Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang mengupayakan tercapainya kesepakatan keamanan dengan Israel sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan dan menghentikan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Al Jazeera dan menjadi salah satu sinyal paling jelas sejauh ini mengenai kemungkinan tercapainya pengaturan baru antara Damaskus dan Tel Aviv setelah perubahan politik besar di Suriah pasca-runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad.
Dilansir The Times of Israel, Ahad (26/7/2026), Asy Syaraa mengatakan pembicaraan dengan Israel masih berlangsung melalui sejumlah negara mediator. Ia menegaskan bahwa tujuan utama Suriah bukan membuka konflik baru, melainkan membangun mekanisme keamanan yang menjamin penghormatan terhadap kedaulatan negaranya dan mencegah eskalasi militer di masa depan.
“Kami sedang berupaya mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel melalui partisipasi beberapa negara. Konflik bukanlah kepentingan Suriah. Yang kami cari adalah keamanan, stabilitas, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara kami,” ujar Asy Syaraa.
Ia menjelaskan bahwa Suriah ingin mengembalikan situasi keamanan ke kerangka Perjanjian Pemisahan Pasukan 1974, yang selama puluhan tahun menjadi dasar stabilitas di perbatasan Dataran Tinggi Golan.
Menurutnya, Damaskus tidak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam perang baru dengan Israel, karena fokus utama pemerintah saat ini adalah membangun kembali negara yang hancur akibat konflik berkepanjangan.
Baca Artikel Lainnya: Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi, Front Baru Perang AS-Iran Makin Memanas
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya aktivitas diplomatik Suriah dengan berbagai negara Barat dan kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Asy Syaraa memperoleh pelonggaran sejumlah sanksi internasional, memperbaiki hubungan dengan beberapa negara Arab, serta meningkatkan komunikasi dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mengenai proses rekonstruksi pascaperang.
Laporan The Times of Israel dan Al-Monitor menyebutkan pembahasan yang berlangsung saat ini belum mengarah pada normalisasi diplomatik penuh seperti yang ditempuh beberapa negara Arab melalui Abraham Accords.
Tahap awal pembicaraan lebih difokuskan pada pengaturan keamanan di kawasan perbatasan, pencegahan bentrokan militer, serta upaya mengurangi ketegangan di wilayah selatan Suriah.
Asy Syaraa juga membantah spekulasi bahwa Suriah akan ikut terlibat dalam konflik baru di Lebanon atau menjadi bagian dari konfrontasi regional yang lebih luas.
Ia menegaskan bahwa prioritas pemerintahannya tetap pada pemulihan keamanan nasional, percepatan rekonstruksi, dan perbaikan kondisi ekonomi masyarakat setelah lebih dari satu dekade konflik bersenjata. (haidar/andalusmedia.id)














