Jumlah korban militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran kembali bertambah. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi dua prajurit AS tewas setelah pangkalan militer mereka di Yordania diserang rudal balistik dan pesawat nirawak Iran pada Sabtu (18/7/2026).
Dengan tambahan korban tersebut, total personel militer Amerika yang gugur sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026 meningkat menjadi 16 orang. Selain itu, satu anggota militer AS hingga kini masih dinyatakan hilang dan proses pencarian masih terus dilakukan.
Menurut laporan Associated Press (AP), serangan terbaru menjadi salah satu insiden paling mematikan yang dialami pasukan Amerika dalam beberapa pekan terakhir. Meski sebagian besar personel AS di Timur Tengah tidak terlibat langsung dalam pertempuran darat, keberadaan pangkalan militer Amerika di sejumlah negara kawasan membuat mereka terus menjadi sasaran serangan Iran.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyebut dua prajurit tersebut gugur saat berupaya mempertahankan pangkalan dari rentetan serangan rudal balistik dan drone. Identitas keduanya belum dipublikasikan karena proses pemberitahuan kepada keluarga masih berlangsung.
Militer AS juga belum menjelaskan secara rinci tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan tersebut. Namun, operasi pengamanan di pangkalan yang menjadi sasaran disebut masih berlangsung, sementara upaya pencarian terhadap satu personel yang hilang terus dilakukan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga Sabtu sore belum memberikan komentar langsung terkait bertambahnya korban di pihak militer AS. Gedung Putih hanya menyampaikan pernyataan resmi dari CENTCOM mengenai perkembangan terbaru di Yordania.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, korban di pihak Amerika terus bertambah dalam berbagai insiden yang terjadi di Timur Tengah.
Korban pertama muncul ketika sebuah serangan drone Iran menghantam pelabuhan sipil di Kuwait. Enam tentara AS dari satuan logistik asal Iowa dilaporkan tewas setelah bangunan kontainer tempat mereka bertugas terkena hantaman langsung.
Beberapa hari kemudian, seorang prajurit Amerika kembali meninggal dunia akibat luka yang dideritanya setelah serangan terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi pada 1 Maret 2026.
Korban berikutnya berasal dari insiden jatuhnya pesawat pengisian bahan bakar KC-135 milik Angkatan Udara Amerika Serikat di Irak. Enam personel yang berada di dalam pesawat dilaporkan tewas ketika mendukung operasi militer di kawasan.
Baca Artikel Lainnya: Trump Kembali Desak Suriah Hadapi Hizbullah, Damaskus Tetap Tolak Intervensi Militer
Menurut CENTCOM, kecelakaan terjadi setelah insiden yang melibatkan pesawat lain di wilayah udara yang sebelumnya dinilai aman. Meski demikian, pihak militer tidak mengungkapkan rincian penyebab kecelakaan tersebut.
Awal Juli lalu, korban kembali bertambah ketika seorang pilot Angkatan Laut AS meninggal dunia setelah helikopter yang diterbangkannya melakukan pendaratan darurat di Laut Arab. Tiga awak lainnya berhasil diselamatkan dan Angkatan Laut menyatakan tidak menemukan indikasi bahwa insiden itu disebabkan oleh serangan musuh.
Serangan terbaru di Yordania kini menjadi rangkaian terbaru dalam daftar korban yang terus bertambah sejak perang berlangsung hampir lima bulan.
Di sisi lain, Iran juga mengklaim mengalami korban besar akibat operasi militer Amerika Serikat. Menurut otoritas Teheran, sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Amerika selama tiga pekan terakhir.
Delapan korban dilaporkan meninggal setelah sebuah jembatan menjadi sasaran serangan pada Jumat lalu. Selain itu, berbagai serangan juga disebut menghantam fasilitas militer dan infrastruktur di sejumlah wilayah Iran.
Konflik yang terus meluas ini juga berdampak pada warga sipil di berbagai negara Timur Tengah. Selain korban dari kalangan militer, pekerja sipil, awak kapal, hingga tenaga kerja asing di negara-negara Teluk, Lebanon, dan Israel turut menjadi korban akibat meningkatnya eskalasi perang antara Washington dan Teheran.
Bertambahnya korban di pihak Amerika menunjukkan bahwa konflik belum memperlihatkan tanda-tanda mereda. Selama kedua negara masih saling melancarkan serangan terhadap pangkalan militer dan infrastruktur strategis, risiko jatuhnya korban baru diperkirakan akan terus meningkat, sekaligus memperbesar potensi meluasnya konflik ke kawasan Timur Tengah. (haidar/andalusmedia.id)














