Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa bertemu dengan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaya Kallas, di Istana Rakyat, Damaskus, pada Selasa, 29 September 2026.
Pertemuan tersebut membahas perkembangan terbaru di kawasan serta langkah-langkah untuk mengembangkan hubungan antara Suriah dan Uni Eropa.
Menurut Kepresidenan Suriah, pembicaraan turut menyoroti perluasan kerja sama kedua pihak dalam sejumlah bidang yang dinilai berkaitan dengan stabilitas, rekonstruksi, dan pembangunan Suriah.
Menteri Luar Negeri dan Ekspatriat Suriah Asaad al-Shaibani turut menghadiri pertemuan tersebut.
Kallas Bahas Kerja Sama Sosial
Sebelum bertemu al-Sharaa, Kallas mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat Suriah dalam kunjungannya ke Damaskus.
Al-Shaibani menerima Kallas di Istana Tishreen. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas sejumlah aspek hubungan Suriah-Uni Eropa.
Kallas juga bertemu dengan Menteri Urusan Sosial dan Tenaga Kerja Suriah Hind Qabawat. Pertemuan itu membahas kerja sama di bidang perlindungan sosial, pembangunan berkelanjutan, pemberdayaan ekonomi, serta reintegrasi para pengungsi yang kembali ke Suriah.
Peran masyarakat sipil dalam penyediaan layanan dan upaya memperkuat kohesi sosial turut menjadi bagian dari pembahasan.
Agenda tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan Suriah-Uni Eropa tidak hanya mencakup hubungan politik, tetapi juga menyentuh persoalan sosial dan pembangunan.
Hubungan Suriah-Uni Eropa Memasuki Tahap Baru
Kunjungan Kallas berlangsung di tengah serangkaian langkah Uni Eropa untuk menghidupkan kembali hubungan dengan Suriah.
Menurut laporan tersebut, Uni Eropa mencabut sanksi ekonomi terhadap Suriah pada Mei 2025. Namun, sejumlah sanksi terkait keamanan serta sanksi terhadap individu dan entitas yang berhubungan dengan rezim sebelumnya tetap diberlakukan.
Pada Mei tahun ini, Uni Eropa juga memulihkan sepenuhnya perjanjian kerja sama dengan Suriah yang sebelumnya sebagian ditangguhkan sejak 2011.
Selain itu, tahun 2026 menandai kembalinya perwakilan diplomatik Eropa pada tingkat duta besar ke Damaskus setelah vakum selama sekitar 14 tahun.
Serangkaian perkembangan tersebut menjadi bagian dari perubahan hubungan kedua pihak. Hubungan yang sebelumnya berada pada tahap pemulihan kontak diplomatik kemudian berkembang menuju pembahasan kerja sama yang lebih luas.
Baca Artikel Lainnya: Benteng Terakhir Umat, Mengapa Peran Muslimah Penting dalam Mendidik Generasi
Fokus pada Stabilitas dan Rekonstruksi
Dalam pertemuan al-Sharaa dan Kallas, isu stabilitas dan pembangunan menjadi salah satu perhatian utama. Suriah tengah menghadapi kebutuhan besar terhadap rekonstruksi serta pemulihan berbagai sektor setelah konflik berkepanjangan.
Kerja sama dengan Uni Eropa dalam konteks tersebut mencakup kemungkinan pengembangan hubungan politik, ekonomi, dan pembangunan.
Pertemuan di Damaskus juga menjadi bagian dari rangkaian kontak antara pemerintah Suriah dan Uni Eropa dalam beberapa bulan terakhir.
Dengan meningkatnya hubungan diplomatik serta pembahasan mengenai kerja sama di berbagai sektor, kedua pihak terus menjajaki bentuk hubungan yang lebih luas.
Namun, laporan sumber tidak merinci kesepakatan baru yang dihasilkan dari pertemuan al-Sharaa dan Kallas maupun jadwal pelaksanaan proyek tertentu. (haidar/andalusmedia.id)














