Jurnalis internasional Hala Gorani membagikan kesannya setelah menghabiskan waktu selama sepekan di Suriah. Dalam unggahannya di platform X, mantan presenter CNN dan koresponden NBC itu mengatakan ada satu hal yang paling mencolok selama kunjungannya.
“Saya baru saja kembali dari perjalanan selama sepekan di Suriah. Banyak hal yang bisa dibicarakan tentang kondisi negara itu, tetapi untuk pertama kalinya dalam hidup saya di negara Arab mana pun, saya tidak melihat satu pun gambar presiden di ruang publik; tidak ada potret di etalase toko, tidak ada poster, tidak ada patung, sama sekali tidak ada.
Bagi banyak orang di luar Suriah, kalimat itu mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi rakyat Suriah yang hidup puluhan tahun di bawah kekuasaan keluarga Assad, pemandangan tersebut adalah perubahan besar yang dulu hampir mustahil dibayangkan.
Selama era Hafez Assad dan kemudian Bashar Assad, Suriah dibangun sebagai negara dengan kultus individu yang sangat kuat. Wajah presiden ada di mana-mana. Dari bandara, sekolah, universitas, kantor pemerintahan, jalan raya, pasar, rumah sakit, hingga buku pelajaran anak-anak sekolah.
Generasi Suriah tumbuh dengan melihat foto Hafez Assad dan Bashar Assad setiap hari dalam kehidupan mereka. Bahkan di ruang kelas, gambar presiden sering dipasang lebih besar daripada simbol negara itu sendiri.
Di bawah rezim Assad, loyalitas kepada penguasa adalah kewajiban yang tidak tertulis. Rakyat dipaksa menunjukkan cinta dan kesetiaan kepada Assad demi keamanan mereka sendiri.
Di banyak tempat, orang-orang takut berbicara terbuka. Kritik kecil terhadap rezim bisa membawa seseorang ke ruang interogasi intelijen. Banyak warga Suriah menghilang di penjara hanya karena dituduh tidak loyal terhadap negara.
Begitulah negara represif dijalankan selama puluhan tahun. Negara militeristik yang mengontrol ruang publik, kehidupan sosial, bahkan pikiran masyarakat. Mukhabarat atau aparat intelijen menjadi simbol ketakutan rakyat Suriah. Hampir setiap aspek kehidupan diawasi. Budaya takut dan pemujaan terhadap pemimpin dipelihara selama beberapa dekade.
Karena itu, hilangnya foto-foto presiden dari ruang publik Suriah hari ini bukan sekadar perubahan visual. Bagi banyak warga, itu adalah simbol runtuhnya era ketakutan dan kultus kekuasaan yang selama ini membayangi kehidupan mereka.
Damaskus, Aleppo, Homs, dan kota-kota lain kini terlihat sangat berbeda dibanding era Bashar Assad. Jalan-jalan yang dulu dipenuhi poster presiden kini tampak lebih kosong dari simbol politik.
Perubahan itu terasa sederhana, tetapi memiliki makna emosional yang besar bagi rakyat Suriah yang selama bertahun-tahun hidup di bawah tekanan rezim.
Ahmad al-Sharaa dan Penolakan terhadap Pemujaan Penguasa
Perubahan suasana di Suriah hari ini juga tidak lepas dari sosok Ahmad al-Sharaa.
Berbeda dengan keluarga Assad yang membangun kultus individu selama puluhan tahun, Ahmad al-Sharaa justru menolak berbagai bentuk pemujaan terhadap dirinya.
Ia bukan tokoh yang lahir dari keluarga elite politik atau lingkaran militer negara pada umumnya. Ahmad al-Sharaa lahir dan tumbuh dari medan jihad dan perjalanan panjang revolusi Suriah.
Ia pernah dipenjara di Irak dan melewati fase panjang perjuangan bersenjata sebelum akhirnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam runtuhnya rezim Assad.
Pengalaman hidup itu membentuk cara pandang al-Sharaa terhadap kekuasaan dan kepemimpinan.
Tidak terlihat upaya besar untuk memenuhi kota-kota Suriah dengan foto dirinya. Tidak ada slogan wajib memuja presiden seperti pada masa Assad. Tidak ada patung raksasa atau propaganda masif yang mengagungkan sosok pemimpin negara.
Karena itu, banyak warga melihat adanya perbedaan besar antara pemerintahan baru Suriah dan rezim lama yang selama puluhan tahun membangun loyalitas melalui rasa takut dan pemujaan terhadap keluarga penguasa.
Bagi sebagian rakyat Suriah, perubahan itu menghadirkan rasa lega yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Mereka mulai merasakan ruang publik yang lebih normal, tanpa tekanan untuk menunjukkan loyalitas politik setiap saat. Wajah presiden tidak lagi mendominasi kehidupan sehari-hari masyarakat seperti sebelumnya.
Tentu, Suriah pasca jatuhnya Bashar Assad masih menghadapi tantangan yang sangat besar. Krisis ekonomi, rekonstruksi negara, keamanan, dan proses transisi politik masih menjadi pekerjaan panjang bagi pemerintahan baru.
Namun di tengah semua persoalan tersebut, banyak warga merasa bahwa atmosfer negara sudah berubah total dibanding masa lalu.
Jika dulu rakyat Suriah hidup di bawah negara yang memaksa masyarakat tunduk dan mencintai pemimpin demi keselamatan mereka, kini mereka mulai melihat Suriah yang perlahan keluar dari budaya ketakutan dan kultus individu.
Unggahan sederhana Hala Gorani akhirnya menjadi lebih dari sekadar catatan perjalanan seorang jurnalis. Bagi banyak rakyat Suriah, itu adalah gambaran nyata tentang bagaimana negara mereka benar-benar sedang berubah setelah runtuhnya Bashar Assad dan berakhirnya era panjang pemujaan terhadap penguasa. (ahmad/andalusmedia.id)