Pasukan Keamanan Internal di Provinsi Aleppo, Suriah, mengumumkan keberhasilan mengungkap dua kasus pembunuhan di wilayah Bustan al-Qasr dan Jisr al-Hajj. Para tersangka dalam kedua kasus tersebut ditangkap dalam waktu kurang dari 24 jam setelah laporan kejadian diterima.
Selain menangkap para tersangka, petugas juga menyita sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan kedua kasus, termasuk senjata yang disebut digunakan dalam pembunuhan.
Kepala Departemen Al-Klassa pada Pasukan Keamanan Internal Aleppo, Letnan Kolonel Hassan Khalil, mengatakan kepada SANA bahwa penyelidikan kasus pertama di Bustan al-Qasr berlangsung segera setelah kejadian dilaporkan.
Menurut Khalil, aparat berhasil mengidentifikasi dan menangkap tersangka dalam waktu kurang dari empat jam. Petugas juga menyita senjata yang diduga digunakan dalam pembunuhan serta sejumlah barang milik korban yang disebut telah diambil dari rumah korban.
Pihak keamanan tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai identitas tersangka maupun motif pembunuhan dalam kasus tersebut.
Tersangka Kedua Ditangkap Kurang dari 24 Jam
Kasus kedua terjadi di kawasan Jisr al-Hajj. Penyelidikan dimulai setelah aparat menerima laporan mengenai penemuan jasad seseorang di dalam area rel kereta api.
Khalil mengatakan petugas kemudian melakukan pengumpulan informasi dan pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang memiliki hubungan dengan korban.
Penyelidikan mengarah kepada seorang teman korban yang disebut memiliki hubungan dalam perdagangan zat terlarang. Berdasarkan informasi yang diperoleh selama penyelidikan, aparat kemudian menetapkan orang tersebut sebagai tersangka.
Pasukan Keamanan Internal berhasil menangkap tersangka dalam waktu kurang dari 24 jam sejak kasus tersebut dilaporkan.
Dalam penangkapan itu, petugas menyita sebuah pistol yang diduga berkaitan dengan kasus pembunuhan. Telepon seluler milik korban juga ditemukan di kawasan Al-Saleheen.
Baca Artikel Lainnya: Al-Sharaa Intensifkan Diplomasi di New York, Bertemu Guterres hingga Petinggi Uni Eropa
Keterangan mengenai keterlibatan tersangka dan hubungan antara barang bukti dengan tindak pidana tersebut masih merupakan bagian dari proses penyelidikan aparat.
Keamanan Internal Aleppo menyatakan penyelidikan terhadap kedua kasus terus dilakukan untuk melengkapi informasi mengenai kronologi dan motif pembunuhan.
Ratusan Warga Sipil Tewas pada Paruh Pertama 2026
Kasus pembunuhan tersebut terjadi di tengah catatan kekerasan terhadap warga sipil di berbagai wilayah Suriah sepanjang 2026.
Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (SNHR) melaporkan pada Agustus bahwa sedikitnya 428 warga sipil tewas di Suriah selama paruh pertama 2026. Data tersebut mencakup 80 anak-anak dan 33 perempuan.
Selain itu, SNHR mencatat delapan tenaga medis dan dua jurnalis termasuk dalam korban yang terdokumentasi. Lembaga tersebut juga melaporkan satu kasus kematian yang dikaitkan dengan penyiksaan.
SNHR menegaskan bahwa angka tersebut merupakan jumlah minimum korban yang berhasil didokumentasikan dan diverifikasi berdasarkan metodologi lembaga tersebut. Karena itu, data tersebut tidak selalu mencakup seluruh kasus pembunuhan melawan hukum atau kematian akibat kekerasan yang terjadi selama periode pelaporan.
Dari total korban sipil yang dicatat, anak-anak dan perempuan mencapai 113 orang atau sekitar 26 persen.
Provinsi Aleppo mencatat jumlah korban sipil terdokumentasi tertinggi dengan 81 orang. Berikutnya Hama dengan 67 korban, Homs 63, Idlib 53, dan Raqqa 51.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai masih berlangsungnya berbagai bentuk kekerasan terhadap warga sipil di Suriah, sementara aparat keamanan di sejumlah wilayah terus menangani kasus kriminal dan keamanan melalui proses penyelidikan serta penegakan hukum. (haidar/andalusmedia.id)














