Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan siap menghadapi segala bentuk eskalasi militer dari kelompok Houthi setelah ketegangan kembali meningkat di kawasan. Ancaman blokade maritim yang diumumkan Houthi dinilai bukan hanya membahayakan keamanan Yaman dan Arab Saudi, tetapi juga berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional serta distribusi minyak dunia melalui Selat Bab al-Mandeb.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Terpilih Yaman, Afrah al-Zouba, dalam konferensi pers di Riyadh pada Senin (27/7/2026). Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan memburuknya situasi keamanan.
“Pada akhirnya, kami siap menghadapi segala bentuk eskalasi,” kata al-Zouba.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Houthi mengklaim kembali melancarkan serangan pesawat nirawak yang menargetkan fasilitas energi Arab Saudi. Kelompok tersebut menyebut serangan itu sebagai balasan atas operasi militer yang mereka tuduhkan dilakukan Riyadh terhadap wilayah yang mereka kuasai.
Pemerintah Yaman menilai tindakan Houthi tidak lagi sekadar ditujukan untuk menekan Arab Saudi. Menurut Al-Zouba, kelompok yang didukung Iran itu kini berusaha memperluas pengaruhnya dengan menguasai jalur pelayaran internasional yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan global.
Ia menuding Houthi mencoba menerapkan pola yang selama ini dilakukan Iran di Selat Hormuz dengan mengalihkan perhatian ke Selat Bab al-Mandeb.
“Houthi ingin meniru pengalaman Iran di Hormuz. Mereka berpikir akan memegang kendali atas Laut Merah,” ujarnya.
Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez, sehingga dilalui ribuan kapal dagang setiap tahun.
Selain menjadi jalur utama perdagangan internasional, kawasan tersebut juga menjadi rute vital pengiriman minyak mentah dan produk energi dari negara-negara Teluk menuju Eropa, Afrika, dan berbagai kawasan lainnya.
Nilai strategis Bab al-Mandeb semakin meningkat ketika ketegangan di Selat Hormuz membuat sebagian jalur ekspor energi menghadapi risiko gangguan. Karena itu, setiap ancaman terhadap keamanan pelayaran di Bab al-Mandeb berpotensi memengaruhi harga energi serta rantai pasok global.
Baca Artikel Lainnya: Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan Israel, Suriah Utamakan Jaminan Keamanan
Dalam beberapa hari terakhir, Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan memperingatkan kapal-kapal yang menuju pelabuhan kerajaan 1400.agar tidak melanjutkan pelayaran. Kelompok tersebut juga mengklaim telah menyerang kapal tanker dan fasilitas energi milik Arab Saudi sebagai bagian dari operasi militernya.
Meski demikian, sejumlah klaim tersebut belum memperoleh verifikasi independen.
Pemerintah Yaman memperingatkan bahwa eskalasi di Laut Merah dapat membawa dampak yang jauh lebih luas dibanding konflik domestik di Yaman. Gangguan terhadap jalur pelayaran internasional dinilai berpotensi memengaruhi perdagangan dunia, meningkatkan biaya logistik, serta mengganggu distribusi energi ke berbagai negara.
Di dalam negeri, bentrokan antara pasukan pemerintah dan Houthi juga dilaporkan masih berlangsung di sejumlah front pertempuran. Menurut Al-Zouba, kontak senjata terjadi hampir setiap hari, meski sebagian besar masih dalam skala terbatas.
Situasi tersebut menjadi tantangan serius bagi stabilitas yang sempat tercipta setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022. Walaupun kesepakatan itu telah berakhir, intensitas konflik selama beberapa tahun terakhir relatif lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
Namun, meningkatnya aksi saling serang antara Houthi dan Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir memunculkan kekhawatiran bahwa Yaman dapat kembali memasuki fase perang terbuka.
Sejumlah analis juga menilai keterkaitan Houthi dengan Iran membuat setiap perkembangan di Yaman sulit dipisahkan dari dinamika geopolitik Timur Tengah. Jika ketegangan terus meningkat, konflik dikhawatirkan tidak hanya mengganggu keamanan regional, tetapi juga memengaruhi stabilitas pasar energi dan jalur perdagangan internasional.
Pemerintah Yaman pun menegaskan akan terus berkoordinasi dengan negara-negara mitra dan komunitas internasional untuk menjaga keamanan Laut Merah serta mencegah Bab al-Mandeb berubah menjadi titik krisis baru yang mengancam kepentingan ekonomi dunia. (haidar/andalusmedia.id)














