Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan bahwa upaya Israel untuk menghancurkan Hizbullah dan memperluas pengaruhnya di Lebanon telah gagal. Dalam pidato terbarunya, ia juga mengungkapkan bahwa Suriah menolak berbagai tekanan yang bertujuan mendorong Damaskus ikut terlibat dalam operasi melawan Hizbullah.
Dilansir dari Al-Araby Al-Jadeed pada 19 Juni 2026, Qassem menyampaikan pernyataan tersebut saat berpidato dalam Majelis Asyura Pusat Hizbullah di Beirut. Menurutnya, kelompok yang dipimpinnya tetap mampu bertahan meski menghadapi tekanan militer, politik, dan ekonomi yang terus meningkat sejak konflik terbaru dengan Israel pecah.
“Israel akan dipaksa mundur dari setiap jengkal tanah kami,” tegas Qassem.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel serta perdebatan internasional mengenai masa depan keamanan kawasan.
Hizbullah Tuding Ada Strategi Bersama AS dan Israel
Dalam pidatonya, Qassem menggambarkan situasi Lebanon saat ini sebagai salah satu periode paling berbahaya dalam sejarah modern negara tersebut.
Ia menuduh Amerika Serikat dan Israel menjalankan strategi bersama untuk melemahkan Hizbullah serta menghapus pengaruh kelompok tersebut dari panggung politik dan keamanan Lebanon.
Menurut Qassem, tekanan yang diberikan tidak hanya berbentuk operasi militer, tetapi juga melalui jalur diplomasi, ekonomi, media, dan keamanan.
“Amerika Serikat mengatur rencana ini secara menyeluruh dengan menggunakan seluruh sumber daya yang dimilikinya,” ujarnya.
Meski demikian, Qassem mengklaim bahwa kegagalan pihak lawan mencapai targetnya sudah menjadi bukti keberhasilan Hizbullah mempertahankan posisinya.
Suriah Disebut Menolak Tekanan untuk Intervensi
Salah satu poin penting dalam pidato Qassem adalah klaim mengenai tekanan terhadap Suriah agar ikut terlibat dalam konflik melawan Hizbullah.
Menurutnya, terdapat upaya untuk mendorong Damaskus membuka jalur tekanan dari arah timur Lebanon sehingga Hizbullah menghadapi ancaman dari dua sisi sekaligus, sementara Israel melanjutkan operasi militernya dari selatan.
Namun Qassem mengatakan pemerintah Suriah menolak skenario tersebut.
“Ada tekanan terhadap Suriah agar ikut campur dari arah timur dan membentuk gerakan menjepit bersama Israel dari utara. Namun Suriah menolak hal itu,” katanya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap resmi Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa yang dalam beberapa pekan terakhir berulang kali membantah adanya rencana intervensi militer ke Lebanon.
Damaskus juga menegaskan bahwa pihaknya tidak berniat terlibat dalam operasi melawan Hizbullah maupun memasuki wilayah Lebanon.
Baca Artikel Lainnya: Israel Tolak Usulan Trump soal Hizbullah, Katz Tegaskan Tak Butuh Bantuan Suriah
Hizbullah Klaim Tingkatkan Kekuatan Militer
Selain membahas perkembangan politik regional, Qassem juga mengungkapkan bahwa Hizbullah telah melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kemampuan tempurnya sejak konflik terbaru dengan Israel berlangsung.
Ia mengklaim kelompoknya berhasil meningkatkan sejumlah kemampuan militer, termasuk pengembangan sistem persenjataan baru dan peningkatan efektivitas penggunaan drone di medan perang.
Menurutnya, Hizbullah juga terus menyesuaikan strategi tempur untuk menghadapi perubahan kondisi di lapangan.
Meski tidak memberikan rincian teknis, Qassem menegaskan bahwa kelompoknya kini berada dalam posisi yang lebih siap dibandingkan sebelumnya.
Fokus Bantu Korban Konflik
Di luar aspek militer, Hizbullah juga mengklaim aktif membantu masyarakat yang terdampak perang.
Qassem menyebut organisasinya telah berperan dalam penyediaan bantuan kemanusiaan dan dukungan sosial bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik.
Menurutnya, sekitar 300.000 keluarga telah menerima berbagai bentuk bantuan selama periode konflik berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya Hizbullah menunjukkan bahwa perannya tidak hanya terbatas pada aspek militer, tetapi juga dalam penanganan dampak sosial perang.
Lebanon dan Suriah Tolak Gagasan Trump
Pidato Qassem muncul ketika usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Suriah menangani Hizbullah masih menjadi perdebatan di kawasan.
Gagasan tersebut sebelumnya telah ditolak oleh pemerintah Lebanon maupun Suriah. Beirut menegaskan tidak akan menerima campur tangan negara lain dalam urusan dalam negerinya, sementara Damaskus menolak segala spekulasi mengenai keterlibatan militer di Lebanon.
Sumber resmi Lebanon yang dikutip Al-Araby Al-Jadeed juga menyatakan bahwa hubungan antara Lebanon dan Suriah tetap didasarkan pada prinsip penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara.
Dengan penolakan dari Beirut dan Damaskus, usulan Trump hingga kini belum mendapat dukungan nyata di tingkat regional. Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Lebanon-Israel masih menjadi isu yang sangat sensitif dan melibatkan berbagai kepentingan geopolitik di Timur Tengah. (haidar/andalusmedia.id)














