Kelompok Houtsi di Yaman mengklaim melancarkan dua serangan menggunakan pesawat nirawak yang menyasar Bandara Najran dan fasilitas perusahaan minyak Aramco di kota Najran, Arab Saudi, pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Klaim tersebut disampaikan ketika situasi keamanan di Yaman kembali memburuk. Konflik antara Houtsi dan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi dilaporkan mengalami peningkatan intensitas setelah periode relatif tenang.
Juru bicara militer Houtsi, Yahya Saree, mengatakan kedua operasi tersebut diarahkan ke sasaran di Najran, wilayah barat daya Arab Saudi yang berada tidak jauh dari perbatasan Yaman.
Menurut Saree, serangan pertama menyasar apa yang disebut kelompok tersebut sebagai “target sensitif” di Bandara Najran. Operasi kedua diarahkan ke fasilitas Aramco di kota yang sama.
Houtsi mengklaim kedua serangan berhasil mencapai sasaran. Namun, belum terdapat verifikasi independen mengenai tingkat kerusakan maupun kemungkinan adanya korban akibat serangan tersebut.
Saudi Belum Konfirmasi Klaim Houtsi
Kelompok Houtsi menyatakan serangan itu merupakan respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran wilayah udara Provinsi Saada oleh pesawat nirawak Arab Saudi.
Namun, pemerintah Saudi belum memberikan konfirmasi maupun tanggapan resmi terkait klaim tersebut. Kondisi ini membuat informasi mengenai dampak serangan masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan ke fasilitas Aramco menjadi perhatian karena perusahaan energi tersebut memiliki posisi penting dalam industri minyak Saudi. Gangguan terhadap infrastruktur energi dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan fasilitas strategis dan kelancaran distribusi energi.
Najran juga memiliki nilai strategis karena letaknya berdekatan dengan perbatasan Yaman. Wilayah tersebut sebelumnya beberapa kali menjadi sasaran dalam konflik lintas perbatasan antara Houtsi dan Arab Saudi.
Konflik Yaman Kembali Memanas
Perkembangan terbaru berlangsung ketika pertempuran antara Houtsi dan pasukan pemerintah Yaman kembali meningkat. Al Jazeera melaporkan pasukan pemerintah Yaman mengklaim telah melancarkan 81 serangan terhadap posisi Houtsi dalam kurun waktu 24 jam.
Pada periode yang sama, Houtsi mengumumkan operasi terhadap dua sasaran di wilayah Arab Saudi.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik Yaman yang sempat mengalami penurunan intensitas kembali memasuki fase yang lebih tegang. Serangan lintas perbatasan berpotensi memperluas dampak konflik hingga ke wilayah Saudi.
Situasi tersebut juga menimbulkan perhatian terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur perdagangan di kawasan. Arab Saudi dalam beberapa waktu terakhir berupaya mempertahankan kelancaran ekspor minyak dengan menggunakan sejumlah rute alternatif akibat meningkatnya gangguan keamanan regional.
Baca Artikel Lainnya: Jenderal Rusia Peringatkan Konflik Asia Barat Bisa Mengancam Israel
Konflik Berlangsung Sejak 2014
Konflik Yaman bermula ketika Houtsi menguasai sebagian besar wilayah utara negara tersebut, termasuk ibu kota Sanaa, pada 2014. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin intervensi militer untuk mendukung pemerintahan Yaman.
Perang yang berlangsung bertahun-tahun kemudian mengalami penurunan intensitas setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022. Meski demikian, konflik politik dan militer antara berbagai kelompok di Yaman belum sepenuhnya berakhir.
Kondisi terbaru menunjukkan rapuhnya ketenangan tersebut. Peningkatan serangan terhadap posisi Houtsi dan klaim serangan balasan ke wilayah Saudi memperlihatkan bahwa risiko eskalasi masih terbuka.
Ancaman terhadap Jalur Perdagangan
Klaim serangan Houtsi juga muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap kepentingan Arab Saudi. Financial Times melaporkan kelompok tersebut meningkatkan serangan sepanjang Agustus dan mengeluarkan ancaman terhadap jalur perdagangan di sekitar Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.
Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Gangguan terhadap kawasan tersebut dapat berdampak terhadap perdagangan internasional dan distribusi energi.
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen mengenai dampak serangan terhadap Bandara Najran maupun fasilitas Aramco. Namun, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik Yaman kembali memiliki potensi meluas dan mengganggu stabilitas keamanan serta perdagangan di kawasan. (haidar/andalusmedia.id)














