Beredar kabar bahwa Turki kemungkinan akan mengundang Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi NATO yang dijadwalkan berlangsung di Ankara pada 7 hingga 8 Juli mendatang.
Meski hingga kini belum ada pengumuman resmi dari Ankara maupun NATO terkait undangan tersebut, kabar itu mulai ramai diperbincangkan di media sosial dan sejumlah kanal politik regional, terutama di tengah meningkatnya hubungan diplomatik dan keamanan antara Turki dan Suriah dalam beberapa bulan terakhir.
KTT NATO mendatang rencananya akan digelar di kompleks kepresidenan Beştepe Presidential Compound, pusat kegiatan resmi pemerintahan Turki yang selama ini menjadi lokasi berbagai agenda strategis negara. Sebagai tuan rumah konferensi, Turki memang memiliki hak untuk mengundang pemimpin negara nonanggota NATO guna menghadiri sebagian agenda atau pertemuan tertentu.
Dalam sejumlah pertemuan NATO sebelumnya, beberapa negara yang bukan anggota aliansi militer Barat itu juga pernah diundang menghadiri forum tingkat tinggi, termasuk Ukraina, Jepang, dan Korea Selatan. Karena itu, secara diplomatik, kemungkinan kehadiran Ahmad al-Sharaa dalam forum tersebut bukan sesuatu yang mustahil.
Jika undangan itu benar-benar terwujud, langkah tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu perkembangan diplomatik paling mencolok dalam hubungan Turki-Suriah pascaperang. Kehadiran presiden Suriah di forum yang identik dengan negara-negara Barat dan aliansi keamanan transatlantik akan membawa pesan politik yang besar, baik di tingkat regional maupun internasional.
Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan Ankara dan Damaskus memang menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Kedua negara mulai meningkatkan komunikasi di bidang keamanan, militer, dan diplomasi setelah bertahun-tahun berada dalam posisi yang saling berseberangan selama konflik Suriah berlangsung.
Serangkaian pertemuan tingkat tinggi antara pejabat Turki dan Suriah mulai terlihat lebih terbuka. Delegasi keamanan dan militer kedua negara juga beberapa kali tercatat melakukan pembicaraan terkait kerja sama pertahanan, pelatihan militer, hingga pengembangan koordinasi keamanan perbatasan.
Baru-baru ini, pejabat pertahanan Suriah dan Turki bahkan menghadiri sejumlah forum militer dan industri pertahanan bersama di Istanbul dan Ankara. Selain itu, Turki juga dikabarkan mulai memperluas kerja sama teknis dengan institusi militer Suriah sebagai bagian dari proses restrukturisasi pasukan pemerintah Damaskus.
Di tengah perkembangan tersebut, kemungkinan hadirnya Ahmad al-Sharaa dalam KTT NATO akan dipandang sebagai sinyal bahwa Turki ingin memainkan peran yang lebih besar dalam membentuk arah baru Suriah di tingkat regional. Ankara selama ini memang berupaya menempatkan diri sebagai salah satu aktor utama dalam proses stabilisasi Suriah pasca jatuhnya Assad.
Bagi Turki, hubungan yang lebih dekat dengan Damaskus juga memiliki dimensi strategis lain, mulai dari persoalan keamanan perbatasan, isu kelompok bersenjata Kurdi, arus pengungsi Suriah, hingga proyek ekonomi dan perdagangan kawasan.
Sementara bagi Suriah, kemungkinan tampilnya Ahmad al-Sharaa di forum internasional seperti KTT NATO akan menjadi simbol semakin terbukanya ruang diplomatik bagi pemerintahan baru Damaskus setelah bertahun-tahun terisolasi akibat perang dan dinamika geopolitik kawasan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi mengenai daftar tamu undangan KTT NATO di Ankara. Karena itu, kabar mengenai undangan terhadap Ahmad al-Sharaa masih berada pada level spekulasi politik dan laporan tidak resmi.
Namun, dengan munculnya rumor tersebut saja sudah cukup menunjukkan besarnya perubahan lanskap politik regional dalam beberapa waktu terakhir. Hubungan Turki-Suriah kini perlahan bergerak menuju fase komunikasi dan koordinasi yang lebih terbuka, bahkan berpotensi menghadirkan Damaskus dalam forum internasional yang sebelumnya sulit dibayangkan. (ahmad/andalusmedia.id)