Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengatakan keikutsertaan delegasi Suriah dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York menjadi langkah untuk memperkuat kemitraan internasional dan memperluas ruang diplomasi Damaskus.
Pernyataan tersebut disampaikan al-Sharaa melalui akun resminya di platform X pada Kamis (24/9/2026), setelah mengikuti rangkaian agenda Sidang Umum PBB di New York.
“Dari podium Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, kami menyampaikan suara Suriah yang telah kembali, dan Suriah yang sedang bangkit,” tulis al-Sharaa.
Ia menyebut partisipasi Suriah dalam pertemuan tahunan PBB tersebut sebagai momentum penting untuk memperkuat kehadiran negaranya dalam hubungan internasional.
Menurut al-Sharaa, agenda diplomatik di New York diarahkan untuk mempererat kemitraan dengan negara-negara lain sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi masa depan Suriah.
Ia juga menekankan bahwa masa depan tersebut, menurut pandangannya, akan dibangun oleh rakyat Suriah sendiri dan diharapkan dapat mengembalikan posisi serta peran Suriah dalam lingkungan regional dan internasional.
Al-Shaibani Sebut Sejumlah Capaian
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani juga menyampaikan evaluasinya terhadap keikutsertaan delegasi Suriah dalam Sidang Umum PBB.
Dalam unggahan sebelumnya di platform X, al-Shaibani mengatakan partisipasi Suriah dalam sesi ke-81 Majelis Umum PBB menghasilkan sejumlah hal yang disebutnya sebagai capaian nasional, baik di tingkat internal maupun eksternal.
Ia juga menyebut adanya langkah-langkah praktis yang berkaitan dengan visi pemerintah Suriah di tingkat nasional, regional, dan internasional.
Menurut al-Shaibani, keikutsertaan Suriah di New York berlangsung di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa. Ia menyebut agenda tersebut sebagai partisipasi kedua Suriah dalam kegiatan Majelis Umum PBB sejak perubahan politik di negara tersebut, sekaligus bagian dari upaya memulihkan hubungan regional dan internasional.
Al-Shaibani mengatakan Suriah kini berupaya menerjemahkan visi dan komitmen yang sebelumnya disampaikan dalam bentuk kebijakan dan langkah nyata.
Ia juga menekankan keterbukaan Damaskus terhadap komunitas internasional serta berbagai organisasi internasional.
Baca Artikel Lainnya: Kurang dari 24 Jam, Keamanan Internal Tangkap Tersangka Dua Kasus Pembunuhan di Aleppo
Diplomasi Intensif di New York
Selama berada di New York, delegasi Suriah menggelar sejumlah pertemuan dengan pemimpin dan pejabat dari berbagai negara.
Al-Sharaa sebelumnya bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas proses transisi politik Suriah, penguatan kerja sama antara PBB dan Damaskus, serta dukungan terhadap pemulihan dan rekonstruksi negara.
Guterres menyambut langkah-langkah dalam proses transisi politik Suriah dan menekankan pentingnya dialog inklusif serta partisipasi luas.
Al-Sharaa juga bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shahbaz Sharif untuk membahas hubungan bilateral dan peluang pengembangan kerja sama kedua negara.
Pertemuan dengan pejabat Uni Eropa turut menjadi bagian dari agenda diplomatik delegasi Suriah. Al-Sharaa bertemu Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen untuk membahas hubungan Suriah-Uni Eropa, perluasan kerja sama, serta dukungan terhadap rekonstruksi dan pembangunan.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani juga menggelar sejumlah pertemuan bilateral dengan pejabat dari negara lain selama berada di New York.
Setelah rangkaian agenda tersebut berakhir, al-Shaibani mengunggah foto dirinya bersama al-Sharaa saat perjalanan pulang dari New York.
“Ini adalah perjalanan yang melelahkan, tetapi sepadan demi pengabdian kepada rakyat kita dan demi Suriah yang kita cita-citakan,” tulis al-Shaibani.
Kunjungan al-Sharaa ke New York merupakan kunjungan keduanya secara berturut-turut dalam rangka menghadiri Sidang Umum PBB setelah sebelumnya berpartisipasi dalam sesi ke-80 pada 2025.
Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya diplomatik pemerintah Suriah untuk memperkuat komunikasi dengan lembaga internasional dan negara-negara lain di tengah proses transisi serta upaya pemulihan dan rekonstruksi negara. (haidar/andalusmedia.id)














