Iran memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak membantu ataupun memfasilitasi operasi militer Amerika Serikat. Peringatan tersebut disampaikan ketika ketegangan di kawasan meningkat dan sejumlah negara Teluk menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi mengatakan setiap bentuk dukungan terhadap militer AS dapat dipandang sebagai keterlibatan dalam operasi Washington. Pernyataan itu disampaikan beberapa jam setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penghentian sementara aktivitas ekonomi dengan Iran.
Menurut Abdollahi, Iran memantau aktivitas militer di sejumlah pangkalan yang berada di kawasan Teluk. Ia mempertanyakan keberadaan pesawat militer, termasuk pesawat pengisi bahan bakar, di pangkalan regional tanpa sepengetahuan negara tempat pangkalan tersebut berada.
Iran Soroti Pangkalan Militer AS
Peringatan Teheran terutama mendapat perhatian karena beberapa negara Teluk menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat. Iran menilai dukungan logistik atau fasilitas yang digunakan untuk kepentingan operasi AS dapat memiliki konsekuensi terhadap negara yang bersangkutan.
Abdollahi menegaskan bahwa Iran membedakan antara negara yang tidak terlibat dalam konflik dan pihak yang secara aktif membantu operasi militer. Karena itu, Teheran meminta negara-negara di kawasan tidak memberikan fasilitas yang dapat digunakan untuk mendukung tindakan militer Washington.
Situasi semakin tegang setelah UEA mengumumkan penghentian sementara perdagangan dan transaksi keuangan dengan Iran. Keputusan tersebut diumumkan pada Selasa, 18 Agustus 2026, dengan alasan meningkatnya eskalasi regional.
Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA Afra Al Hameli mengatakan seluruh aktivitas perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran dihentikan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
Hubungan Iran dan UEA Memburuk
Iran dan UEA selama bertahun-tahun memiliki hubungan perdagangan yang cukup erat. UEA bahkan menjadi salah satu mitra perdagangan penting bagi Iran di tengah tekanan dan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Teheran.
Namun, hubungan kedua negara kembali menghadapi tekanan setelah UEA menuduh Iran meluncurkan rudal ke arah kapal di sekitar perairannya. Sejumlah kapal tanker milik perusahaan energi negara UEA, ADNOC, juga dilaporkan menjadi sasaran dalam beberapa pekan terakhir.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kemudian melakukan pembicaraan melalui telepon dengan penasihat keamanan nasional UEA. Pembahasan tersebut mencakup koordinasi menghadapi Iran dan pentingnya mempertahankan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia. Jalur tersebut menjadi salah satu titik utama lalu lintas kapal yang mengangkut minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Baca Artikel Lainnya: Saudi Kecam Serangan Israel ke Abu al-Duhur, Sebut Langgar Kedaulatan Suriah
Upaya Diplomasi Kembali Menghadapi Hambatan
Di tengah meningkatnya ketegangan, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran kembali menghadapi ketidakpastian. Utusan AS Jared Kushner sebelumnya menyatakan bahwa kedua pihak melakukan komunikasi yang disebutnya positif dan aktif.
Namun, pernyataan tersebut kemudian dibantah Presiden AS Donald Trump. Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung maupun yang telah dijadwalkan dengan pemerintah Iran.
Trump juga menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan. Sebelumnya, ia mengunggah peta Selat Hormuz dan menyebut kawasan strategis tersebut sebagai bagian dari wilayah baru Amerika Serikat, setelah sebelumnya mengancam akan mengambil alih jalur pengiriman minyak dan gas.
Sementara itu, operasi militer AS dilaporkan mengalami jeda. Sejumlah media Amerika juga melaporkan bahwa konflik telah memberikan tekanan terhadap persediaan amunisi tertentu. Trump dan Pentagon membantah laporan tersebut.
Iran Pertahankan Sikap Menantang
Setelah berbulan-bulan menghadapi tekanan militer dan politik dari Washington, pemerintah Iran tetap menunjukkan sikap menentang tuntutan AS.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala perunding negara tersebut, Mohammad Bagher Ghalibaf, melakukan kunjungan ke Irak. Ia mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memperkuat tatanan baru di kawasan dan meningkatkan kerja sama regional tanpa campur tangan asing.
Ghalibaf juga menyinggung keberadaan kelompok-kelompok perlawanan di Irak sebagai salah satu unsur kekuatan negara tersebut.
Peringatan terbaru dari Teheran menunjukkan bahwa Iran berusaha memperluas tekanan diplomatik kepada negara-negara Teluk agar tidak terlibat dalam operasi militer AS. Di sisi lain, meningkatnya aktivitas militer dan memburuknya hubungan sejumlah negara kawasan berpotensi memperbesar risiko konflik di Timur Tengah. (haidar/andalusmedia.id)














