Kelompok Houthi kembali melontarkan ancaman keras kepada Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan di Yaman. Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, menyatakan seluruh fasilitas minyak dan infrastruktur strategis Arab Saudi akan menjadi target serangan apabila Riyadh memutuskan memperluas operasi militernya terhadap wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Abdul Malik al-Houthi dalam pidato pada Kamis (16/7/2026), hanya beberapa hari setelah Bandara Internasional Sanaa dihantam serangan udara yang menurut Houthi dilakukan oleh Arab Saudi.
Dalam pidatonya yang dikutip Channel News Asia, Abdul Malik menegaskan kelompoknya telah menyiapkan rudal balistik dan pesawat nirawak untuk menyerang berbagai fasilitas penting di Arab Saudi apabila konflik terus meningkat.
“Semua fasilitas minyak dan instalasi vital Arab Saudi adalah target bagi rudal dan drone kami jika negara itu melibatkan dirinya dalam agresi skala penuh terhadap negara kami dan bergerak menuju eskalasi,” ujar Abdul Malik al-Houthi.
Ia juga menegaskan Houthi akan menerapkan pola balasan yang sama terhadap setiap serangan yang diterima.
“Bandara dibalas bandara, pelabuhan dibalas pelabuhan, dan blokade dibalas blokade,” katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kelompok Houthi siap memperluas sasaran serangan apabila perang kembali meningkat seperti yang terjadi pada tahun-tahun awal konflik Yaman.
Ancaman terbaru itu muncul setelah Houthi menuduh Arab Saudi berada di balik serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa pada Senin (13/7/2026). Kelompok tersebut menyebut serangan itu sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang selama beberapa tahun terakhir berhasil menekan intensitas pertempuran.
Sebagai balasan, Houthi meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke Bandara Internasional Abha di wilayah selatan Arab Saudi.
Pihak Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Houthi sebelum mencapai sasaran. Riyadh juga memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan besar akibat serangan tersebut.
Sementara itu, pemerintah Yaman yang berbasis di Aden dan didukung Arab Saudi menjelaskan bahwa serangan terhadap Bandara Sanaa dilakukan untuk mencegah sebuah pesawat Iran mendarat di ibu kota Yaman.
Menurut pemerintah Yaman, pesawat tersebut membawa delegasi Houthi dari Teheran dan dinilai melanggar mekanisme penerbangan sipil yang berlaku di negara itu.
Baca Atikel Lainnya: Serangan Israel Hapus Satu Keluarga di Gaza, Faksi Palestina Desak Dunia Hentikan Genosida
Selama bertahun-tahun, seluruh penerbangan menuju wilayah yang dikuasai Houthi harus memperoleh izin dari koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, Houthi bersama Iran berupaya membuka jalur penerbangan langsung dari Teheran menuju Sanaa tanpa melalui mekanisme yang selama ini diterapkan koalisi.
Langkah tersebut memicu ketegangan baru antara Houthi, pemerintah Yaman, dan Arab Saudi karena dinilai berkaitan dengan penguasaan wilayah udara Yaman.
Di tengah meningkatnya konflik, Houthi juga mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah pesawat nirawak milik Arab Saudi pada Selasa (14/7/2026).
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Arab Saudi mengenai klaim tersebut. Riyadh juga belum memberikan tanggapan atas ancaman terbaru yang disampaikan pemimpin Houthi.
Para pengamat menilai ancaman terhadap fasilitas minyak Arab Saudi bukan hal baru. Selama perang Yaman, Houthi beberapa kali melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke instalasi energi Saudi, termasuk kilang minyak dan fasilitas milik Saudi Aramco.
Serangan-serangan tersebut sempat memengaruhi produksi minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.
Eskalasi terbaru menjadi yang paling serius sejak gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai berlaku pada 2022. Meski kesepakatan itu berhasil menurunkan intensitas perang, proses perdamaian hingga kini belum menghasilkan penyelesaian politik yang permanen.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika aksi saling serang terus berlanjut, Yaman berpotensi kembali memasuki perang berskala besar. Kondisi tersebut tidak hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan dan distribusi energi di kawasan Timur Tengah.
Dengan hubungan Arab Saudi, Houthi, dan Iran yang kembali memanas, perkembangan dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan akan menjadi penentu apakah kawasan mampu mempertahankan stabilitas atau justru kembali memasuki fase konflik yang lebih luas. (haidar/andalusmedia.id)














