Gagasan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta Israel menyerahkan penanganan Hizbullah kepada Suriah terus menuai kritik. Sejumlah anggota Senat AS dan pakar kebijakan Timur Tengah meragukan kemampuan Damaskus untuk mengambil peran yang selama ini dijalankan Israel dalam menghadapi kelompok yang berbasis di Lebanon tersebut.
Dilansir dari Syria TV pada Kamis (18/6/2026), kritik tersebut muncul setelah Trump berulang kali menyampaikan pandangannya bahwa Suriah di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa dapat menangani Hizbullah dengan lebih efektif dibandingkan operasi militer Israel yang selama ini berlangsung di Lebanon Selatan.
Pernyataan Trump sebelumnya memicu perdebatan luas di Washington maupun di kawasan Timur Tengah. Banyak pihak mempertanyakan dasar dari usulan tersebut mengingat kompleksitas hubungan antara Suriah, Lebanon, Hizbullah, Iran, dan berbagai aktor regional lainnya.
Menurut laporan yang mengutip analisis dari Jewish Institute for National Security of America (JINSA), sejumlah senator dan pengamat kebijakan luar negeri menilai ide tersebut sulit diterapkan dalam kondisi geopolitik saat ini.
Suriah Dinilai Tak Lebih Efektif dari Israel
Analis Kebijakan Senior JINSA, Yoni Tobin, menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritik usulan Trump. Ia menilai asumsi bahwa Suriah mampu menghadapi Hizbullah lebih baik dibandingkan Israel tidak memiliki dasar yang kuat.
Menurut Tobin, Israel telah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk memahami jaringan Hizbullah, mulai dari operasi intelijen, pemetaan struktur organisasi, hingga berbagai operasi militer yang dilakukan di Lebanon.
“Keyakinan bahwa Suriah lebih mampu daripada Israel dalam menghadapi Hizbullah adalah sebuah khayalan,” kata Tobin.
Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun Israel telah membangun jaringan informasi yang luas mengenai aktivitas Hizbullah. Pengalaman tersebut membuat Tel Aviv memiliki pemahaman yang jauh lebih mendalam mengenai pola operasi kelompok tersebut dibandingkan negara lain di kawasan.
Selain itu, Tobin juga menyinggung berbagai operasi yang menurutnya berhasil melemahkan kemampuan Hizbullah dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, ia menilai sulit membayangkan Suriah dapat menggantikan peran yang selama ini dijalankan Israel.
Dikhawatirkan Perkuat Pengaruh Turki
Selain mempertanyakan efektivitasnya, sejumlah pengamat juga mengingatkan kemungkinan munculnya dampak geopolitik baru apabila Suriah benar-benar diberi ruang untuk terlibat dalam urusan keamanan Lebanon.
Menurut Tobin, berkurangnya pengaruh Hizbullah yang selama ini didukung Iran berpotensi menciptakan kekosongan kekuatan di Lebanon. Kekosongan tersebut dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh pihak lain, terutama Turki.
Ia menghubungkan kekhawatiran itu dengan hubungan yang semakin erat antara Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.
Menurutnya, apabila Damaskus berhasil memperluas pengaruhnya di Lebanon, maka Ankara juga berpotensi memperoleh keuntungan strategis yang lebih besar di kawasan.
“Alih-alih menghilangkan ancaman, situasi tersebut justru dapat mengganti pengaruh Iran di perbatasan utara Israel dengan pengaruh Turki,” ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa sebagian kalangan di Washington dan Tel Aviv melihat persoalan Hizbullah bukan sekadar isu keamanan, tetapi juga bagian dari persaingan pengaruh regional yang lebih luas.
Baca Artikel Lainnya: Menteri Israel Prediksi Konflik dengan Suriah Usai Kesepakatan Damai AS-Iran, Damaskus Jadi Sorotan Baru
Trump Terus Kritik Operasi Israel
Kontroversi bermula setelah Trump beberapa kali mengkritik serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon. Presiden AS itu menilai operasi militer yang berlangsung selama berbulan-bulan belum menghasilkan solusi permanen dan justru berisiko memperluas konflik.
Trump bahkan menyarankan agar Israel memberi kesempatan kepada Suriah untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadapi Hizbullah.
Menurut Trump, pemerintahan Suriah saat ini dinilai lebih stabil dibandingkan beberapa tahun lalu dan memiliki peluang untuk membantu menciptakan keamanan di wilayah perbatasan Lebanon.
Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian karena berbeda dengan pendekatan tradisional Washington yang selama ini lebih banyak mendukung langkah-langkah keamanan Israel.
Damaskus Tegaskan Tak Akan Intervensi Lebanon
Di sisi lain, pemerintah Suriah sendiri telah berulang kali membantah spekulasi mengenai kemungkinan keterlibatan militernya di Lebanon.
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa sebelumnya menegaskan bahwa Damaskus tidak memiliki rencana untuk mengirim pasukan ataupun melakukan operasi militer terhadap Hizbullah.
Menurut al-Sharaa, berbagai laporan yang menyebut Suriah akan masuk ke Lebanon hanyalah rumor yang tidak berdasar.
Sikap tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara Washington dan Damaskus mengenai masa depan keamanan Lebanon. Suriah tampaknya lebih memilih fokus pada agenda pemulihan ekonomi dan stabilitas domestik dibandingkan membuka front baru di negara tetangga.
Dengan munculnya kritik dari senator AS, analis keamanan, dan penolakan langsung dari Damaskus, usulan Trump untuk menyerahkan penanganan Hizbullah kepada Suriah masih jauh dari kemungkinan untuk diwujudkan. Perdebatan ini sekaligus menunjukkan betapa rumitnya dinamika politik dan keamanan yang terus membentuk masa depan Timur Tengah. (haidar/andalusmedia.id)














