Masjid Al-Aqsa kembali jadi sorotan setelah berbagai pihak Palestina memperingatkan adanya dugaan rencana Israel yang disebut sebagai ancaman paling serius terhadap kawasan suci tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Ketegangan meningkat menjelang Jumat yang bertepatan dengan peringatan Nakba ke-78 dan perayaan pendudukan Yerusalem menurut kalender Ibrani. Situasi juga makin panas karena beriringan dengan agenda tahunan pawai bendera pemukim Yahudi di kota itu.
Sejumlah organisasi Palestina menilai Israel tengah mencoba memaksakan realitas baru di kompleks Al-Aqsa dengan membuka akses penyerbuan pemukim pada hari Jumat. Selama ini, aktivitas tersebut dilarang sejak 2003 karena tingginya jumlah jamaah Muslim yang datang untuk salat Jumat.
Langkah itu dinilai berbahaya karena bisa mengubah status quo historis dan hukum Masjid Al-Aqsa yang selama puluhan tahun berada di bawah pengelolaan Wakaf Islam Yordania.
Yayasan Internasional Yerusalem memperingatkan adanya koordinasi antara otoritas Israel dan kelompok ekstremis Yahudi pendukung pembangunan “Kuil Yahudi” di area Al-Aqsa.
Rencana tersebut disebut mencakup pembukaan penyerbuan pemukim pada Jumat pagi dan tambahan sesi malam pada Kamis. Warga Palestina khawatir kebijakan itu nantinya dijadikan aturan permanen.
Peneliti urusan Yerusalem, Ziad Abhais, mengatakan upaya penyerbuan pada hari Jumat akan dianggap sebagai “pertempuran kedaulatan” di dalam Masjid Al-Aqsa.
Menurutnya, kelompok ekstremis Yahudi menjalankan strategi bertahap untuk memperluas jam masuk pemukim hingga mencapai sekitar sembilan jam setiap hari.
Tujuan akhirnya disebut untuk memaksakan konsep “hak setara” di kawasan Al-Aqsa sebagai langkah awal pembagian waktu dan wilayah masjid antara Muslim dan Yahudi.
Baca Artikel Lainnya: Impunitas Israel Disorot, Pembunuhan Jurnalis Palestina dan Lebanon Meningkat
Situasi makin memanas setelah 22 pejabat Israel, termasuk sembilan menteri dan 13 anggota Knesset, mengirim surat kepada kepolisian Israel agar mengizinkan penyerbuan Al-Aqsa pada Jumat mendatang.
Kelompok sayap kanan Israel Beyadenu disebut menjadi motor kampanye tersebut dengan mendorong perluasan “hak Yahudi” di area masjid.
Di saat bersamaan, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir juga disebut terus mendorong langkah kontroversial di Al-Aqsa.
Pihak Palestina menilai langkah-langkah itu merupakan bagian dari proyek Yahudisasi Yerusalem dan upaya menghapus identitas Palestina dari kota suci tersebut.
Ziad Abhais menyerukan warga Palestina untuk meningkatkan kehadiran di Masjid Al-Aqsa mulai Kamis malam hingga Jumat, termasuk melakukan iktikaf meski diperkirakan bakal ada pembatasan ketat dari aparat Israel.
Para pengamat menilai kepolisian Israel masih menghitung dampak keamanan dari rencana tersebut karena dikhawatirkan memicu ledakan situasi di Yerusalem dan wilayah Palestina lainnya.
Bagi warga Palestina, isu Al-Aqsa bukan hanya persoalan agama, tetapi juga simbol identitas nasional dan garis pertahanan utama menghadapi proyek Yahudisasi Israel di Yerusalem Timur. (haidar/andalusmedia.id)