Di tengah meningkatnya spekulasi mengenai kemungkinan keterlibatan Suriah perangi Hizbullah, Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa akhirnya angkat bicara. Ia menepis berbagai laporan yang menyebut Damaskus bersiap memasuki Lebanon atau membuka konfrontasi militer terhadap Hizbullah.
Dilansir dari Euronews Arabic dan sejumlah media Arab lainnya, Al-Sharaa menegaskan bahwa informasi mengenai Suriah yang akan terlibat langsung dalam perang di Lebanon tidak lebih dari sekadar rumor yang tidak berdasar.
Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menerima delegasi tokoh masyarakat dari wilayah pedesaan Damaskus di Istana Rakyat. Dalam kesempatan itu, Al-Sharaa menjelaskan bahwa kebijakan Suriah saat ini berorientasi pada upaya menghentikan perang dan mencegah meluasnya konflik regional, bukan justru ikut terjun ke dalamnya.
“Pendekatan kami adalah menghentikan perang, bukan memperluasnya,” tegas Al-Sharaa.
Pernyataan ini menjadi penting karena muncul di tengah derasnya spekulasi regional setelah sejumlah laporan menyebut Amerika Serikat mendorong Damaskus agar mengambil peran lebih aktif dalam menghadapi Hizbullah di Lebanon.
Muncul Setelah Tekanan Amerika Serikat
Rumor keterlibatan Suriah tidak muncul begitu saja.
Beberapa hari sebelumnya, AFP mengutip sumber diplomatik yang menyebut bahwa Washington telah memberikan tekanan kepada Damaskus sejak pecahnya perang terbaru antara Israel dan Hizbullah pada Maret lalu.
Menurut laporan tersebut, Amerika Serikat berharap pemerintahan baru Suriah dapat membantu menekan pengaruh Hizbullah di Lebanon, terutama di wilayah perbatasan yang selama bertahun-tahun menjadi jalur logistik penting kelompok tersebut.
Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengisyaratkan kemungkinan peran Suriah dalam menghadapi Hizbullah.
Dalam salah satu pernyataannya, Trump mengatakan bahwa Washington ingin melihat langkah yang lebih efektif terhadap kelompok yang didukung Iran tersebut dan menyebut Suriah sebagai salah satu pihak yang mungkin dapat berkontribusi dalam upaya tersebut.
Pernyataan Trump langsung memicu spekulasi luas di media internasional bahwa Damaskus sedang dipersiapkan menjadi bagian dari strategi baru Amerika Serikat dan sekutunya untuk melemahkan Hizbullah.
Namun bantahan Al-Sharaa menunjukkan bahwa pemerintah Suriah belum memiliki niat untuk terlibat dalam agenda tersebut.
Prioritas Suriah Bukan Perang, Tetapi Pengungsi
Alih-alih membahas operasi militer atau konfrontasi lintas batas, Al-Sharaa justru menyoroti persoalan yang menurutnya jauh lebih mendesak, yakni nasib jutaan pengungsi Suriah.
Ia menjelaskan bahwa isu hubungan Suriah-Lebanon saat ini lebih banyak berkaitan dengan upaya memulangkan warga Suriah yang masih berada di Lebanon daripada persoalan keamanan atau konflik bersenjata.
Menurut Al-Sharaa, sekitar 1,4 juta pengungsi Suriah masih tinggal di Lebanon dan membutuhkan solusi yang realistis agar dapat kembali ke tanah air mereka secara aman dan bertahap.
Karena itu, pemerintah Suriah saat ini lebih fokus membangun mekanisme pemulangan pengungsi serta mempercepat pemulihan wilayah-wilayah yang rusak akibat perang panjang.
Dalam pandangannya, persoalan tersebut jauh lebih penting dibanding membuka front konflik baru yang justru berpotensi memperburuk situasi kawasan.
Penetapan Batas Wilayah Juga Belum Menjadi Prioritas
Al-Sharaa juga menyinggung isu lain yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara Beirut dan Damaskus, yakni penetapan batas wilayah kedua negara.
Menurutnya, persoalan tersebut memang penting, namun bukan prioritas utama pada tahap sekarang.
Pemerintah Suriah saat ini lebih memilih memusatkan perhatian pada agenda rekonstruksi, pemulihan ekonomi, dan pengembalian jutaan warga yang terdampak perang.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintahan baru Suriah berusaha menghindari berbagai isu sensitif yang dapat memicu ketegangan baru dengan Lebanon maupun negara-negara tetangga lainnya.
Damaskus Isyaratkan Peran Harus Disepakati Lebanon
Sementara itu, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, Noureddine al-Baba, memberikan penjelasan tambahan mengenai posisi resmi Damaskus.
Ia menegaskan bahwa Suriah mendukung Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negaranya.
Menurutnya, jika suatu saat Suriah memiliki peran tertentu dalam membantu penyelesaian persoalan Lebanon, maka hal tersebut harus dilakukan atas dasar koordinasi dan persetujuan pemerintah Lebanon sendiri.
Dengan kata lain, Damaskus tidak akan mengambil langkah sepihak ataupun melakukan intervensi tanpa adanya kesepakatan resmi dengan Beirut.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintahan Al-Sharaa berusaha membangun hubungan yang lebih seimbang dengan Lebanon dibandingkan era sebelumnya yang sering diwarnai tuduhan campur tangan politik maupun keamanan.
Di Tengah Perubahan Besar Kawasan
Sikap Al-Sharaa ini muncul pada saat Timur Tengah sedang mengalami perubahan geopolitik yang signifikan.
Perang antara Israel dan Hizbullah masih menyisakan ketegangan meski berbagai upaya gencatan senjata terus dilakukan. Di saat yang sama, hubungan Suriah dengan Amerika Serikat menunjukkan perkembangan baru setelah Washington mulai membuka jalur komunikasi dengan Damaskus.
Belakangan bahkan muncul laporan mengenai kemungkinan pertemuan langsung antara Ahmad al-Sharaa dan Donald Trump di Washington. Jika benar terjadi, pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas sejumlah isu besar, mulai dari pencabutan status Suriah sebagai negara sponsor terorisme, rekonstruksi ekonomi, hingga masa depan keamanan regional.
Dalam konteks inilah rumor mengenai keterlibatan Suriah melawan Hizbullah muncul dan menjadi perhatian banyak pihak.
Namun setidaknya untuk saat ini, pesan yang disampaikan Al-Sharaa cukup jelas: Suriah tidak ingin terseret ke dalam perang baru di Lebanon. Prioritas Damaskus adalah membangun kembali negaranya yang hancur akibat perang, memulangkan jutaan pengungsi, serta menjaga stabilitas kawasan agar konflik tidak semakin meluas. (ahmad/andalusmedia.id)














