Pemerintah Suriah resmi menandatangani kesepakatan strategis dengan perusahaan energi asal Amerika Serikat, ConocoPhillips, serta Novaterra Energy untuk mengembangkan sektor gas alam negara tersebut. Kerja sama ini diharapkan menjadi salah satu langkah penting dalam memulihkan industri energi Suriah yang mengalami kerusakan besar akibat konflik berkepanjangan selama hampir 14 tahun.
Dilansir dari Reuters pada 16 Juni 2026, nota kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Syrian Petroleum Company bersama ConocoPhillips dan Novaterra Energy di Damaskus. Kesepakatan ini mencakup pengembangan ladang gas baru serta peningkatan produksi dari fasilitas yang sudah ada.
Pemerintah Suriah menilai sektor energi merupakan salah satu kunci utama dalam proses pemulihan ekonomi nasional. Selama bertahun-tahun perang, banyak infrastruktur minyak dan gas mengalami kerusakan akibat pertempuran, sabotase, hingga kurangnya investasi dan perawatan.
Menteri Energi Suriah, Mohamed al-Bashir, mengatakan proyek tersebut dirancang untuk meningkatkan pasokan energi domestik sekaligus memperkuat stabilitas jaringan listrik nasional yang selama ini sering mengalami gangguan.
Menurutnya, peningkatan produksi gas akan memberikan dampak langsung terhadap kemampuan pembangkit listrik nasional dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor industri.
Produksi Gas Suriah Turun Drastis
Sebelum konflik pecah pada 2011, Suriah merupakan salah satu produsen gas alam yang cukup penting di kawasan. Produksi gas domestik saat itu mencapai sekitar 8,7 miliar meter kubik per tahun.
Namun perang yang berlangsung selama lebih dari satu dekade menyebabkan banyak fasilitas energi tidak dapat beroperasi secara optimal. Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan produksi gas Suriah turun menjadi sekitar 3 miliar meter kubik pada 2023.
Penurunan tajam tersebut berdampak besar terhadap pasokan listrik nasional. Banyak wilayah Suriah mengalami pemadaman listrik berkepanjangan akibat keterbatasan bahan bakar untuk pembangkit listrik.
Karena itu, pemerintah menempatkan sektor energi sebagai salah satu prioritas utama dalam agenda rekonstruksi dan pembangunan ekonomi pascaperang.
ConocoPhillips Kembali ke Suriah
Kesepakatan terbaru ini juga menandai kembalinya ConocoPhillips ke Suriah setelah meninggalkan negara tersebut sekitar dua dekade lalu.
Ketua dan CEO ConocoPhillips, Ryan Lance, menyatakan bahwa perusahaan melihat peluang besar untuk mendukung kebangkitan sektor energi Suriah. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini bukan hanya investasi bisnis, tetapi juga bagian dari upaya membangun kembali industri energi yang pernah menjadi tulang punggung perekonomian Suriah.
“Kami pernah beroperasi di Suriah beberapa dekade lalu, dan sekarang kami kembali melalui kemitraan dengan Novaterra untuk membantu mengembangkan sektor energi negara ini,” ujarnya dalam konferensi pers di Damaskus.
Ryan Lance juga mengungkapkan optimismenya bahwa produksi gas Suriah dapat meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan apabila proyek berjalan sesuai rencana.
Baca Artikel Lainnya: ISIS Klaim Serangan ke Markas Polisi di Raqqa, Satu Anggota Keamanan Suriah Tewas
Dukungan Teknologi dan Pelatihan Modern
Selain investasi dan pengembangan produksi, Novaterra Energy juga akan berperan dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor energi Suriah.
CEO Novaterra Energy, Alex Macdonald, mengatakan perusahaannya akan menyediakan program pelatihan teknis, transfer teknologi, serta akses ke perangkat lunak dan sistem manajemen energi modern.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan energi Suriah mengadopsi standar industri internasional sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Menurut Macdonald, modernisasi teknologi menjadi faktor penting untuk memastikan keberhasilan proyek energi dalam jangka panjang.
Presiden Al-Sharaa Sambut Investasi Baru
Setelah penandatanganan nota kesepahaman, Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menerima delegasi perusahaan di Istana Kepresidenan Damaskus.
Pertemuan tersebut dihadiri Ryan Lance, Alex Macdonald, serta pengusaha Suriah Ayman Asfari yang selama ini dikenal aktif dalam sektor energi dan investasi internasional.
Pemerintah Suriah berharap masuknya perusahaan-perusahaan internasional dapat membuka peluang investasi baru di berbagai sektor strategis lainnya, termasuk infrastruktur, transportasi, dan industri manufaktur.
Sementara itu, CEO Syrian Petroleum Company, Youssef Qabalawi, mengungkapkan bahwa kerja sama ini ditargetkan mampu meningkatkan produksi gas Suriah sekitar 4 hingga 5 juta meter kubik per hari dalam waktu satu tahun.
Jika target tersebut tercapai, sektor energi Suriah diperkirakan akan mengalami peningkatan signifikan dan menjadi salah satu pendorong utama pemulihan ekonomi nasional pascaperang. (haidar/andalusmedia.id)














