Seorang aktivis pro-Palestina bernama Zohar Regev menjadi perhatian internasional setelah dilaporkan masih ditahan otoritas Israel usai mengikuti misi kemanusiaan Freedom Flotilla menuju Jalur Gaza.
Zohar diketahui lahir dari keluarga Yahudi di Palestina dan pernah memiliki kewarganegaraan Israel sebelum kemudian memeluk Islam dan aktif dalam gerakan solidaritas untuk Palestina.
Menurut laporan media India, India’s News, Zohar ditangkap setelah pasukan Israel mencegat kapal bantuan kemanusiaan yang berusaha menembus blokade Gaza di Laut Mediterania pekan ini.
Sebagian besar aktivis internasional yang ikut dalam misi tersebut telah dibebaskan dan dideportasi ke negara masing-masing. Namun sejumlah laporan menyebut Zohar masih berada dalam tahanan Israel hingga kini.
Freedom Flotilla sendiri merupakan gerakan internasional yang mengirim kapal bantuan dan relawan kemanusiaan ke Gaza sebagai bentuk protes terhadap blokade Israel yang berlangsung sejak 2007.
Misi terbaru armada itu melibatkan aktivis dari berbagai negara yang membawa bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza di tengah perang dan krisis pangan berkepanjangan.
Sejumlah aktivis pro-Palestina menyebut Zohar telah meninggalkan Israel bertahun-tahun lalu sebelum memutuskan memeluk Islam dan aktif dalam kampanye internasional mendukung Palestina.
Di media sosial, kisah Zohar cepat menyebar dan memicu gelombang solidaritas dari berbagai negara. Banyak pendukung Palestina menyebutnya sebagai simbol dukungan lintas agama dan kebangsaan terhadap perjuangan rakyat Gaza.
Salah satu unggahan yang viral menyebut, “Ketika perempuan ini memeluk Islam, ia menjadi saudari kami. Kami peduli terhadap nasibnya dan berjuang untuk pembebasannya.”
Baca Artikel Lainnya: Al-Qassam Rilis Pesan Terakhir Izzuddin Al-Haddad Sebelum Gugur dalam Serangan Israel
Unggahan tersebut dibagikan ribuan kali dan memunculkan seruan internasional agar Israel segera membebaskan seluruh aktivis sipil yang ditahan setelah insiden pencegatan Freedom Flotilla.
Pemerintah Israel sebelumnya menyatakan seluruh kapal Freedom Flotilla dicegat karena dianggap melanggar blokade laut Gaza. Israel mengklaim langkah itu dilakukan demi alasan keamanan serta untuk mencegah penyelundupan senjata ke wilayah Palestina.
Namun berbagai organisasi hak asasi manusia mengecam tindakan penahanan terhadap para relawan sipil internasional tersebut.
Amnesty International dan Human Rights Watch meminta Israel menghormati hak para tahanan dan memastikan tidak terjadi kekerasan maupun perlakuan tidak manusiawi selama proses penahanan berlangsung.
Kasus Zohar Regev kini menjadi perhatian luas karena latar belakangnya sebagai mantan warga Israel keturunan Yahudi yang memilih aktif mendukung perjuangan Palestina.
Banyak pengguna media sosial menilai kisahnya memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Palestina telah melampaui batas agama, etnis, dan identitas kebangsaan.
Di tengah konflik Gaza yang terus memanas, nama Zohar Regev kini menjadi simbol baru solidaritas internasional terhadap warga Palestina yang masih menghadapi perang dan blokade berkepanjangan.
Sementara itu, berbagai kelompok solidaritas internasional terus mendesak komunitas dunia agar memberikan tekanan diplomatik kepada Israel untuk membebaskan para aktivis kemanusiaan yang masih ditahan pascainsiden Freedom Flotilla. (haidar/andalusmedia.id)














