• Latest
  • All
  • Kabar Suriah
  • Kabar Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
Gaza

Board of Peace AS Terancam Gagal Bangun Gaza, Rekonstruksi Menyusut Jadi Kamp Pengungsi

1 minggu ago
Asy Syaraa

Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan Israel, Suriah Utamakan Jaminan Keamanan

9 jam ago
Houthi

Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi, Front Baru Perang AS-Iran Makin Memanas

10 jam ago
PBB

PBB Peringatkan 74 Ribu Anak Gaza Berisiko Malnutrisi Akut dalam Setahun

3 hari ago
Pemimpin Baru Hamas

Pemimpin Baru Hamas Tetapkan 6 Prioritas, Hentikan Serangan Israel Jadi Fokus Utama

3 hari ago
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright
Senin, Juli 27, 2026
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
    • Kabar Suriah
    • Masa Revolusi Suriah
    • Tokoh Revolusi Suriah
    • Sejarah Suriah
  • Palestina
    • Kabar Palestina
    • Sejarah Palestina
    • Tokoh Palestina
  • Dunia Islam
    • Afghanistan
    • Arab Saudi
    • Qatar
    • Yordania
    • Turki
    • Irak
    • Uyghur
    • Sudan
    • Rohingnya
    • Lebanon
    • Mesir
    • Amerika
    • Iran
    • Israel
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
Home Kabar Palestina

Board of Peace AS Terancam Gagal Bangun Gaza, Rekonstruksi Menyusut Jadi Kamp Pengungsi

Rencana besar rekonstruksi Gaza yang didukung pemerintahan Donald Trump dilaporkan menyusut drastis. Dari proyek pembangunan menyeluruh, program kini hanya berfokus pada kamp pengungsi di Rafah, sementara perang, pendanaan, dan dinamika politik terus menghambat pelaksanaannya.

by Admin Andalus
1 minggu ago
A A
Gaza

Program rekonstruksi Jalur Gaza yang digagas Board of Peace asal Amerika Serikat mulai kehilangan momentum karena konflik yang dipicu serangan Israel belum juga berakhir.

2.4k
SHARES
4.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Rencana ambisius rekonstruksi Jalur Gaza yang digagas Board of Peace bentukan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan berada di ambang kegagalan. Program yang semula diproyeksikan membangun kembali seluruh infrastruktur Gaza kini menyusut menjadi proyek percontohan berupa kamp pengungsi di Rafah, wilayah selatan Gaza.

Laporan The Guardian menyebut perubahan tersebut dipicu oleh masih berlangsungnya konflik, lambatnya realisasi pendanaan, serta belum adanya kepastian politik mengenai masa depan Gaza.

Pada tahap awal, proyek itu dipromosikan sebagai langkah besar untuk memulihkan jaringan listrik, air bersih, rumah sakit, fasilitas sanitasi, hingga kawasan permukiman yang hancur akibat perang.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan target tersebut semakin sulit diwujudkan.

Alih-alih membangun kembali seluruh wilayah Gaza, penyelenggara kini hanya mempersiapkan sebuah kamp sementara di Rafah yang diperkirakan mampu menampung puluhan ribu pengungsi.

Jumlah itu dinilai sangat kecil dibandingkan kebutuhan lebih dari dua juta warga Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan.

Fokus Bergeser ke Rafah

Dalam rancangan terbaru, kamp di Rafah disebut akan dikelola oleh Otoritas Palestina dengan dukungan pasukan keamanan internasional dalam jumlah terbatas.

Beberapa laporan menyebut personel dari Maroko dan Kosovo telah berada di wilayah “Israel” untuk membantu pembentukan pasukan stabilitas yang nantinya bertugas mengamankan kawasan tersebut.

Di sisi lain, fasilitas logistik mulai dipersiapkan di sekitar penyeberangan Kerem Shalom sebagai pintu masuk utama bantuan dan material pembangunan.

Meski demikian, perkembangan fisik proyek masih sangat terbatas.

Citra satelit yang dianalisis sejumlah media internasional hanya memperlihatkan pekerjaan awal berupa perataan lahan tanpa pembangunan infrastruktur yang signifikan.

Belum terlihat aktivitas konstruksi besar yang mencerminkan dimulainya proyek rekonstruksi berskala luas sebagaimana dijanjikan sebelumnya.

Pemilu Israel Jadi Penentu

Sejumlah diplomat Barat di Yerusalem menilai pelaksanaan proyek kemungkinan baru akan bergerak setelah pemilu legislatif “Israel” yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

Hasil pemilu diperkirakan akan menentukan arah kebijakan pemerintahan berikutnya terhadap Jalur Gaza.

Apabila pemerintahan baru mengambil pendekatan berbeda, proyek rekonstruksi bisa kembali berubah atau bahkan dihentikan sepenuhnya.

Ketidakpastian politik tersebut membuat banyak pihak memilih menunggu perkembangan situasi sebelum menggelontorkan investasi dalam jumlah besar.

Baca Artikel Lainnya: Ghalibaf Tuding AS Ingin Pecah Belah Iran, Negosiator Teheran Sebut MoU di Ujung Tanduk

Perang Masih Jadi Hambatan Utama

Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan pada Oktober tahun lalu, proses rekonstruksi dinilai belum menunjukkan kemajuan berarti.

Operasi militer yang masih berlangsung di beberapa wilayah, pembatasan distribusi bantuan kemanusiaan, serta kontrol militer “Israel” atas sebagian besar kawasan Gaza menjadi kendala utama.

Menurut sejumlah diplomat Barat, fokus penyelenggara kini bukan lagi menjalankan proyek sesuai rencana awal, melainkan menjaga agar inisiatif tersebut tidak sepenuhnya gagal.

Mereka khawatir apabila proyek benar-benar berhenti, kelompok garis keras di pemerintahan “Israel” akan semakin leluasa mendorong kebijakan yang lebih ekstrem terhadap Gaza.

RelatedPosts

Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan Israel, Suriah Utamakan Jaminan Keamanan

Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi, Front Baru Perang AS-Iran Makin Memanas

Beberapa pengamat bahkan memperingatkan kemungkinan munculnya kembali wacana pengusiran massal warga Palestina maupun perluasan permukiman di wilayah yang diduduki.

Dana Belum Terkumpul

Selain persoalan keamanan, masalah pendanaan juga menjadi tantangan besar.

Proyek rekonstruksi membutuhkan dana sekitar 17 miliar dolar AS, namun hingga kini komitmen pembiayaan tersebut belum sepenuhnya terealisasi.

Upaya memanfaatkan dana pajak Palestina yang masih ditahan “Israel” sebagai sumber pembiayaan juga menuai penolakan dari Otoritas Palestina.

Pemerintah Palestina menegaskan dana itu merupakan hak rakyat Palestina dan tidak boleh dijadikan alat tawar-menawar dalam proses politik maupun negosiasi internasional.

Keterbatasan dana membuat sejumlah target pembangunan akhirnya dipangkas dan diprioritaskan hanya pada kebutuhan darurat.

Kekhawatiran Jadi Solusi Permanen

Di kalangan pejabat Palestina muncul kekhawatiran bahwa proyek kamp pengungsi di Rafah justru akan berubah menjadi solusi permanen.

Mereka menilai pembangunan kamp sementara berisiko memperkuat pemisahan wilayah Gaza dibanding menjadi langkah awal menuju rekonstruksi menyeluruh.

Apabila kondisi tersebut terjadi, jutaan warga Palestina dikhawatirkan akan terus hidup dalam situasi darurat tanpa kepastian kapan mereka dapat kembali ke rumah atau menikmati pemulihan infrastruktur yang layak.

Padahal sebelumnya penasihat Presiden Amerika Serikat, Jared Kushner, sempat menyampaikan target membangun kembali jaringan listrik, air bersih, sanitasi, rumah sakit, hingga berbagai fasilitas umum di seluruh Gaza dalam waktu 100 hari.

Kini, di tengah perang yang belum benar-benar berakhir, minimnya pendanaan, dan ketidakpastian politik, rencana besar itu justru menyusut menjadi proyek terbatas yang masa depannya sendiri masih dipenuhi tanda tanya. (haidar/andalusmedia.id)

Tags: berita Timur Tengah terbaruBoard of PeaceGazapalestinaRekonstruksi Gaza
Share945Tweet591SendShare
Previous Post

Ghalibaf Tuding AS Ingin Pecah Belah Iran, Negosiator Teheran Sebut MoU di Ujung Tanduk

Next Post

Trump Kembali Desak Suriah Hadapi Hizbullah, Damaskus Tetap Tolak Intervensi Militer

Admin Andalus

Website ini dikelola oleh tim editorial yang dipimpin oleh Ust Masud Izzul Mujahid, Lc, berfokus pada penyajian informasi bumi syam, perkembangan dunia islam, serta dinamika geopolitik kawasan Timteng dengan pendekatan analitis dan berbasis sumber terverifikasi.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Hizbullah

Hizbullah Rencanakan Pembunuhan Kepada Pejabat Tinggi Suriah

6 Mei 2026
Israel khawatir pertahanan udara Suriah Damaskus

Israel Khawatir Pertahanan Udara Suriah Bangkit

3 Mei 2026
Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa mencium tangan ayahnya hari ini (media sosial)

Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa Meminta Maaf Kepada Rakyatnya Atas Ucapan Ayahnya

23 Mei 2026
Masjid Umayyah Damaskus simbol sejarah Islam dan pusat peradaban di Bumi Syam sejak masa kekhalifahan

Bumi Syam: Keutamaan, Sejarah, dan Jejak Peradaban Islam

sejarah negara Suriah Damaskus

Sejarah Negara Suriah Modern yang Menentukan Arah Timur Tengah

sejarah Palestina Yerusalem lama

Sejarah Palestina Pasca Runtuhnya Utsmani yang Mengguncang Timur Tengah

Asy Syaraa

Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan Israel, Suriah Utamakan Jaminan Keamanan

27 Juli 2026
Houthi

Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi, Front Baru Perang AS-Iran Makin Memanas

27 Juli 2026
PBB

PBB Peringatkan 74 Ribu Anak Gaza Berisiko Malnutrisi Akut dalam Setahun

24 Juli 2026

Copyright © 2026 Andalus Media.

Discover More

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright

Follow Us

  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi

Copyright © 2026 Andalus Media.