Aksi solidaritas untuk anak-anak Gaza digelar di sejumlah negara dengan menerbangkan layang-layang sebagai simbol dukungan terhadap hak anak untuk bermain dan hidup aman. Aksi tersebut berlangsung setelah pemerintah ‘Israel’ mengancam akan mengambil tindakan keras terhadap warga Gaza yang menerbangkan layang-layang atau melepaskan balon menuju wilayah ‘Israel’ selatan.
Puluhan aktivis menggelar demonstrasi di depan Kedutaan Besar ‘Israel’ di Washington DC, Amerika Serikat, pada Ahad (30/8/2026). Para peserta membawa bendera Palestina, poster, serta balon bertuliskan “Free Gaza”.
Selain menerbangkan layang-layang, para demonstran menyampaikan pesan mengenai kondisi anak-anak Gaza yang dinilai kehilangan masa kanak-kanak akibat perang dan kekerasan berkepanjangan.
Sejumlah poster yang dibawa dalam aksi tersebut antara lain bertuliskan “Kites not bombs” dan seruan agar anak-anak Gaza dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Peserta juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan militer ‘Israel’ di Jalur Gaza.
Layang-Layang Menjadi Simbol Solidaritas
Aksi tersebut muncul setelah otoritas ‘Israel’ memberikan peringatan terkait penggunaan layang-layang dan balon dari Gaza. Menteri Pertahanan ‘Israel’ Israel Katz sebelumnya dilaporkan memerintahkan militer untuk memberikan respons keras terhadap peluncuran layang-layang atau balon yang diarahkan ke wilayah permukiman di bagian selatan.
Menurut laporan media ‘Israel’, Katz juga menganggap aktivitas tersebut sebagai bentuk ancaman keamanan. Ia disebut memberikan kewenangan kepada militer untuk mengambil langkah terhadap wilayah yang dianggap menjadi lokasi peluncuran.
Kebijakan tersebut kemudian menuai kritik dari aktivis dan kelompok pemerhati hak asasi manusia. Mereka mempertanyakan ancaman terhadap warga sipil, terutama anak-anak, yang menggunakan layang-layang sebagai bagian dari aktivitas bermain.
Haitham Arafat, warga Amerika keturunan Palestina yang ikut dalam demonstrasi di Washington, mengatakan aksi tersebut bertujuan mengingatkan dunia bahwa anak-anak memiliki hak untuk bermain tanpa ketakutan.
Ia menilai ancaman penggunaan kekuatan militer terhadap aktivitas anak-anak menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan di Gaza.
Baca Artikel Lainnya: Turki dan Somalia Bebaskan MV LUTUF dari Bajak Laut, 14 Perompak Tewas
Aksi Solidaritas Menyebar ke Eropa
Gelombang solidaritas tidak hanya berlangsung di Amerika Serikat. Sejumlah kota di Eropa juga menjadi lokasi aksi dengan tema serupa.
Di Milan, Italia, puluhan orang berkumpul di Piazza Duomo pada Ahad (30/8). Para peserta mengibarkan bendera Palestina, melakukan aksi solidaritas, dan menerbangkan layang-layang untuk menunjukkan dukungan kepada anak-anak Gaza.
Aksi serupa juga berlangsung di Berlin, Jerman. Para peserta membawa layang-layang dan bendera Palestina sembari menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah ‘Israel’ di Gaza.
Sementara di Paris, Prancis, demonstrasi berlangsung pada Sabtu. Para peserta membawa ranting zaitun dan menerbangkan layang-layang sebagai simbol dukungan terhadap rakyat Palestina, khususnya anak-anak di Jalur Gaza.
Massa berkumpul di kawasan Bastille sebelum bergerak menuju Fontaine des Innocents di pusat kota Paris. Selain membawa berbagai simbol solidaritas, mereka juga menyampaikan tuntutan terkait pertanggungjawaban atas situasi di Gaza dan pembebasan tahanan Palestina.
Anak-Anak Gaza di Tengah Konflik
Perdebatan mengenai layang-layang tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah penggunaan layang-layang dan balon dari Gaza. Aktivitas tersebut sebelumnya pernah digunakan dalam aksi protes terhadap blokade dan kondisi kehidupan di wilayah tersebut.
Hamas menyatakan layang-layang yang diterbangkan di Gaza merupakan aktivitas anak-anak dan tidak dimaksudkan sebagai ancaman. Kelompok tersebut juga menuduh ‘Israel’ menggunakan isu tersebut untuk meningkatkan tekanan militer terhadap warga Gaza.
Bagi para peserta aksi solidaritas di berbagai negara, layang-layang kini menjadi simbol yang lebih luas: gambaran tentang hak anak-anak Palestina untuk bermain, belajar, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman.
Aksi di Washington, Milan, Berlin, dan Paris menunjukkan bahwa isu tersebut telah mendapat perhatian di luar kawasan Asia Barat. Para demonstran berharap pesan solidaritas terhadap anak-anak Gaza dapat terus disuarakan di tengah konflik yang masih berlangsung. (haidar/andalusmedia.id)














