Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa kembali menegaskan bahwa pemerintahannya tidak memiliki niat untuk terlibat secara militer di Lebanon. Di tengah berbagai spekulasi yang beredar di media dan dunia diplomatik, Al-Sharaa menyebut kabar mengenai kemungkinan intervensi Suriah ke Lebanon sebagai “sekadar rumor” yang tidak memiliki dasar.
Dilansir dari Syria TV, pernyataan tersebut disampaikan Al-Sharaa saat menerima delegasi pejabat dan tokoh masyarakat dari pedesaan Damaskus di Istana Rakyat pada Kamis (11/6). Pertemuan itu membahas berbagai isu nasional, mulai dari pembangunan ekonomi hingga hubungan Suriah dengan negara-negara tetangga.
Pernyataan Al-Sharaa muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap posisi Suriah dalam konflik regional, terutama setelah perang antara Israel dan Hizbullah kembali memanas di Lebanon.
Ahmad Al-Sharaa Bantah Isu Intervensi Militer ke Lebanon
Dalam pertemuan tersebut, Al-Sharaa menegaskan bahwa Damaskus tidak memiliki agenda untuk memasuki Lebanon ataupun melakukan intervensi militer di negara tetangganya itu.
Menurutnya, prioritas pemerintah Suriah saat ini jauh lebih mendesak dibanding membuka front konflik baru. Negara itu masih menghadapi tantangan besar pascaperang, mulai dari pemulihan ekonomi, rekonstruksi infrastruktur, hingga pemulangan jutaan pengungsi.
“Berbagai kabar mengenai masuknya Suriah ke Lebanon tidak lebih dari rumor,” tegas Al-Sharaa sebagaimana dikutip media pemerintah SANA.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintahan baru Suriah berupaya menjaga stabilitas regional dan menghindari keterlibatan dalam konflik lintas batas yang berpotensi memperburuk situasi kawasan.
Penetapan Batas Wilayah Bukan Prioritas
Selain membahas isu keamanan, Al-Sharaa juga menyinggung hubungan bilateral Suriah dan Lebanon. Ia menyatakan bahwa masalah penetapan batas wilayah antara kedua negara belum menjadi prioritas utama pemerintah saat ini.
Menurutnya, Suriah tengah menghadapi persoalan yang jauh lebih mendesak, terutama terkait keberadaan sekitar 1,5 juta pengungsi Suriah yang masih berada di Lebanon.
“Kami memiliki tantangan yang lebih besar untuk diselesaikan terlebih dahulu,” ujar Al-Sharaa.
Meski demikian, ia memastikan bahwa pemerintah akan mengajukan berbagai solusi pada masa mendatang untuk menyelesaikan persoalan pengungsi maupun isu-isu bilateral lainnya secara bertahap.
Isu pengungsi memang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi hubungan Suriah-Lebanon dalam beberapa tahun terakhir. Beirut berulang kali menyuarakan keprihatinan atas beban ekonomi dan sosial akibat besarnya jumlah pengungsi yang masih tinggal di negara tersebut.
Fokus pada Pembangunan dan Ekonomi
Di tengah berbagai tantangan politik dan keamanan, Al-Sharaa menekankan bahwa prioritas utama pemerintahannya saat ini adalah membangun kembali Suriah.
Salah satu proyek yang disinggung dalam pertemuan itu adalah rencana pembangunan kota industri furnitur modern bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan asal Tiongkok.
Proyek tersebut dirancang tidak hanya sebagai pusat produksi furnitur, tetapi juga sebagai kawasan pelatihan kejuruan dan pengembangan tenaga kerja. Pemerintah berharap proyek ini dapat membuka lapangan kerja baru serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Al-Sharaa, kebangkitan Suriah tidak bisa dicapai tanpa persatuan nasional. Ia menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam membangun kembali negara yang telah dilanda konflik selama bertahun-tahun.
“Kita memiliki awal yang positif dan alasan untuk optimis, tetapi jalan menuju pemulihan membutuhkan kesabaran,” katanya.
Tekanan Amerika Serikat dan Isu Hizbullah
Pernyataan Al-Sharaa juga muncul setelah muncul laporan diplomatik mengenai tekanan Amerika Serikat terhadap Suriah terkait konflik di Lebanon.
Sebuah sumber diplomatik sebelumnya mengungkap kepada AFP bahwa Washington disebut mendorong Damaskus agar memainkan peran dalam menghadapi Hizbullah, terutama sejak perang antara Israel dan kelompok tersebut kembali memanas pada awal Maret.
Presiden AS Donald Trump bahkan sempat mengisyaratkan kemungkinan melibatkan Suriah dalam upaya menekan Hizbullah. Trump menyatakan bahwa ia menginginkan Lebanon yang lebih stabil dan berharap ada langkah yang lebih efektif terhadap kelompok tersebut.
Namun, pemerintah Suriah tampaknya mengambil posisi yang lebih hati-hati.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, Noureddine al-Baba, sebelumnya menegaskan bahwa Damaskus mendukung upaya Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negaranya.
Ia juga menekankan bahwa Suriah dan Lebanon merupakan pihak yang paling memahami realitas hubungan kedua negara, sehingga solusi atas berbagai persoalan harus lahir melalui dialog dan kerja sama, bukan tekanan dari luar.
Babak Baru Hubungan Suriah-Lebanon
Sikap Al-Sharaa menunjukkan arah kebijakan luar negeri Suriah pascaperubahan politik di Damaskus. Jika sebelumnya Suriah kerap terlibat secara langsung dalam dinamika Lebanon, kini pemerintahan baru tampak lebih memilih pendekatan diplomatik dan fokus pada pemulihan domestik.
Di saat kawasan Timur Tengah masih diliputi ketidakpastian akibat konflik Gaza, ketegangan Israel-Hizbullah, serta persaingan kekuatan regional, keputusan Suriah untuk menahan diri dari keterlibatan militer dapat menjadi faktor penting bagi stabilitas kawasan.
Bagi Damaskus, tantangan terbesar saat ini bukanlah memperluas pengaruh di luar negeri, melainkan membangun kembali negara, memulangkan para pengungsi, dan mengembalikan Suriah ke posisi strategisnya di kawasan Timur Tengah. (ahmad/andalusmedia.id)














