Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini menjadikan rupiah berada di titik terendah sepanjang sejarah perdagangan mata uang Indonesia dan memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (4/6/2026), kurs rupiah sempat bergerak di kisaran Rp18.015 hingga Rp18.028 per dolar AS sebelum akhirnya menguat kembali ke area Rp17.900-an. Meski demikian, tekanan terhadap mata uang Garuda masih dinilai cukup besar karena berbagai faktor eksternal dan domestik belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipicu oleh kondisi global, tetapi juga dipengaruhi dinamika ekonomi dalam negeri yang membuat pasar lebih berhati-hati dalam menempatkan investasinya di Indonesia.
Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang membebani rupiah adalah perpindahan dana investor global dari negara berkembang menuju negara maju.
Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik yang meningkat, investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman atau safe haven. Akibatnya, aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin besar.
Menurut Myrdal, fenomena tersebut terlihat dari menguatnya indeks saham di sejumlah negara maju yang bahkan mencatat rekor tertinggi baru. Situasi ini menunjukkan bahwa investor global tengah mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan lebih memilih instrumen investasi yang dinilai lebih stabil.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga terus mencermati kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah Indonesia. Penilaian dari lembaga pemeringkat internasional hingga sentimen investor terhadap prospek ekonomi nasional turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Tekanan terhadap rupiah semakin berat akibat derasnya arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia. Pada akhir Mei 2026, dana asing yang keluar dari bursa saham domestik mencapai ratusan juta dolar AS.
Aksi jual tersebut terutama terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar serta emiten yang terdampak penyesuaian indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Ketika investor asing menjual saham dan memindahkan dana ke luar negeri, kebutuhan terhadap dolar AS meningkat. Kondisi ini membuat permintaan dolar naik dan mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai faktor geopolitik global menjadi penyebab utama penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia.
Baca Artikel Lainnya: Israel Klaim Tewaskan Pejabat Keamanan Hamas, Serangan di Gaza Dilaporkan Tewaskan 11 Warga Sipil
Konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, telah meningkatkan ketidakpastian pasar global. Dalam situasi seperti ini, dolar AS kembali menjadi aset pilihan investor internasional.
Menurut Ariston, selama konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah masih berpotensi berlanjut.
Selain faktor geopolitik dan arus modal, rupiah juga menghadapi tekanan musiman dari kebutuhan pembayaran dividen kepada investor asing.
Setelah musim Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), banyak perusahaan Indonesia harus menyediakan dolar AS untuk membayar dividen kepada pemegang saham luar negeri. Peningkatan kebutuhan valuta asing ini otomatis menambah permintaan dolar di pasar domestik.
Faktor lain yang turut membebani rupiah adalah kenaikan harga minyak dunia. Ketegangan di Timur Tengah membuat harga energi global melonjak dalam beberapa pekan terakhir.
Harga minyak Brent tercatat mendekati 96 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di atas 93 dolar AS per barel.
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, kenaikan harga energi berarti meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk membayar impor. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar.
Di sisi lain, pasokan devisa dari sektor perdagangan juga mengalami penurunan. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat hanya sekitar 89 juta dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan capaian pada bulan-bulan sebelumnya.
Tipisnya surplus perdagangan menyebabkan pasokan dolar AS di dalam negeri berkurang. Ketika pasokan devisa menurun sementara permintaan dolar meningkat, ruang penguatan rupiah menjadi semakin terbatas.
Meski menghadapi tekanan berat, para ekonom menilai peluang pemulihan rupiah masih terbuka. Meredanya konflik geopolitik, stabilnya harga minyak dunia, serta kembalinya arus modal asing ke pasar Indonesia dapat membantu memperkuat nilai tukar dalam beberapa bulan mendatang.
Selain itu, peningkatan ekspor dan membaiknya surplus perdagangan juga menjadi faktor penting untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas rupiah.
Untuk saat ini, pasar masih menunggu perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, arah kebijakan moneter global, serta langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (haidar/andalusmedia.id)














