Di tengah upaya pemerintah Suriah yang baru untuk membangun kembali tentara dan memperkuat struktur keamanan negara, sebuah insiden serius terjadi di pedesaan Idlib pada Sabtu, 6 Juni 2026. Seorang komandan militer yang dikenal sebagai Mustafa al-Syisyani atau “Mustafa Rusia” tewas dalam sebuah serangan bersenjata yang dilakukan secara cepat dan terencana oleh dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor.
Menurut laporan lapangan, para pelaku mendekati mobil yang ditumpangi Mustafa bersama satu orang pengawalnya, mereka langsung melepaskan tembakan dari jarak dekat. Serangan itu berlangsung sangat singkat, tapi mematikan, sehingga keduanya meninggal di tempat tanpa sempat mendapat pertolongan.
Instruktur Militer Pasukan Elit Mujahidin Suriah
Mustafa al-Syisyani dikenal sebagai salah satu figur militer yang punya pengalaman panjang di medan perang Suriah. Ia pernah terlibat dalam satuan elit mujahidin dibawah naungan HTS bernama “Al-Asaib al-Hamra”, yang terkenal dengan operasi khusus dan infiltrasi di garis belakang musuh.
Kelompok “Al-Asaib al-Hamra” dikenal sebagai salah satu unit yang paling terlatih dalam melakukan operasi cepat dan berisiko tinggi. Mustafa sendiri punya peran penting sebagai pelatih dan komandan lapangan, yang membantu membentuk kemampuan tempur pasukan elit di masa perang.
Setelah perubahan besar di Suriah dan terbentuknya struktur pemerintahan baru, Mustafa kemudian masuk ke dalam pasukan khusus di bawah Kementerian Pertahanan Suriah. Dalam fase ini, ia dianggap sebagai salah satu aset penting karena pengalamannya yang bisa membantu membangun tentara baru yang lebih terorganisir dan tidak lagi berbasis kelompok-kelompok kecil.
Ancaman Berlapis, dari Sisa Sel ISIS, Hingga Jaringan Assad
Insiden ini memunculkan banyak pertanyaan tentang siapa yang berada di balik serangan tersebut. Sampai sekarang belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab, tapi banyak pengamat menilai bahwa situasi keamanan di Suriah saat ini masih sangat kompleks dan penuh ancaman dari berbagai arah.
Salah satu ancaman yang masih ada adalah sisa-sisa sel ISIS yang belum sepenuhnya hilang. Kelompok ini masih aktif dalam bentuk jaringan kecil yang melakukan serangan kilat, termasuk pembunuhan target tertentu untuk menciptakan kekacauan.
Selain itu, ada juga kekhawatiran soal jaringan lama yang masih setia dengan rezim Assad sebelumnya, yang menurut sebagian analis masih punya struktur tersembunyi dan bisa melakukan operasi balasan atau sabotase terhadap pemerintahan baru. Walaupun kekuatan mereka sudah jauh berkurang, keberadaan sel-sel kecil ini tetap dianggap sebagai risiko nyata.
Di sisi lain, ada juga ketegangan regional yang ikut memperumit situasi. Beberapa kelompok bersenjata di luar kontrol pusat, termasuk sebagian kelompok Druze yang pro-Israel di wilayah tertentu, disebut-sebut memiliki hubungan dengan aktor eksternal yang berkepentingan menjaga pengaruh di Suriah. Situasi ini membuat peta keamanan di lapangan menjadi sangat rumit dan tidak mudah diprediksi.
Dalam kondisi seperti ini, pemerintah Suriah yang baru sebenarnya sedang berusaha keras untuk menata ulang semua kekuatan bersenjata agar berada di bawah satu komando nasional. Langkah ini bukan hal mudah, karena banyak kelompok yang sebelumnya berperang di sisi berbeda kini harus disatukan dalam satu struktur negara.
Meski situasi terlihat sulit, banyak pihak menilai bahwa pemerintah Suriah yang baru justru sedang menunjukkan arah perubahan yang lebih terstruktur dibanding masa konflik sebelumnya. Upaya membangun institusi militer yang satu komando dianggap sebagai langkah penting untuk mengakhiri era kelompok bersenjata yang terpecah-pecah.
Namun tantangannya besar. Serangan seperti ini menunjukkan bahwa masih ada pihak-pihak yang ingin menggagalkan proses stabilisasi, baik dengan cara kekerasan, infiltrasi, maupun operasi rahasia yang sulit dilacak.
Di sisi lain, aparat keamanan dan intelijen Suriah kini berada dalam tekanan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini dan mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata ilegal. Keberhasilan mereka akan sangat menentukan apakah negara bisa benar-benar masuk ke fase stabil atau kembali terjebak dalam siklus kekerasan lama.
Pada akhirnya, pembunuhan Mustafa al-Syisyani bukan hanya soal satu tokoh yang hilang, tetapi juga gambaran dari tantangan besar yang sedang dihadapi Suriah hari ini. Negara sedang berusaha berdiri kembali, sementara di saat yang sama masih harus menghadapi ancaman dari berbagai sisi yang belum sepenuhnya hilang. (ahmad/andalusmedia.id)














