Menteri Wakaf Republik Arab Suriah, Syaikh Dr. Muhammad Abu Al-Khair Shukri, menghadiri Forum Islam Internasional pertama yang diselenggarakan di Tashkent, Uzbekistan, pada Jumat (10/7/2026). Forum bergengsi ini digelar oleh Pusat Peradaban Islam Uzbekistan bekerja sama dengan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Dunia Islam (ISESCO) dengan mengangkat tema “Peradaban Islam: Jalan Perdamaian, Toleransi, dan Pengetahuan.”
Forum tersebut mempertemukan para menteri wakaf, mufti, ulama, akademisi, serta peneliti dari berbagai negara di dunia Islam. Kehadiran para tokoh lintas negara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama antarlembaga keagamaan dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam dewasa ini.
Dalam pidatonya mewakili Republik Arab Suriah, Dr. Mohamed Abu Al-Khair Shukri menegaskan pentingnya membangun sinergi antara lembaga keagamaan dan lembaga ilmiah di dunia Islam. Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan untuk memperkuat nilai-nilai perdamaian, toleransi, moderasi, serta memperlihatkan wajah Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Ia juga menekankan bahwa kerja sama antarlembaga tidak hanya berhenti pada pertemuan seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk pertukaran pengalaman, pengembangan program bersama, serta kerja nyata yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Selain menghadiri sidang utama, Menteri Wakaf Suriah juga mengikuti sejumlah agenda forum yang berlangsung di beberapa kota di Uzbekistan, seperti Tashkent, Samarkand, dan Termez. Rangkaian kegiatan tersebut berfokus pada kajian mengenai warisan intelektual dan spiritual peradaban Islam serta penguatan dialog antarulama dan institusi keagamaan.
Bertemu Ustadz Zaitun Rasmin dan Tokoh Dunia Islam
Di sela-sela penyelenggaraan forum, Menteri Wakaf Suriah mengadakan sejumlah pertemuan bilateral dengan para pejabat, ulama, dan tokoh Islam dari berbagai negara peserta. Salah satu tokoh yang turut hadir dalam forum tersebut adalah Ustadz Zaitun Rasmin, ulama asal Indonesia yang dikenal aktif dalam berbagai forum internasional dan kegiatan dakwah di tingkat global.
Pertemuan antara Menteri Wakaf Suriah dan Ustadz Zaitun Rasmin menjadi salah satu momen yang mencerminkan semakin terbukanya komunikasi antara Suriah dengan para ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara. Meski tidak dijelaskan secara rinci isi pembicaraan mereka, Kementerian Wakaf Suriah menyebutkan bahwa berbagai pertemuan sampingan dalam forum tersebut membahas peluang memperluas kerja sama, memperkuat pertukaran pengalaman, serta meningkatkan koordinasi dalam bidang dakwah, pendidikan, dan pengembangan lembaga keagamaan.
Forum ini sendiri menjadi wadah bagi para pemimpin agama untuk saling bertukar pandangan mengenai tantangan yang dihadapi dunia Islam, sekaligus mencari titik temu dalam membangun kerja sama yang lebih erat di bidang pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan pengembangan peradaban Islam.
Melalui forum tersebut, para peserta juga diajak menelusuri kembali khazanah intelektual Islam yang pernah berkembang di wilayah Asia Tengah, sekaligus menggali nilai-nilai yang dapat menjadi landasan bagi terciptanya perdamaian, dialog, dan kerja sama antarbangsa.
Partisipasi Menteri Wakaf Suriah dalam forum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan Suriah dengan berbagai lembaga keagamaan di dunia Islam setelah beberapa tahun terakhir negara tersebut kembali aktif dalam berbagai kegiatan internasional. Kehadiran para ulama dan tokoh dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan pentingnya membangun komunikasi lintas negara dalam rangka memperkuat ukhuwah Islamiyah dan memperluas kerja sama di berbagai bidang yang bermanfaat bagi umat.
Forum Islam Internasional di Uzbekistan diharapkan menjadi langkah awal lahirnya berbagai program kolaborasi antara lembaga keagamaan, akademisi, dan para ulama dari berbagai penjuru dunia, sehingga warisan peradaban Islam dapat terus dikembangkan sebagai sumber inspirasi dalam membangun masyarakat yang damai, moderat, berilmu, dan saling menghormati. (ahmad/andalusmedia.id)














