Hampir tiga bulan setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, pemerintah Iran akhirnya mengumumkan rangkaian upacara pemakaman resmi yang akan berlangsung pada awal Juli mendatang. Prosesi ini diperkirakan menjadi salah satu peristiwa politik dan keagamaan terbesar dalam sejarah modern Republik Iran.
Panitia penyelenggara peringatan mendiang pemimpin Iran tersebut mengumumkan bahwa upacara pemakaman akan dimulai pada 4 Juli 2026 di ibu kota Teheran dan berakhir dengan pemakaman pada 9 Juli di kota suci Mashhad, wilayah timur laut Iran, sebagaimana dilansir dari Al-Jazeera.
Pengumuman ini mengakhiri berbagai spekulasi mengenai waktu dan lokasi pemakaman Khamenei, yang sebelumnya tertunda akibat situasi perang dan ketegangan regional pasca-konflik besar antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ali Khamanei Tewas dalam Serangan Amerika
Ali Khamenei tewas pada 28 Februari 2026 dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam Teheran pada awal pecahnya perang regional. Serangan tersebut menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Timur Tengah modern dan mengguncang fondasi politik Republik Iran.
Selama hampir empat dekade, Khamenei memegang posisi tertinggi dalam struktur politik Iran. Sejak menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989, ia menjadi figur sentral yang menentukan arah kebijakan luar negeri, militer, dan ideologi negara.
Kematian mendadaknya menimbulkan reaksi yang beragam. Di kalangan pendukung pemerintah, wafatnya Khamenei dipandang sebagai kehilangan besar bagi Republik Islam. Namun di sisi lain, sebagian kelompok oposisi dan warga Iran yang selama ini menentang pemerintah menyambut peristiwa tersebut dengan harapan akan lahirnya perubahan politik di negara itu.
Prosesi Pemakaman Dimulai dari Teheran
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa upacara resmi akan dimulai di Mushala Imam Khomeini di Teheran pada 4 Juli. Tempat ini selama bertahun-tahun menjadi lokasi berbagai acara kenegaraan dan peringatan besar Republik Iran.
Prosesi akan mencakup penghormatan terakhir kepada Khamenei, diikuti arak-arakan pemakaman yang melintasi sejumlah ruas utama ibu kota. Pemerintah Iran memperkirakan jutaan warga akan menghadiri acara tersebut.
Mohsen Mahmoudi, kepala Dewan Koordinasi Propaganda Teheran, mengungkapkan bahwa sebuah markas khusus telah dibentuk untuk mempersiapkan seluruh rangkaian upacara.
Menurutnya, berbagai lembaga pemerintah, organisasi keagamaan, dan aparat keamanan tengah bekerja sama guna memastikan pelaksanaan pemakaman berjalan lancar dan mampu menampung partisipasi masyarakat dalam jumlah besar.
“Semua persiapan dilakukan agar upacara ini berlangsung secara layak dan memungkinkan kehadiran luas masyarakat,” ujarnya sebagaimana dikutip media pemerintah.
Qom dan Mashhad Menjadi Tujuan Akhir
Setelah prosesi di Teheran, rangkaian penghormatan akan berlanjut ke kota suci Qom, pusat pendidikan keagamaan Syiah di Iran. Kota ini memiliki makna simbolis yang sangat besar dalam tradisi politik dan keagamaan Republik Islam.
Puncak prosesi akan berlangsung pada 9 Juli di kota Mashhad, tempat Khamenei akan dimakamkan di kompleks makam Imam Reza, salah satu situs paling suci bagi umat Syiah di dunia.
Pemakaman di Mashhad memiliki nilai simbolis tersendiri. Selain merupakan kota kelahiran Khamenei, Mashhad juga menjadi pusat spiritual penting yang setiap tahunnya dikunjungi jutaan peziarah.
Era Baru di Bawah Mojtaba Khamenei
Tidak lama setelah wafatnya Ali Khamenei, Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama memilih putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru.
Keputusan ini segera memicu perdebatan, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagian kalangan melihat pengangkatan Mojtaba sebagai upaya menjaga kesinambungan sistem politik Iran, sementara para pengkritik menilai langkah tersebut menyerupai pewarisan kekuasaan dalam sistem yang secara resmi menolak monarki.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya disebut menganggap pencalonan Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima”. Meski demikian, otoritas Iran tetap melanjutkan proses transisi kepemimpinan.
Sejak diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi, Mojtaba Khamenei telah mengeluarkan sejumlah pesan resmi kepada rakyat Iran. Namun hingga kini, ia belum pernah tampil secara langsung di hadapan publik. Ketidakhadirannya memunculkan berbagai spekulasi, terutama karena laporan sebelumnya menyebut ia juga terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya.
Iran di Persimpangan Sejarah
Pemakaman Ali Khamenei bukan sekadar acara penghormatan bagi seorang pemimpin negara. Bagi Iran, momen ini menandai berakhirnya satu era politik yang telah berlangsung selama hampir 37 tahun.
Di tengah upaya pemulihan pascaperang dan proses transisi kepemimpinan, Republik Islam kini memasuki fase baru yang penuh tantangan. Dunia internasional akan mengamati dengan saksama apakah kepemimpinan baru di bawah Mojtaba Khamenei mampu mempertahankan stabilitas internal sekaligus membuka babak baru hubungan Iran dengan kawasan dan dunia.
Pemakaman yang akan berlangsung pada Juli mendatang diperkirakan menjadi penutupan era Ali Khamenei, seorang tokoh yang bagi pendukungnya dianggap penjaga revolusi, tetapi bagi para pengkritiknya sebagai arsitek sistem yang membatasi ruang politik Iran selama puluhan tahun. (ahmad/andalusmedia.id)














