Perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Suriah kembali mencuat terkait masa depan Hizbullah di Lebanon. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyampaikan keyakinannya bahwa Suriah bisa mengambil peran dalam menghadapi Hizbullah. Namun di sisi lain, pemerintah Suriah menegaskan tidak memiliki rencana untuk melakukan intervensi di negara tetangganya tersebut.
Dilansir dari Syria TV pada 16 Juni 2026 pukul 14.11 waktu Damaskus dan diperbarui pada pukul 15.03 waktu setempat, Trump mengungkapkan bahwa dirinya pernah menyarankan kepada Israel agar Suriah dilibatkan dalam upaya menghadapi pengaruh Hizbullah di Lebanon.
Pernyataan itu disampaikan menjelang pelaksanaan KTT G7 dan langsung menarik perhatian karena muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Israel, Lebanon, Iran, dan berbagai kelompok sekutu Teheran di kawasan.
Dalam keterangannya, Trump juga mengkritik langkah militer Israel yang menargetkan wilayah pinggiran selatan Beirut dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, operasi tersebut bukan langkah yang tepat dan justru berpotensi memperburuk situasi keamanan di Lebanon.
“Saya mengatakan kepada Israel bahwa saya tidak menyukai serangan mereka terhadap Beirut,” kata Trump.
Ia bahkan secara terbuka menyampaikan ketidakpuasannya terhadap cara pemerintah Israel menangani konflik dengan Hizbullah. Menurut Trump, respons militer yang berlebihan dapat mempersulit upaya menjaga stabilitas kawasan.
Trump Yakin Konflik Lebanon Tak Ganggu Kesepakatan Iran
Di tengah memanasnya situasi di Lebanon, Trump tetap optimistis bahwa proses diplomasi antara Washington dan Teheran tidak akan terganggu.
Menurutnya, konflik yang terjadi di Lebanon merupakan persoalan terpisah dari pembahasan yang sedang berlangsung terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, termasuk isu program nuklir Teheran.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Trump masih berupaya memisahkan dinamika konflik regional dari agenda diplomasi yang lebih luas dengan Iran.
Meski demikian, banyak pengamat menilai ketegangan di Lebanon tetap memiliki potensi memengaruhi stabilitas kawasan secara keseluruhan, terutama karena keterlibatan Hizbullah yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu utama Iran.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan negaranya akan terus mempertahankan kehadiran militer di sejumlah wilayah strategis selama dianggap diperlukan.
Netanyahu menyebut operasi militer Israel akan tetap berlangsung di Gaza, Lebanon, dan Suriah demi menjaga kepentingan keamanan nasional Israel.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Tel Aviv belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi aktivitas militernya meskipun tekanan internasional untuk melakukan deeskalasi terus meningkat.
Baca Artikel Lainnya: AS-Iran Sepakat Damai, Timur Tengah Masuki Babak Baru Setelah Konflik Berbulan-bulan
Damaskus Tolak Tekanan untuk Hadapi Hizbullah
Di sisi lain, laporan Syria TV yang mengutip sumber diplomatik Lebanon mengungkap bahwa Amerika Serikat disebut sempat mencoba mendorong Suriah agar mengambil langkah terhadap Hizbullah di wilayah Bekaa, Lebanon.
Menurut sumber tersebut, Washington bahkan menawarkan sejumlah insentif ekonomi serta peluang kerja sama politik dan keamanan sebagai bagian dari upaya meyakinkan Damaskus.
Namun pemerintah Suriah memilih menolak usulan tersebut.
Otoritas Suriah disebut tetap berpegang pada prinsip untuk tidak terlibat dalam operasi militer maupun keamanan di Lebanon. Sikap itu dipertahankan meskipun berbagai komunikasi dan pendekatan diplomatik terus dilakukan dalam beberapa waktu terakhir.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Suriah saat ini berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konflik yang dapat memperluas ketegangan regional.
Ahmed al-Sharaa Sebut Isu Intervensi Hanya Rumor
Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, sebelumnya juga telah membantah berbagai laporan yang menyebut negaranya sedang mempertimbangkan operasi militer di Lebanon.
Dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh dan pejabat lokal di wilayah pedesaan Damaskus, al-Sharaa menegaskan bahwa kabar mengenai kemungkinan intervensi Suriah tidak memiliki dasar yang benar.
Menurutnya, informasi tersebut hanyalah rumor yang beredar di media dan tidak mencerminkan kebijakan resmi pemerintah Suriah.
Al-Sharaa menegaskan bahwa Damaskus tidak memiliki rencana mengirim pasukan ataupun terlibat dalam operasi keamanan di wilayah Lebanon.
Pernyataan itu sekaligus memperjelas posisi Suriah yang ingin menjaga hubungan baik dengan Lebanon tanpa harus masuk ke dalam konflik yang sedang berlangsung.
Dengan masih adanya perbedaan pandangan antara Washington, Damaskus, dan Tel Aviv terkait Hizbullah, isu ini diperkirakan akan terus menjadi bagian penting dalam dinamika politik Timur Tengah. Di tengah perubahan geopolitik yang berlangsung cepat, sikap Suriah untuk tidak ikut campur di Lebanon menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah perkembangan kawasan dalam beberapa bulan ke depan. (haidar/andalusmedia.id)














