Hubungan antara Imarah Islam Afghanistan (IIA) dan Rusia terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kedekatan yang semakin erat itu terlihat melalui peningkatan kerja sama di bidang politik, ekonomi, keamanan, hingga diplomasi. Perkembangan ini menjadi menarik karena kedua pihak pernah berada di kubu yang berseberangan saat invasi Uni Soviet ke Afghanistan pada dekade 1980-an.
Perkembangan terbaru kembali menjadi sorotan setelah Menteri Pertahanan Afghanistan, Mullah Muhammad Yaqoob, melakukan kunjungan resmi ke Moskow dan menghadiri penandatanganan kesepakatan kerja sama teknis-militer antara Kabul dan Moskow.
Menurut laporan media internasional, kerja sama tersebut berfokus pada pemeliharaan, modernisasi, serta peningkatan kemampuan peralatan militer buatan Rusia yang selama puluhan tahun digunakan Afghanistan. Peralatan tersebut mencakup helikopter, pesawat militer, kendaraan tempur, hingga berbagai sistem persenjataan lainnya.
Yaqoob menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukanlah pakta pertahanan maupun aliansi militer baru. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama kerja sama itu adalah memastikan aset militer Afghanistan tetap dapat beroperasi secara optimal melalui dukungan teknis dari negara produsen.
“Implementasi kesepakatan dengan Rusia akan segera dimulai,” ujar Yaqoob dalam keterangannya usai kembali dari Moskow.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab spekulasi yang berkembang mengenai kemungkinan terbentuknya kerja sama pertahanan yang lebih luas antara kedua negara. Pemerintah Afghanistan menegaskan bahwa fokus utama perjanjian itu tetap berada pada aspek teknis dan pemeliharaan peralatan militer.
Ancaman ISKP Jadi Kepentingan Bersama
Salah satu faktor terbesar yang mendekatkan Rusia dan Afghanistan adalah ancaman dari kelompok Islamic State Khorasan Province.
Bagi Moskow, aktivitas ISKP dipandang sebagai ancaman serius terhadap keamanan regional. Kekhawatiran Rusia meningkat setelah kelompok tersebut dikaitkan dengan sejumlah serangan besar, termasuk serangan di Crocus City Hall pada 2024 yang menewaskan hampir 150 orang.
Karena itu, Kremlin melihat kerja sama dengan pemerintah Afghanistan sebagai langkah strategis untuk mencegah meluasnya aktivitas kelompok militan di kawasan Asia Tengah yang selama ini berada dalam lingkup pengaruh Rusia.
Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, sebelumnya menegaskan bahwa negaranya tengah membangun hubungan yang lebih komprehensif dengan Afghanistan.
Dalam forum keamanan yang berlangsung di Moskow pada Mei 2026, Shoigu menyatakan Rusia berkomitmen memperluas kerja sama dengan Kabul di bidang keamanan, politik, ekonomi, budaya, kemanusiaan, hingga perdagangan.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam pendekatan Rusia terhadap Afghanistan. Jika sebelumnya Taliban dipandang sebagai ancaman keamanan, kini Moskow melihat pemerintahan Afghanistan sebagai mitra pragmatis dalam menjaga stabilitas kawasan.
Faktor Geopolitik dan Pengaruh Rusia
Kedekatan Rusia dengan Afghanistan juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan geopolitik global.
Sejak hubungan Rusia dengan negara-negara Barat memburuk akibat konflik Ukraina, Moskow semakin aktif memperluas jaringan mitra strategis di Asia, Timur Tengah, dan Afrika.
Dalam konteks ini, Afghanistan memiliki posisi geografis yang sangat penting karena berada di persimpangan jalur perdagangan yang menghubungkan Asia Tengah, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
Bagi Rusia, hubungan yang kuat dengan Kabul dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat pengaruh geopolitiknya di kawasan yang selama ini menjadi arena persaingan berbagai kekuatan internasional.
Selain itu, stabilitas Afghanistan juga dianggap penting bagi keamanan negara-negara Asia Tengah yang memiliki hubungan erat dengan Rusia, seperti Tajikistan, Uzbekistan, dan Kyrgyzstan.
Baca Artikel Lainnya: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Faktor yang Menekan Nilai Tukar Indonesia
Afghanistan Butuh Dukungan Internasional
Dari sisi Afghanistan, hubungan erat dengan Rusia memiliki nilai strategis yang tidak kalah besar.
Sejak kembali berkuasa pada Agustus 2021, pemerintah Afghanistan menghadapi tantangan berupa terbatasnya pengakuan internasional dan hubungan diplomatik dengan banyak negara.
Dalam kondisi tersebut, dukungan Rusia menjadi salah satu pencapaian diplomatik paling penting bagi Kabul.
Pada 2025, Rusia menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui pemerintahan Afghanistan. Langkah tersebut dianggap sebagai terobosan besar yang membuka peluang kerja sama internasional lebih luas.
Pengakuan itu juga memperkuat posisi Afghanistan dalam menjalin hubungan ekonomi, perdagangan, investasi, energi, transportasi, dan keamanan dengan berbagai negara lain.
Bagi Kabul, hubungan dengan Rusia tidak hanya memberikan manfaat politik, tetapi juga membuka akses terhadap peluang ekonomi dan kerja sama pembangunan yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan negara setelah puluhan tahun konflik.
Hubungan yang Diperkirakan Terus Menguat
Meski masih mendapat perhatian dan kritik dari sejumlah negara Barat, hubungan Rusia dan Afghanistan diperkirakan akan terus berkembang.
Banyak negara Barat masih menyoroti isu hak perempuan, pendidikan, dan kebebasan sipil di Afghanistan. Namun bagi Rusia, faktor keamanan regional dan stabilitas kawasan tampaknya menjadi prioritas utama.
Selama pemerintah Afghanistan mampu menjaga keamanan dalam negeri dan menekan aktivitas kelompok seperti ISKP, Moskow diperkirakan akan terus memperdalam kerja sama dengan Kabul.
Dengan kepentingan yang saling melengkapi tersebut, hubungan kedua negara berpotensi memasuki fase baru yang lebih strategis. Bagi Rusia, Afghanistan adalah mitra penting untuk menjaga keamanan Asia Tengah. Sementara bagi Afghanistan, Rusia menjadi salah satu pintu utama untuk keluar dari isolasi internasional dan memperluas hubungan diplomatik di panggung global. (haidar/andalusmedia.id)














