Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah pada Selasa malam (1/9/2026). Serangan tersebut menyasar posisi militer AS di Yordania dan Bahrain setelah Washington dilaporkan kembali melakukan serangan terhadap sejumlah wilayah Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan salah satu sasaran serangan berada di Camp Titin, Yordania, yang disebut digunakan oleh Korps Marinir AS. Serangan terhadap fasilitas tersebut dilakukan menggunakan rudal balistik.
IRGC menyatakan operasi itu merupakan bagian dari respons militer Iran terhadap serangan terbaru Amerika Serikat. Teheran juga mengklaim sejumlah fasilitas penting serta sebuah helikopter serang AS mengalami kerusakan dalam serangan tersebut.
Namun, klaim mengenai tingkat kerusakan dan jumlah korban dari pihak Amerika Serikat belum disertai bukti independen maupun rincian resmi mengenai korban.
Yordania Cegat Sebagian Rudal Iran
Otoritas Yordania mengatakan sejumlah rudal Iran memasuki wilayah udaranya ketika serangan berlangsung. Berdasarkan laporan kantor berita resmi Jordan News Agency, sebanyak 13 rudal balistik terdeteksi.
Sistem pertahanan udara Yordania disebut berhasil mencegat 10 rudal, sedangkan tiga lainnya jatuh di wilayah yang jauh dari kawasan permukiman.
Serangan tersebut menjadi insiden kedua dalam waktu kurang dari 48 jam ketika rudal Iran diarahkan ke wilayah Yordania di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Situasi tersebut menempatkan Yordania dalam posisi yang semakin sulit karena negara tersebut menjadi salah satu lokasi penting bagi keberadaan militer AS di kawasan, sementara pemerintah Amman berusaha mencegah wilayahnya terseret lebih jauh ke dalam konflik.
Pangkalan AS di Bahrain Turut Diserang
Selain Yordania, Iran juga mengumumkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain.
Militer Iran mengatakan instalasi radar dan lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya pasukan AS di Pangkalan Udara Sheikh Isa menjadi sasaran. Serangan tersebut dilancarkan melalui beberapa gelombang drone serang.
Teheran menyebut operasi itu sebagai fase ke-29 dari Operasi Al-Sa’iqa. Menurut pihak Iran, serangan tersebut ditujukan sebagai pembalasan atas operasi militer Amerika Serikat terhadap sejumlah wilayah di bagian selatan Iran.
Media Iran melaporkan adanya ledakan di beberapa fasilitas yang berkaitan dengan keberadaan AS di Yordania. Ledakan juga dilaporkan terjadi di wilayah Erbil, meskipun keterkaitannya dengan serangan terbaru Iran belum dapat dipastikan secara independen.
Baca Artikel Lainnya: AS Serang Dua Tanker Iran, Sekitar 100 Sasaran di Iran Turut Dihantam
IRGC Klaim Jatuhkan Drone AS
IRGC juga mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone MQ-9 milik Amerika Serikat menggunakan sistem pertahanan udara yang dikembangkan Iran.
Pihak Iran menyebut drone tersebut sebagai MQ-9 ke-50 yang berhasil dihancurkan selama konflik. Klaim tersebut, seperti sejumlah pernyataan militer lainnya, belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Iran menyatakan serangkaian serangan tersebut merupakan bagian dari respons terhadap operasi militer Amerika Serikat yang menurut Teheran menyasar sejumlah lokasi di pesisir selatan Iran.
IRGC memperingatkan Washington bahwa serangan terhadap Iran akan mendapatkan respons. Teheran juga menegaskan bahwa keberadaan pasukan asing di sekitar kawasan strategis tersebut menjadi salah satu persoalan utama dalam konflik yang terus berkembang.
Selat Hormuz Kembali Menjadi Sorotan
Eskalasi terbaru juga meningkatkan perhatian terhadap Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Iran sebelumnya telah berulang kali menegaskan pentingnya pengendalian keamanan di kawasan tersebut di tengah meningkatnya kehadiran militer asing.
IRGC mengatakan serangan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran justru semakin memperkuat tekad Teheran untuk mempertahankan pembatasan di Selat Hormuz.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat semakin memiliki dampak regional. Dengan adanya pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, serangan balasan Iran berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam eskalasi.
Yordania dan Bahrain kini menjadi bagian dari sorotan karena keberadaan fasilitas militer AS di wilayah mereka. Sementara itu, perkembangan selanjutnya masih bergantung pada respons Washington dan langkah yang akan diambil Teheran setelah gelombang serangan terbaru tersebut. (haidar/andalusmedia.id)














