Dilansir dari Syria TV, Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki rencana untuk menarik pasukan dari wilayah-wilayah yang saat ini didudukinya di Suriah, Lebanon, maupun Jalur Gaza.
Pernyataan tersebut disampaikan Katz pada Jumat (13/6) melalui akun resminya di platform X. Ia menegaskan bahwa keberadaan militer Israel di wilayah-wilayah tersebut akan tetap dipertahankan dengan alasan menghadapi apa yang disebutnya sebagai “ancaman dekat dan jauh” terhadap keamanan Israel.
Menurut Katz, pengalaman serangan 7 Oktober 2023 telah mengubah doktrin keamanan Israel secara mendasar. Karena itu, Tel Aviv tidak lagi ingin bergantung sepenuhnya pada kesepakatan politik atau jaminan internasional, melainkan berupaya mempertahankan kehadiran militernya secara langsung di berbagai kawasan yang dianggap strategis.
Suriah Tetap Menjadi Target Strategis Israel
Pernyataan ini menjadi perhatian khusus bagi Suriah. Sejak tumbangnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, Israel terus memperluas aktivitas militernya di wilayah selatan Suriah, terutama di sekitar Quneitra dan kawasan yang berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan yang masih diduduki Israel.
Berbagai laporan sebelumnya menunjukkan bahwa pasukan Israel telah membangun sejumlah titik militer baru dan memperluas zona kontrol keamanan mereka di wilayah perbatasan. Langkah tersebut berulang kali menuai kecaman dari pemerintah Suriah yang menilai tindakan itu sebagai bentuk pendudukan yang melanggar kedaulatan negara.
Kini, pernyataan Katz semakin memperjelas bahwa Israel tidak melihat keberadaannya di wilayah tersebut sebagai langkah sementara, melainkan bagian dari strategi jangka panjang.
“Israel tidak akan menarik diri dari zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza,” tegas Katz.
Ia menambahkan bahwa militer Israel akan terus beroperasi di wilayah-wilayah tersebut sebagai bagian dari konsep keamanan baru yang diterapkan pemerintah Benjamin Netanyahu.
Muncul di Tengah Isu Kesepakatan AS-Iran
Pernyataan Menteri Pertahanan Israel ini muncul hanya beberapa jam setelah muncul berbagai laporan mengenai perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut sejumlah laporan media internasional yang dikutip Syria TV, Washington dan Teheran sedang mempersiapkan rancangan akhir kesepakatan yang mencakup penghentian perang, perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga pembahasan mengenai program nuklir Iran.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Amerika Serikat juga disebut akan melonggarkan sebagian sanksi terhadap Iran dan membuka jalan bagi proses normalisasi tertentu.
Yang menarik, sejumlah laporan menyebut bahwa Washington berjanji akan menekan Israel untuk menghentikan operasi militernya di Lebanon. Namun hingga kini belum ada indikasi bahwa tekanan serupa akan berlaku terhadap aktivitas Israel di Suriah.
Kondisi inilah yang membuat pernyataan Katz dianggap sebagai pesan politik yang jelas bahwa Israel tidak berniat mengubah posisinya di wilayah-wilayah yang telah didudukinya, terlepas dari perkembangan diplomatik yang sedang berlangsung.
Ancaman Baru bagi Stabilitas Kawasan
Bagi Suriah, pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa pendudukan Israel di wilayah selatan negara itu dapat berubah menjadi realitas jangka panjang.
Pemerintahan Presiden Ahmad Al-Sharaa dalam beberapa bulan terakhir berupaya mendapatkan dukungan internasional untuk mengakhiri pelanggaran kedaulatan Suriah dan menekan Israel agar menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki pasca-runtuhnya rezim Assad. Namun pernyataan terbaru dari Tel Aviv menunjukkan bahwa jalan menuju penyelesaian persoalan tersebut masih akan sangat panjang.
Di tengah upaya diplomatik Suriah membangun hubungan baru dengan Amerika Serikat dan berbagai negara Barat, sikap Israel ini berpotensi menjadi salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi Damaskus dalam waktu dekat.
Jika perundingan regional terus berkembang, pertanyaan besarnya adalah: apakah Washington benar-benar bersedia menekan Israel untuk menghormati kedaulatan Suriah, atau justru pendudukan di Quneitra dan wilayah sekitarnya akan menjadi bagian dari tatanan geopolitik baru Timur Tengah pasca-perang Iran dan Israel? (ahmad/andalusmedia.id)














