Bandara Damaskus, lebih kecil dibandingkan radius 50 kilometer yang sebelumnya dibutuhkan.
Otoritas Suriah kemudian memberi tahu pihak ‘Israel’ mengenai rencana pengujian menggunakan wilayah baru tersebut. Menurut laporan MEE, tidak ada tanggapan dari pemerintah ‘Israel’ terhadap pemberitahuan tersebut.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, pengujian sistem navigasi di kedua bandara akan menjadi tahap penting menuju pengoperasian penerbangan selama 24 jam.
Otoritas penerbangan Suriah menyatakan penyelesaian pekerjaan tersebut diharapkan memungkinkan Bandara Internasional Damaskus dan Aleppo menerima serta memberangkatkan penerbangan pada malam hari, termasuk ketika kondisi jarak pandang rendah dan cuaca buruk.
Sebelumnya Tolak Radar Buatan Turki
MEE juga mencatat bahwa ‘Israel’ sebelumnya menentang penempatan sistem radar canggih di Bandara Internasional Damaskus.
Sistem tersebut merupakan radar pengendali lalu lintas udara HTRS-100 yang diproduksi perusahaan pertahanan Turki ASELSAN dan digunakan untuk keperluan sipil.
Menurut MEE, pihak ‘Israel’ memandang keberadaan sistem tersebut berpotensi membatasi ruang geraknya di wilayah udara Suriah.
Laporan MEE menyebut sejumlah diplomat regional menilai perubahan sikap terbaru tersebut mungkin berkaitan dengan upaya meredakan ketegangan setelah serangan ‘Israel’ terhadap pangkalan udara Suriah di dekat Turki.
Situasi itu sebelumnya menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat AS mengenai kemungkinan bentrokan tidak disengaja antara ‘Israel’ dan Turki. Utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, disebut berupaya membangun mekanisme trilateral untuk mengurangi risiko gesekan antara kedua pihak.
Dengan dimulainya penerbangan kalibrasi, Suriah kini memasuki tahap teknis untuk meningkatkan kemampuan operasional dua bandara utamanya. Pengoperasian sistem navigasi secara penuh akan menjadi salah satu faktor pendukung bagi peningkatan layanan penerbangan, terutama pada malam hari dan dalam kondisi cuaca yang kurang mendukung. (haidar/andalusmedia.id)














