Perdana Menteri “Israel”, Benjamin Netanyahu, mengisyaratkan negaranya siap melancarkan operasi militer terhadap Iran tanpa keterlibatan langsung Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan ketika upaya diplomasi antara Teheran dan Washington dilaporkan memasuki tahap yang lebih maju.
Netanyahu menyampaikan pernyataan tersebut pada Rabu (5/8/2026), setelah mediator Qatar mengonfirmasi bahwa pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat terus mengalami perkembangan. Di saat yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan berbagai upaya untuk menggulingkan Republik Islam telah gagal.
Dalam keterangannya, Netanyahu kembali menegaskan komitmen pemerintahannya untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Menurutnya, opsi militer tetap menjadi pilihan meskipun jalur diplomasi masih berlangsung.
“Kami mendengar hari ini komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, mendeklarasikan niat Iran untuk terus mengembangkan senjata nuklir,” klaim Netanyahu. “Sebagai Perdana Menteri Israel, saya bertekad untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir.”
Netanyahu mengatakan Amerika Serikat tetap menjadi sekutu utama “Israel”. Namun, ia menegaskan negaranya siap bertindak sendiri apabila diperlukan demi menjaga keamanan nasional.
Pernyataan tersebut muncul ketika berbagai upaya diplomatik terus dilakukan untuk mengakhiri konfrontasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan antara Iran dan Amerika Serikat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, pada Selasa (4/8), menyatakan proses mediasi telah memasuki tahap lanjutan. Menurutnya, kedua pihak kini saling bertukar draf proposal sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif.
Proses tersebut merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu melalui mediasi Qatar dan Pakistan setelah pecahnya konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat pada akhir Februari.
Baca Artikel Lainnya: Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam, Ankara Protes Keras ke Rusia dan Ukraina
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa tekanan militer selama berbulan-bulan tidak berhasil menggulingkan Republik Islam Iran.
Dalam pidatonya, Pezeshkian mengatakan pihak-pihak yang memusuhi Iran sempat meyakini negaranya akan runtuh hanya dalam waktu 48 jam, sebagaimana yang mereka klaim pernah terjadi di Suriah.
Ia mengakui periode tersebut menjadi salah satu masa paling berat sejak Revolusi Islam 1979. Namun, menurutnya, persatuan nasional serta tetap berjalannya institusi pemerintahan membuat Iran mampu melewati tekanan tersebut.
“Musuh mengira negara ini akan runtuh setelah aksi brutal mereka, namun institusi-institusi tetap berjalan, pemimpin baru telah terpilih, dan kehadirannya hari ini menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk melanjutkan jalan ini,” ujar Pezeshkian.
Pernyataan yang saling bertolak belakang dari Tel Aviv dan Teheran menunjukkan ketegangan di Timur Tengah masih belum mereda. Di tengah proses diplomasi yang terus berjalan melalui mediasi negara-negara kawasan, ancaman penggunaan kekuatan militer masih menjadi bagian dari dinamika hubungan kedua pihak. (haidar/andalusmedia.id)














