Sebanyak 422 aktivis kemanusiaan Freedom Flotilla akhirnya tiba di Bandara Internasional Istanbul, Turki, Kamis 21 Mei 2026, setelah dideportasi otoritas Israel menyusul penahanan armada bantuan kemanusiaan di perairan internasional. Kedatangan mereka langsung memicu gelombang perhatian dunia karena banyak relawan dilaporkan mengalami luka dan dugaan kekerasan selama berada dalam tahanan.
Operasi pemulangan besar-besaran itu dilakukan menggunakan tiga pesawat Turkish Airlines yang dikerahkan pemerintah Turki. Proses evakuasi dikawal langsung Kementerian Luar Negeri Turki bersama staf diplomatik di Tel Aviv untuk memastikan seluruh relawan internasional bisa keluar dengan aman dari wilayah Israel.
Para aktivis berasal dari lebih dari 40 negara dan merupakan bagian dari misi kemanusiaan Freedom Flotilla yang berupaya menembus blokade menuju Jalur Gaza. Setibanya di Istanbul, mereka disambut massa pendukung Palestina, pejabat pemerintah Turki, hingga tim hukum yang kini mulai menyiapkan langkah gugatan internasional terhadap Israel.
Suasana di bandara penuh emosi. Beberapa relawan terlihat menangis saat bertemu rekan dan keluarga mereka. Sejumlah korban bahkan harus dibawa menggunakan ambulans dan ranjang medis akibat kondisi fisik yang memburuk setelah penahanan.
Kesaksian para aktivis memunculkan sorotan internasional. Banyak peserta menceritakan dugaan penyiksaan fisik, intimidasi, hingga perlakuan tidak manusiawi selama berada dalam tahanan militer Israel.
Freedom Flotilla diketahui memulai pelayaran dari Pelabuhan Marmaris, Turki, pada 14 Mei 2026. Armada bantuan itu sebelumnya telah menempuh perjalanan selama lima pekan sejak bertolak dari Barcelona, Spanyol, dalam misi membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza.
Namun perjalanan mereka dihentikan setelah pasukan Israel mencegat rombongan kapal di perairan internasional sebelah barat Siprus, ratusan kilometer dari Jalur Gaza. Penahanan tersebut memicu kecaman dari berbagai organisasi kemanusiaan dan aktivis internasional.
Salah satu relawan, Dr. Margaret Connolly, mengungkapkan bahwa puluhan warga sipil ditempatkan di dalam kontainer logam tanpa fasilitas memadai selama beberapa hari. Kondisi panas dan minim ventilasi disebut membuat banyak tahanan mengalami gangguan kesehatan.
Aktivis asal Kanada, Ihab Latif, memperlihatkan luka tusukan di tangannya. Ia mengaku mengalami kekerasan saat membantu menerjemahkan instruksi dan membagikan air kepada tahanan lain.
Kesaksian lain datang dari seorang aktivis bernama Majid yang mengaku ditembak peluru karet dari jarak dekat dan tidak memperoleh bantuan medis selama berjam-jam setelah kejadian.
Sementara itu, aktivis Kanada lainnya, Michael Francis, menyebut para tahanan dipaksa tidur di lantai besi kapal dan mengalami perlakuan kasar sepanjang perjalanan penahanan.
Baca Artikel Lainnya: Turki Bantu Pulangkan 9 WNI usai Ditahan Israel dalam Insiden Global Sumud Flotilla
Aktivis perempuan juga melaporkan adanya tindakan kekerasan fisik serta intimidasi yang disebut merendahkan martabat manusia. Kesaksian tersebut kini sedang dikumpulkan oleh otoritas hukum Turki sebagai bagian dari dokumen investigasi resmi.
Gelombang kecaman internasional terus bermunculan. Sejumlah negara Eropa dilaporkan mulai memanggil diplomat Israel untuk meminta penjelasan terkait pencegatan kapal bantuan dan perlakuan terhadap para relawan internasional.
Sorotan publik semakin tajam setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang memperlihatkan dirinya memantau proses penahanan para aktivis. Video tersebut memicu kemarahan publik di media sosial dan memperbesar tekanan terhadap pemerintah Israel.
Pemerintah Turki kini mengambil langkah hukum serius. Kejaksaan Agung Istanbul mulai memeriksa para korban dan mengumpulkan kesaksian resmi yang akan dijadikan bagian dari gugatan internasional terkait dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Laporan media Turki bahkan menyebut sistem peradilan negara itu telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap lebih dari 30 pejabat tinggi Israel. Nama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, disebut masuk dalam daftar bersama Itamar Ben-Gvir dan sejumlah pejabat militer lainnya.
Meski tiba dalam kondisi fisik menurun, para aktivis tetap menunjukkan solidaritas terhadap Palestina. Mereka keluar dari area kedatangan bandara sambil mengangkat simbol kemenangan dan meneriakkan slogan “Free Palestine”.
Perwakilan delegasi menyebut penderitaan yang mereka alami belum sebanding dengan situasi warga Palestina di Jalur Gaza yang hingga kini masih menghadapi blokade dan konflik berkepanjangan. (haidar/andalusmedia.id)














