Kelompok teroris ISIS kembali mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan aparat keamanan Suriah di Kota Raqqa. Serangan tersebut terjadi pada Senin (15/6/2026) dan mengakibatkan satu anggota Pasukan Keamanan Internal Suriah tewas saat bertugas.
Dilansir dari Asharq Al-Awsat pada 16 Juni 2026, klaim tanggung jawab itu diumumkan ISIS sehari setelah Kementerian Dalam Negeri Suriah mengonfirmasi adanya upaya serangan terhadap markas komando Pasukan Keamanan Internal di Raqqa.
Menurut keterangan resmi pemerintah Suriah, dua anggota ISIS mencoba menyerang kamp atau markas keamanan yang menjadi pusat operasi aparat di kota tersebut. Namun, pasukan keamanan berhasil mendeteksi ancaman lebih awal dan melakukan tindakan cepat untuk menggagalkan serangan sebelum para pelaku mencapai sasaran utama mereka.
Meski serangan berhasil dihentikan, insiden tersebut tetap menelan korban jiwa. Seorang anggota keamanan Suriah dilaporkan gugur dalam bentrokan yang terjadi antara aparat dan para penyerang.
Pasukan Keamanan Suriah Gagalkan Serangan
Kementerian Dalam Negeri Suriah menjelaskan bahwa aparat keamanan langsung merespons ketika mendeteksi pergerakan mencurigakan di sekitar fasilitas keamanan di Raqqa.
Operasi pengamanan yang dilakukan berhasil mencegah para pelaku memasuki area markas dan menyebabkan bentrokan bersenjata. Setelah situasi terkendali, pasukan keamanan mengamankan lokasi dan melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada ancaman lanjutan.
Pihak berwenang menyebut tindakan cepat aparat berhasil menghindarkan kerugian yang lebih besar. Jika para penyerang berhasil mencapai target mereka, dampaknya diperkirakan bisa jauh lebih serius terhadap personel keamanan maupun fasilitas negara.
ISIS Masih Aktif Meski Kehilangan Wilayah
Serangan di Raqqa kembali menunjukkan bahwa ISIS masih memiliki kemampuan melakukan operasi keamanan meskipun kelompok tersebut telah kehilangan hampir seluruh wilayah yang pernah mereka kuasai di Suriah dan Irak.
Raqqa sendiri pernah menjadi pusat kekuasaan ISIS sebelum direbut kembali oleh pasukan anti-ISIS dalam operasi militer beberapa tahun lalu. Meski tidak lagi menguasai wilayah secara terbuka, kelompok itu masih mempertahankan jaringan bawah tanah dan sel-sel tidur di berbagai daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas ISIS lebih banyak dilakukan melalui serangan mendadak, penyergapan, peledakan bom, hingga penargetan aparat keamanan dan militer.
Para pengamat keamanan menilai strategi tersebut digunakan ISIS untuk menunjukkan bahwa mereka masih eksis sekaligus menjaga pengaruh di tengah tekanan yang terus diberikan oleh pasukan keamanan Suriah dan berbagai pihak lainnya.
Baca Artiekl Lainnya: Trump Sarankan Israel Biarkan Suriah Tangani Hizbullah di Lebanon
Operasi Anti-ISIS Terus Ditingkatkan
Pemerintah Suriah dalam beberapa bulan terakhir terus meningkatkan operasi keamanan di wilayah timur dan timur laut negara itu. Kawasan tersebut masih dianggap sebagai salah satu daerah yang rawan aktivitas kelompok ekstremis.
Pasukan keamanan secara rutin melakukan penggerebekan, patroli, dan operasi intelijen untuk memburu anggota ISIS yang masih bersembunyi di daerah gurun maupun wilayah terpencil.
Selain itu, aparat juga berupaya membongkar jaringan logistik dan sumber pendanaan yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas kelompok tersebut.
Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk mencegah ISIS membangun kembali kekuatan militernya dan mengurangi risiko serangan terhadap warga sipil maupun institusi negara.
Ancaman ISIS Belum Sepenuhnya Berakhir
Meski berbagai operasi keamanan berhasil melemahkan ISIS, insiden di Raqqa menjadi pengingat bahwa ancaman kelompok tersebut belum sepenuhnya hilang dari Suriah.
Keberadaan sel-sel tidur yang masih aktif membuat aparat keamanan harus tetap waspada terhadap kemungkinan serangan mendadak di berbagai wilayah.
Serangan terhadap markas Pasukan Keamanan Internal di Raqqa juga menunjukkan bahwa kelompok tersebut masih berusaha menargetkan simbol-simbol negara dan aparat keamanan sebagai bagian dari strategi mereka untuk menciptakan ketidakstabilan.
Dengan meningkatnya operasi keamanan dan kerja intelijen di berbagai wilayah, pemerintah Suriah berharap dapat menekan aktivitas ISIS serta mencegah kebangkitan kembali kelompok yang pernah menguasai sebagian besar wilayah negara itu. (haidar/andalusmedia.id)














