Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah milisi Syiah Houthi di Yaman melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke dua fasilitas minyak strategis Arab Saudi di pesisir Laut Merah.
Serangan yang terjadi pada Sabtu (25/7/2026) itu menyasar fasilitas milik Saudi Aramco di Yanbu dan Jizan, memperluas dampak konflik yang sebelumnya berpusat di Iran, Teluk Persia, dan Selat Hormuz.
Menurut laporan Al Jazeera yang mengutip media Al Masirah pada Ahad (26/7), Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone sebagai respons atas serangan udara pasukan yang didukung Riyadh terhadap wilayah Yaman.
Kelompok tersebut menyatakan operasi itu bertujuan menekan Arab Saudi agar menghentikan dukungan militernya dalam konflik yang semakin meluas di kawasan.
Al Jazeera melaporkan bahwa Yanbu dan Jizan dipilih sebagai sasaran karena keduanya merupakan pusat penting ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah. Yanbu memiliki nilai strategis yang semakin besar setelah sebagian jalur ekspor minyak Saudi dialihkan dari Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan di Teluk Persia.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sebagian rudal dan drone yang mengarah ke wilayah kerajaan. Meski demikian, sejumlah rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan ledakan dan kebakaran di sekitar fasilitas energi di Jizan.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan kelompoknya akan terus menargetkan fasilitas ekonomi Arab Saudi.
“Operasi ini merupakan respons terhadap agresi yang terus berlangsung terhadap rakyat Yaman. Kami memiliki hak untuk menyerang target-target yang mendukung perang terhadap negara kami,” ujar Yahya Saree dalam pernyataan yang disiarkan media Houthi.
Baca Artikel Lainnya: PBB Peringatkan 74 Ribu Anak Gaza Berisiko Malnutrisi Akut dalam Setahun
Sebagai balasan, pasukan yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan udara ke sejumlah posisi Houthi di Hodeidah dan beberapa wilayah lain di Yaman.
Reuters melaporkan bentrokan terbaru ini secara efektif mengakhiri ketenangan yang relatif terjaga sejak gencatan senjata pada 2022 dan meningkatkan risiko pecahnya kembali perang terbuka antara Houthi dan Arab Saudi.
Eskalasi tersebut turut mengguncang pasar energi dunia. Kekhawatiran terhadap keamanan jalur ekspor minyak Saudi menyebabkan harga minyak bergerak naik, sementara pasar saham di sejumlah negara Teluk mengalami tekanan karena meningkatnya ketidakpastian.
Selain menyerang fasilitas minyak, Houthi sebelumnya juga mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan mengancam lalu lintas kapal di Laut Merah serta Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden AS Donald Trump dilaporkan menunda serangan baru terhadap Iran selama dua malam berturut-turut untuk memberikan ruang bagi upaya diplomasi yang dimediasi Oman.
Meski demikian, Washington tetap mempertahankan tekanan militer dan blokade laut terhadap Iran, sembari memperingatkan bahwa respons yang lebih keras dapat dilakukan apabila serangan terhadap sekutu-sekutunya terus berlanjut. (haidar/andalusmedia.id)














