Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa lembaga keamanan dan militer Israel memandang pemerintahan baru Suriah di bawah Ahmad al-Sharaa sebagai ancaman serius yang berlandaskan ideologi Islam jihadis. Menurut laporan tersebut, Tel Aviv meyakini pemerintahan baru Suriah saat ini sedang berupaya memperkuat kekuasaan internal sekaligus membangun kembali kekuatan militer negara dengan dukungan langsung dari Turki.
Laporan itu mencerminkan meningkatnya perhatian Israel terhadap perubahan geopolitik di Suriah pasca runtuhnya rezim lama, terutama setelah munculnya pemerintahan baru yang dinilai memiliki orientasi politik dan ideologis berbeda dari sebelumnya.
Israel Soroti Dukungan Turki terhadap Pemerintahan Ahmad Al Sharaa
Dalam laporan tersebut, Maariv mengutip analis geopolitik dan pakar krisis internasional serta terorisme global, Anat Hochberg Marom, yang menyebut bahwa Turki sedang berusaha mengukuhkan dirinya sebagai kekuatan regional dominan, baik secara militer, politik, maupun energi, melalui koordinasi erat dengan kepemimpinan baru Suriah.
Menurutnya, Ankara tidak hanya memberikan dukungan politik kepada Damaskus, tetapi juga mulai membangun pengaruh militer langsung di wilayah utara Suriah.
Media Israel itu menyebut bahwa pasukan lapis baja Turki bersama sekitar 200 tentara telah memasuki kawasan utara Suriah. Dalam beberapa pekan ke depan, Turki juga diperkirakan akan memperluas dukungannya melalui pengiriman:
- Kendaraan tempur lapis baja,
- Sistem pertahanan udara,
- Drone militer,
- Hingga rudal presisi.
Langkah tersebut dipandang Israel sebagai perkembangan strategis yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.
Kekhawatiran Israel terhadap Poros Turki-Suriah
Laporan Maariv menunjukkan adanya kekhawatiran Israel terhadap semakin eratnya hubungan antara Ankara dan pemerintahan baru Suriah. Israel menilai Turki sedang memanfaatkan perubahan politik di Suriah untuk memperluas pengaruh regionalnya secara signifikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Turki memang meningkatkan keterlibatannya di Suriah, baik melalui operasi militer, dukungan terhadap kelompok oposisi, maupun pengaruh ekonomi dan keamanan di wilayah utara negara tersebut.
Kini, dengan munculnya pemerintahan baru di Damaskus, media Israel menilai Ankara memiliki peluang lebih besar untuk membangun poros regional baru yang berpotensi menggeser peta kekuatan Timur Tengah.
NATO dan Ambisi Regional Turki
Laporan itu juga menyinggung upaya Turki memainkan peran lebih besar di tingkat internasional melalui NATO. Ankara disebut tengah mempersiapkan diri menjadi aktor utama dalam pembentukan ulang keseimbangan regional dan global.
Hal ini dikaitkan dengan rencana Turki menjadi tuan rumah KTT NATO yang dijadwalkan berlangsung di Ankara pada 7–8 Juli mendatang.
Menurut analisis yang dimuat Maariv, Turki berusaha memanfaatkan beberapa faktor internasional untuk memperkuat posisinya, di antaranya:
- Kekhawatiran Eropa terhadap menurunnya komitmen jangka panjang Amerika Serikat,
- Berlanjutnya perang Rusia–Ukraina,
- Serta meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Situasi global tersebut dinilai membuka peluang bagi Ankara untuk tampil sebagai kekuatan penentu baru di kawasan.
Suriah Kembali Menjadi Pusat Perebutan Pengaruh
Laporan media Israel ini memperlihatkan bahwa Suriah kembali menjadi arena persaingan geopolitik regional setelah bertahun-tahun perang dan perubahan kekuasaan internal.
Bagi Israel, kemunculan pemerintahan baru yang memiliki latar belakang Islamis serta hubungan erat dengan Turki dipandang sebagai tantangan strategis jangka panjang. Sementara bagi Ankara, kondisi baru di Suriah dianggap sebagai kesempatan memperluas pengaruh politik dan militernya di Timur Tengah.
Perubahan ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian utama berbagai kekuatan regional maupun internasional dalam beberapa tahun ke depan. (ahmad/andalusmedia.id)

![Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi pada 18 Januari 2026. [GETTY]](https://andalusmedia.id/wp-content/uploads/2026/05/clipboard-image-1779850121-75x75.webp)










![Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi pada 18 Januari 2026. [GETTY]](https://andalusmedia.id/wp-content/uploads/2026/05/clipboard-image-1779850121-120x86.webp)

