Kritik terhadap Israel kembali menguat bertepatan dengan empat tahun kematian jurnalis Shireen Abu Akleh. Sejumlah aktivis dan organisasi hak asasi manusia menilai tidak adanya pertanggungjawaban atas kasus tersebut memicu meningkatnya pembunuhan jurnalis di Palestina dan Lebanon.
Laporan Al Jazeera yang terbit Senin (12/5/2026) menyebut Israel kini dituduh menjadi salah satu negara dengan jumlah pembunuhan jurnalis tertinggi dalam konflik modern. Dalam beberapa tahun terakhir, hampir 300 jurnalis dilaporkan tewas di Gaza dan Lebanon.
Jurnalis Palestina Ali Al-Samoudi, yang berada di lokasi saat Shireen ditembak di Kamp Jenin pada Mei 2022, kembali mengungkap detik-detik kejadian tersebut.
Menurut Al-Samoudi, dirinya juga terkena tembakan sebelum melihat Shireen tergeletak bersimbah darah. Ia menegaskan para jurnalis saat itu mengenakan rompi dan helm bertuliskan “PRESS” serta tidak berada di tengah baku tembak.
“Saya melihat Shireen terbaring di samping saya. Saya tidak percaya apa yang terjadi,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Ia menilai penembakan dilakukan secara sengaja karena peluru mengenai bagian tubuh Shireen yang terbuka di antara helm dan rompi pelindungnya.
Awalnya Israel menuding pejuang Palestina sebagai pelaku penembakan. Namun setelah tekanan internasional dan hasil investigasi berbagai lembaga, pihak Israel kemudian mengakui kemungkinan besar Shireen terkena tembakan tentara Israel secara tidak sengaja.
Direktur Arab American Institute, James Zogby, menilai pola penanganan kasus Shireen menunjukkan budaya impunitas yang terus berulang.
“Mereka awalnya menyangkal, lalu menyalahkan pihak lain, dan akhirnya membuka penyelidikan tanpa hasil jelas,” katanya.
Baca Artikel Lainnya: Hamas Sebut Israel Gagal Penuhi Kesepakatan Gaza
Menurut Zogby, tidak adanya hukuman tegas membuat pelanggaran serupa terus terjadi. Ia juga mengkritik Amerika Serikat yang dinilai gagal menekan Israel meski Shireen merupakan warga negara AS.
Direktur Human Rights Watch wilayah Israel-Palestina, Omar Shakir, mengatakan banyak kasus pembunuhan warga sipil dan jurnalis sejak 2003 berakhir tanpa proses hukum yang jelas.
Selama empat tahun terakhir, organisasi kebebasan pers juga mencatat peningkatan serangan terhadap jurnalis Palestina di Gaza, Tepi Barat, hingga Lebanon.
Beberapa jurnalis Al Jazeera dilaporkan tewas dalam serangan Israel selama perang Gaza, termasuk Ismail Al-Ghoul dan Anas Al-Sharif.
Selain pembunuhan, jurnalis Palestina juga menghadapi intimidasi dan penahanan administratif. Data Klub Tahanan Palestina menyebut lebih dari 40 jurnalis Palestina masih ditahan Israel hingga kini.
Al-Samoudi menilai serangan terhadap jurnalis bertujuan membungkam dokumentasi dugaan pelanggaran Israel di Palestina.
“Mereka ingin menghentikan kami melakukan pekerjaan kami. Tapi liputan akan terus berjalan,” katanya. (haidar/andalusmedia.id)