Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menegaskan bahwa krisis yang melanda Lebanon telah mencapai tahap yang sangat kompleks dan membutuhkan pendekatan baru yang tidak hanya berfokus pada aspek keamanan. Menurutnya, solusi jangka panjang hanya dapat dicapai melalui penghentian perang serta peluncuran proses politik, ekonomi, dan sosial yang menyeluruh.
Pernyataan tersebut disampaikan al-Sharaa dalam wawancara dengan Al Mashhad TV yang disiarkan pada Ahad (21/6/2026) dan kemudian dilansir Syria TV pada Senin (22/6/2026).
Dalam wawancara tersebut, al-Sharaa menjelaskan bahwa Suriah telah mengajukan sejumlah gagasan kepada Amerika Serikat dan berbagai pihak internasional terkait cara mengatasi krisis Lebanon yang terus memburuk. Usulan tersebut menitikberatkan pada penghentian operasi militer, pemulihan stabilitas, serta pembukaan jalan bagi proses pembangunan dan rekonsiliasi nasional.
Menurutnya, berbagai pendekatan yang selama ini diterapkan belum mampu menghasilkan terobosan nyata. Karena itu, diperlukan strategi baru yang tidak hanya mengandalkan instrumen keamanan dan militer.
Lebanon Hadapi Krisis Multidimensi
Al-Sharaa menilai kondisi Lebanon saat ini tidak lagi sekadar menghadapi persoalan politik atau ekonomi, melainkan telah berkembang menjadi krisis multidimensi yang mencakup aspek kemanusiaan, sosial, dan keamanan.
Ia menyoroti dampak perang yang menyebabkan kerusakan infrastruktur, perpindahan penduduk dalam jumlah besar, serta meningkatnya tekanan terhadap stabilitas kawasan.
Menurutnya, dampak konflik di Lebanon juga dirasakan langsung oleh Suriah, terutama di wilayah perbatasan yang berbatasan dengan kawasan Bekaa. Situasi tersebut menimbulkan tantangan keamanan baru yang membutuhkan koordinasi dan pendekatan yang lebih komprehensif.
“Lebanon saat ini menghadapi perang besar yang menimbulkan dampak kemanusiaan dan keamanan yang sangat luas,” ujarnya.
Suriah Tolak Solusi Militer
Presiden Suriah menegaskan bahwa Damaskus tidak melihat solusi militer sebagai jalan keluar utama bagi krisis Lebanon.
Menurut al-Sharaa, berbagai pengalaman di kawasan menunjukkan bahwa pendekatan militer semata tidak mampu menyelesaikan akar persoalan yang ada. Karena itu, Suriah mendorong pembentukan paket solusi terpadu yang mencakup penghentian perang, pemulihan ekonomi, penguatan institusi negara, dan dialog politik.
Ia menambahkan bahwa kerja sama ekonomi antara Suriah dan Lebanon juga perlu dihidupkan kembali sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilitas kedua negara.
“Solusi di Lebanon tidak dapat dicapai melalui langkah militer atau solusi parsial. Yang dibutuhkan adalah pendekatan menyeluruh yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial, dan keamanan,” katanya.
Al-Sharaa juga menekankan pentingnya jaminan timbal balik yang dapat menjaga kepentingan keamanan kedua negara sekaligus mengurangi potensi munculnya konflik baru di masa depan.
Baca Artikel Lainnya: AS Buka Jalur ke Oposisi Israel, Netanyahu Hadapi Tekanan Baru
Bantah Spekulasi Intervensi Suriah
Dalam wawancara tersebut, al-Sharaa turut menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyinggung kemungkinan peran Suriah dalam menangani situasi di Lebanon.
Menurutnya, sejumlah media telah menafsirkan pernyataan tersebut secara keliru. Ia menegaskan bahwa pembahasan yang dilakukan dengan pihak Amerika lebih berfokus pada upaya menghentikan perang dan membuka peluang penyelesaian damai, bukan mengenai keterlibatan militer Suriah di Lebanon.
Al-Sharaa kembali menegaskan bahwa pemerintahannya tidak memiliki rencana mengirim pasukan atau melakukan operasi militer di wilayah Lebanon.
Sebaliknya, Suriah hanya akan berperan dalam mendukung stabilitas kawasan melalui jalur diplomasi, penguatan lembaga negara Lebanon, serta mendorong dialog di antara berbagai kelompok politik di negara tersebut.
Fokus pada Pembangunan Suriah
Selain membahas Lebanon, al-Sharaa juga menjelaskan bahwa prioritas utama pemerintahannya saat ini adalah pembangunan nasional.
Ia menyebut Suriah tengah memasuki fase baru yang berorientasi pada rekonstruksi ekonomi dan reformasi di berbagai sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, energi, pertanian, perbankan, serta industri.
Menurutnya, masa depan Suriah harus dibangun melalui stabilitas dan pembangunan, bukan konflik berkepanjangan.
“Fase berikutnya bagi Suriah adalah fase kerja dan pembangunan, bukan fase konflik,” tegasnya.
Terkait isu perbatasan antara Suriah dan Lebanon, al-Sharaa mengatakan pembahasannya akan dilakukan setelah situasi keamanan membaik. Untuk saat ini, prioritas utama tetap menghentikan eskalasi dan menciptakan landasan bagi kerja sama yang lebih konstruktif antara kedua negara. (haidar/andalusmedia.id)














