Banjir bandang yang melanda Provinsi Nuristan, Afghanistan timur, menewaskan sedikitnya 23 orang dan melukai puluhan lainnya. Hingga Selasa (21/7/2026), lebih dari 100 warga masih dinyatakan hilang, sementara tim penyelamat terus melakukan pencarian di tengah cuaca ekstrem yang belum mereda.
Bencana terjadi pada Senin (20/7/2026) setelah hujan deras mengguyur kawasan pegunungan Nuristan. Curah hujan yang tinggi membuat sungai dan aliran air dari lereng gunung meluap, menerjang permukiman, lahan pertanian, serta berbagai fasilitas umum dalam waktu singkat.
Menurut laporan The Guardian, Kota Parun yang merupakan ibu kota Provinsi Nuristan menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Derasnya arus banjir menghanyutkan rumah-rumah penduduk, merusak toko, memutus akses jalan, dan menimbun kawasan permukiman dengan lumpur serta puing bangunan.
Banyak warga tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka karena banjir datang secara tiba-tiba. Beberapa keluarga bahkan dilaporkan masih terjebak di daerah yang sulit dijangkau akibat putusnya jalur transportasi.
Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Afghanistan melaporkan sedikitnya 80 orang mengalami luka-luka. Sebagian korban menjalani perawatan di rumah sakit setempat, sementara lainnya mendapat penanganan darurat di pos-pos kesehatan yang didirikan di sekitar lokasi bencana.
Selain korban jiwa dan korban luka, ratusan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka rusak berat atau hanyut diterjang banjir. Banyak keluarga kini berlindung di tempat penampungan sementara sambil menunggu bantuan kemanusiaan datang.
Tim penyelamat bersama relawan dan warga setempat terus bekerja mencari korban yang masih hilang. Mereka menggunakan alat berat untuk membersihkan material longsor dan tumpukan puing, sementara di sejumlah lokasi lain pencarian dilakukan secara manual karena alat berat belum dapat menjangkau medan yang sulit.
Juru bicara Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Afghanistan, Janan Saeq, mengatakan operasi penyelamatan masih menjadi prioritas utama pemerintah.
“Tim penyelamat terus bekerja untuk menemukan para korban yang hilang dan memberikan bantuan kepada warga terdampak. Kami juga mengimbau masyarakat menjauhi daerah rawan banjir karena ancaman cuaca ekstrem masih berlanjut,” ujarnya seperti dikutip Al Jazeera.
Pemerintah Afghanistan juga meminta masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang berada di sekitar sungai dan lembah yang berpotensi dilanda banjir susulan.
Baca Artikel Lainnya: Iran Klaim Citra Satelit Ungkap Kerusakan Pangkalan Militer AS di Qatar dan Yordania
Departemen Meteorologi Kementerian Transportasi dan Penerbangan Sipil Afghanistan memperingatkan bahwa hujan lebat, badai petir, angin kencang, serta potensi banjir bandang masih mengancam sedikitnya 10 dari 34 provinsi di negara tersebut.
Peringatan tersebut menimbulkan kekhawatiran jumlah korban dapat terus bertambah apabila hujan kembali mengguyur wilayah yang saat ini masih menjalani proses evakuasi dan pencarian korban.
Menurut Al Jazeera, kondisi geografis Nuristan menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat. Provinsi yang didominasi pegunungan itu memiliki banyak desa terpencil yang hanya dapat diakses melalui jalan sempit. Sebagian besar jalur tersebut kini rusak akibat banjir dan longsor sehingga distribusi bantuan berlangsung lebih lambat.
Di sejumlah titik, helikopter mulai disiagakan untuk mengirim bantuan makanan, obat-obatan, selimut, serta kebutuhan darurat lainnya kepada warga yang terisolasi. Namun cuaca buruk masih menjadi kendala utama bagi operasi udara.
Bencana kali ini kembali menunjukkan tingginya kerentanan Afghanistan terhadap cuaca ekstrem. Dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut berulang kali dilanda banjir bandang yang menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur.
Pada 2024, banjir besar di berbagai wilayah Afghanistan dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang. Ribuan rumah rusak, lahan pertanian hancur, dan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal akibat bencana tersebut.
Para ahli menilai perubahan pola cuaca, kerusakan lingkungan, serta minimnya infrastruktur pengendali banjir membuat risiko bencana hidrometeorologi di Afghanistan semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Hingga Selasa malam waktu setempat, proses pencarian terhadap lebih dari 100 warga yang masih hilang terus berlangsung. Pemerintah Afghanistan bersama organisasi kemanusiaan internasional kini mempercepat penyaluran bantuan darurat sekaligus bersiap menghadapi kemungkinan banjir susulan yang diperkirakan masih mengancam dalam beberapa hari ke depan. (haidar/andalusmedia.id)














