Pemerintah Suriah kembali memperluas layanan diplomatik dan konsuler bagi warganya di luar negeri dengan meresmikan Konsulat Jenderal Republik Arab Suriah di kota Jeddah, Arab Saudi, pada Kamis (7/5/2026). Peresmian tersebut dilakukan langsung oleh Menteri Luar Negeri dan Urusan Ekspatriat Suriah, Asaad al-Shaibani, dalam sebuah seremoni resmi yang dihadiri delegasi dari Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.
Dalam acara tersebut, Al-Shaibani mengibarkan bendera nasional Suriah di gedung konsulat baru sebagai simbol dimulainya operasional perwakilan diplomatik Suriah di Jeddah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah Suriah memperkuat hubungan dengan diaspora Suriah di Arab Saudi sekaligus meningkatkan pelayanan administratif bagi warga yang tinggal di kawasan tersebut.
Menurut laporan kantor berita Syria TV, pembukaan konsulat di Jeddah tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan administratif biasa, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi digital layanan luar negeri Suriah. Pemerintah Suriah kini mulai mengandalkan sistem elektronik untuk mempercepat pelayanan dan mengurangi hambatan birokrasi yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan warga Suriah di luar negeri.
Direktur Departemen Konsuler Kementerian Luar Negeri Suriah, Mohammed Yaqoub Al-Omar, sehari sebelumnya telah mengumumkan pengaktifan layanan konsuler di Jeddah melalui aplikasi elektronik bernama “MOFA SY”. Melalui platform tersebut, warga Suriah yang tinggal di Arab Saudi dapat mengakses berbagai layanan konsuler secara daring tanpa harus datang langsung ke kantor konsulat dalam banyak proses administratif.
Al-Omar menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi digital tersebut bertujuan mempermudah warga Suriah dalam mengurus dokumen resmi, legalisasi, pemesanan jadwal pelayanan, dan berbagai kebutuhan administratif lainnya dengan lebih cepat dan efisien. Pemerintah Suriah berharap digitalisasi ini dapat menghemat waktu masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik di luar negeri.
Keberadaan aplikasi MOFA SY juga dipandang sebagai solusi atas persoalan antrean panjang dan sulitnya memperoleh jadwal layanan di sejumlah kedutaan dan konsulat Suriah dalam beberapa tahun terakhir. Banyak warga Suriah di luar negeri sebelumnya mengeluhkan lambatnya proses administrasi serta maraknya praktik percaloan dalam pemesanan janji temu konsuler.
Karena itu, pemerintah Suriah kini mulai menerapkan sistem layanan berbasis digital sebagai bagian dari reformasi birokrasi di sektor diplomatik dan konsuler. Konsulat di Jeddah menjadi salah satu proyek awal dalam strategi baru tersebut.
Pembukaan konsulat ini juga memiliki makna penting secara politik dan diplomatik. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara Arab Saudi dan Suriah mengalami perkembangan signifikan setelah lama berada dalam ketegangan akibat konflik Suriah yang pecah sejak 2011. Pemulihan hubungan diplomatik kedua negara membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas, termasuk dalam pelayanan warga negara dan urusan konsuler.
Jeddah sendiri dipilih karena menjadi salah satu kota dengan jumlah warga Suriah yang cukup besar di Arab Saudi. Kehadiran konsulat baru di kota tersebut diharapkan dapat mempermudah akses layanan bagi diaspora Suriah tanpa harus bergantung pada perwakilan diplomatik di wilayah lain.
Selain Jeddah, Kementerian Luar Negeri Suriah juga mengungkap rencana pembukaan konsulat baru di sejumlah kota penting lainnya, termasuk Ankara, Gaziantep, dan Bonn. Langkah ini dilakukan untuk memperluas jaringan pelayanan konsuler Suriah di negara-negara yang memiliki populasi diaspora besar.
Pemerintah Suriah menilai kebutuhan layanan luar negeri terus meningkat seiring bertambahnya jumlah warga Suriah yang tinggal di luar negeri akibat perang, migrasi ekonomi, dan perpindahan penduduk selama lebih dari satu dekade terakhir. Karena itu, penguatan sistem konsuler dianggap menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dalam beberapa tahun mendatang.
Melalui pembukaan Konsulat Jenderal Suriah di Jeddah dan peluncuran layanan digital MOFA SY, Damaskus tampaknya ingin menunjukkan perubahan baru dalam pendekatan pelayanan publiknya. Tidak hanya berfokus pada pemulihan hubungan diplomatik regional, pemerintah Suriah kini juga berupaya membangun kembali hubungan langsung dengan warga negaranya di luar negeri melalui layanan yang lebih modern, cepat, dan mudah diakses. (ahmad/andalusmedia.id)