Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa bertemu dengan Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam di sela-sela rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Kamis (24/9/2026).
Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu bersama antara Damaskus dan Beirut, termasuk langkah untuk memperkuat kerja sama bilateral serta mengaktifkan kembali mekanisme koordinasi resmi kedua negara.
Kepresidenan Republik Arab Suriah menyebut pertemuan al-Sharaa dan Salam berlangsung di sela-sela agenda Sidang Umum PBB. Pertemuan itu menjadi bagian dari rangkaian diplomasi Suriah selama berada di New York.
Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Raji mengatakan pembicaraan mencakup hubungan antara kedua negara dan berbagai cara untuk mengembangkan kerja sama bilateral.
Raji menyampaikan hal tersebut melalui unggahan di platform X. Ia mengatakan dirinya turut menghadiri pertemuan bersama Nawaf Salam dan menyebut agenda tersebut sebagai kesempatan untuk membahas sejumlah persoalan yang menjadi kepentingan bersama Suriah dan Lebanon.
Menurut Raji, kedua pihak juga menekankan pentingnya mengaktifkan kerja Komite Tinggi gabungan Suriah-Lebanon serta memperkuat koordinasi bilateral dengan cara yang dinilai dapat melayani kepentingan kedua negara.
Upaya Mengaktifkan Komite Tinggi
Pembahasan mengenai Komite Tinggi Suriah-Lebanon berlangsung di tengah upaya kedua pemerintah membangun kembali kerangka kelembagaan untuk mengatur hubungan bilateral.
Komite tersebut dirancang sebagai salah satu mekanisme koordinasi antara Damaskus dan Beirut dalam menangani berbagai persoalan bersama yang mencakup bidang politik, keamanan, ekonomi, serta isu lintas batas.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam sebelumnya pada Juli 2026 menyatakan bahwa pengaktifan Komite Tinggi dapat menjadi dasar bagi peningkatan kerja sama dan koordinasi antara kedua negara.
Salam menekankan bahwa hubungan tersebut perlu dibangun berdasarkan kepentingan bersama dengan tetap menghormati kedaulatan dan kemerdekaan masing-masing negara.
Ia juga menegaskan pentingnya prinsip tidak mencampuri urusan internal kedua pihak dalam pengembangan hubungan Suriah-Lebanon.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai aktivasi komite tidak hanya berkaitan dengan peningkatan koordinasi antarpemerintah, tetapi juga dengan penataan hubungan bilateral berdasarkan prinsip kedaulatan masing-masing negara.
Baca Artikel Lainnya: Dari New York, Al-Sharaa Tegaskan Suriah Kembali Bangkit di Panggung Internasional
Hubungan Suriah-Lebanon
Dalam beberapa bulan terakhir, Damaskus dan Beirut meningkatkan komunikasi melalui sejumlah pertemuan antara pejabat kedua negara.
Pembahasan yang dilakukan mencakup isu politik, keamanan, ekonomi, dan perbatasan. Kedua pihak juga membicarakan kebutuhan untuk memperkuat koordinasi kelembagaan agar persoalan yang menyangkut kepentingan bersama dapat ditangani melalui saluran resmi.
Pertemuan al-Sharaa dan Salam di New York menjadi bagian dari rangkaian kontak tersebut.
Media Lebanon juga melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani turut menghadiri pertemuan. Kehadiran para pejabat diplomatik kedua negara menunjukkan bahwa pembahasan mengenai hubungan bilateral melibatkan lebih dari sekadar komunikasi di tingkat kepala pemerintahan.
Agenda tersebut berlangsung bersamaan dengan aktivitas diplomatik Suriah di New York. Selama menghadiri Sidang Umum PBB, al-Sharaa bertemu sejumlah pemimpin dan pejabat asing untuk membahas hubungan bilateral, transisi politik, kerja sama regional, serta isu internasional.
Bagi Suriah dan Lebanon, pengaktifan kembali Komite Tinggi gabungan dapat menjadi salah satu saluran formal untuk melanjutkan koordinasi kedua negara.
Namun, implementasi mekanisme tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut antara pemerintah Damaskus dan Beirut, termasuk mengenai bentuk kerja, agenda, serta bidang koordinasi yang akan menjadi prioritas. (haidar/andalusmedia.id)














